Unpak Siapkan Lulusan Berkarakter

Unpak Siapkan Lulusan Berkarakter

Unpak Siapkan Lulusan Berkarakter

Unpak Siapkan Lulusan Berkarakter

Universitas Pakuan (Unpak) menggelar wisuda gelombang pertama 2019

di Gedung Braja Mustika, kemarin.

Berbeda dengan wisuda sebelumnya, dalam sidang senat terbuka gelombang pertama tahun ini, Unpak menyiapkan lulusan yang memiliki kemampuan society 5.0 dilengkapi pendidikan agama dan karakter. Hal tersebut, kata Rektor Bibin Rubini, untuk mewujudkan Indonesia emas 2045.

Usia emas tersebut, kata Bibin, harus diisi generasi milenial dan alpha, memiliki kemampuan komponen-komponen revolusi industri yang harus disiapkan dari sekarang. Perkembangan teknologi semakin tak terbendung, sehingga memaksa untuk mengasah kompetensi diri dan dapat mengimbanginya.

“Siapkan lulusan yang punya kemampuan 5.0, yang dibekali pendidikan agama

dan karakter . Karena tidak menutup kemungkinan, kemajuan teknologi akan semakin liar dan bisa digunakan ke hal negatif,” ungkap Bibin kepada Radar Bogor, kemarin. Dengan pendidikan agama dan karakter, katanya, sebagai kontrol dan soft skills yang akan membawa kepentingan bersama.

Salah satu cara menanamkan karakter, menurut Bibin, dengan menularkan kearifan lokal, Jawa Barat, sebagai trilogi yang masih relevan hingga saat ini. “Yakni silih asih, asah, asuh dan silih wangi, merupakan trilogi yang harus dijadikan pegangan dan nasehat untuk semua. Bila semuanya dapat diterapkan akan tercipta harmonisasi antar manusia,” jelasnya.

Trilogi tersebut adalah pegangan hidup dan bermasyarakat, yang merupakan warisan leluhur

. Sehingga, memasuki era 5.0, Indonesia lebih siap dengan berbagai kemampuan yang dimiliki dan mampu menerapkan dengan benar. Mampu mengendalikan teknologi, agar perkembangannya selalu ke arah yang lebih baik dan positif.

“Kalo punya rasa jujur, displin, bisa bergaul , itu bagian dari soft skills, kebutuhan dan penyeimbang pengetahuan serta mampu membawa pada kesuksesan,” tambah Bibin.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV, Prof Dr. Uman Suherman. Menurutnya, lulusan yang dapat bersaing di dunia kerja dan sukses tidak hanya memiliki ilmu, mengantongi IPK tinggi, juga memiliki karakter yang baik dan siap bersaing.

“Saya setuju dengan Rektor, Bibin Rubini. Lulusan ga cuma punya IPK tinggi, pintar dan cerdas tapi punya jaringan, semangat kompetensi,” ungkap Uman Suherman.

Gelombang pertama tahun ini, Unpak mewisuda 515 lulusan. Terdiri dari, program Pascasarjana S3 empat wisudawan, S2 ada 21 orang, S1 dari berbagai fakultas berjumlah 485 dan lulusan dari Diploma 3 (D3) lima orang

 

Sumber :

https://www.sudoway.id/

Guru, Ujung Tombak Penyiapan Calon Generasi Emas

Guru, Ujung Tombak Penyiapan Calon Generasi Emas

Guru, Ujung Tombak Penyiapan Calon Generasi Emas

Guru, Ujung Tombak Penyiapan Calon Generasi Emas

Ketika saya membaca dan berkunjung ke blog sahabat, salah satunya milik adjatwiratma (adjatwiratma.wordpress.com), sebelumnya saya sudah sering mendengar cerita tentang Kaisar Akihito yang menanyakan berapa jumlah guru setelah Perang Dunia II. Berikut petikannya:
Ketika Jepang (nyaris) luluh-lantak akibat Perang Dunia II, Kaisar Jepang saat itu bertanya kepada Jenderal Angkatan Perang-nya, “Berapa jumlah guru yang masih tersisa?”
(Kaisar tidak bertanya tentang jumlah prajurit yang masih tersisa). Kaisar Jepang sepertinya sadar bahwa untuk membangun masa depan negara yang dipimpinnya, peran guru tidak dapat diabaikan. Perhatian Kaisar terhadap pendidikan itu pula membuat Jepang tumbuh dan berkembang menjadi bangsa yang maju, beradab dan berbudaya.
 
Kalau pemimpin negara kita yang terpilih akan bertanya seperti Kaisar Akihito, berapa jumlah guru di Indonesia? Maka jawabannya kita tidak kekurangan jumlah guru. Jumlah guru di Indonesia banyak apalagi bila ditambah guru swasta dan guru honorer atau wiyata bakti. Lantas bagaimana mewujudkan Indonesia menjadi bangsa yang maju, beradab dan berbudaya? Nah, pertanyaan ini dijawab: dibutuhkan guru-guru yang profesional dan berdedikasi.
Berdedikasi adalah kemampuan guru dalam menjalankan tugas pekerjaaannya melalui peran dan fungsinya, kinerja, pengabdian, kesetiaan pada lembaga, berjasa pada negara, maupun menciptakan karya yang bermanfaat (inovatif) atau kreatif untuk memecahkan permasalahan dalam pelaksanaan tugasnya dengan ikhlas dan penuh tanggungjawab melaui pendidikan serta mempunyai nilai manfaat untuk mencerdaskan dan membangun karakter generasi bangsa berwawasan NKRI.
Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan bahwa: “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengrahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah”.
Ada 4 macam kompetensi yang harus dimiliki seorang pendidik dan pengajar profesional diantaranya:
1. Kompetensi Pedagogik
2. Kompetensi Kepribadian
3. Kompetensi Profesional
4. Kompetensi Sosial

Guru profesional memiliki 10 ciri utama yaitu :
1. Selalu Memiliki Energi untuk Siswanya
2. Memiliki Tujuan Jelas untuk Pelajaran
3. Menerapkan Kedisiplinan
4. Memiliki Manajemen Kelas yang Baik
5. Menjalin Komunikasi dengan Orangtua siswa
6. Menaruh Harapan Tinggi pada Siswa
7. Mengetahui Kurikulum Sekolah
8. Menguasai Materi yang Diajarkan
9. Selalu Memberikan yang Terbaik bagi Siswa
10. Memiliki Hubungan Berkualitas dengan Siswa (www.jembersantri.com/2013/08/10-ciri-ciri-guru-profesional).

Guru berdedikasi dan profesional sebagaimana di atas harus tetap dapat menjawab tantangan jaman dan globalisasi, karena ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Sebagaimana dimuat dalam website ISPI (ispi.or.id), menurut Makagiansar (1996) memasuki abad 21 pendidikan akan mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma:
  • (1) dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat,
  • (2) dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik,
  • (3) dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan,
  • (4) dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus pendidikan nilai,
  • (5) dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buta teknologi, budaya, dan komputer,
  • (6) dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja,
  • (7) dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama.
Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut jelas terlihat bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif. Oleh karena itu Guru profesional dan berdedikasi jangan tertinggal sebab guru merupakan dambaan siswa juga dambaan semua orang. Dengan itu maka cita-cita mewujudkan generasi emas 2045 akan terwujud.

SMA Swasta YPKPM Ambon Gelar Bina Karakter Gudep

SMA Swasta YPKPM Ambon Gelar Bina Karakter Gudep

SMA Swasta YPKPM Ambon Gelar Bina Karakter Gudep

SMA Swasta YPKPM Ambon Gelar Bina Karakter Gudep

SMA Swasta Yayasan Pendidikan Kristen Protestan Maluku (YPKPM) Ambon

, untuk kedua kalinya menggelar kegiatan Bina Karakter Gugus Depan Pramuka (Gudep).

Kegiatan Bina Karakter Gugus Depan Pramuka ini berlokasi di Bumi Perkemahan Lori Tua, desa Suli kecamatan Salahutu kabupaten Maluku Tengah terhitung tanggal 16 sampai 18 Pebruari 2018.

“Ini merupakan angkatan kedua dan sudah 300 lebih siswa pada sekolah ini yang dididik melalui kegiatan Bina Karakter Gugus Depan Pramuka,”kata Kepala SMA Swasta YPKPM Ambon Dra. Lani Laturiuw, M.Si di Ambon, Jumat (16/2/2018).

Sebanyak 196 siswa/siswa SMA Swasta YPKPM Ambon akan dididik karakter mereka pada kegiatan Bina Karakter Gugus Depan Pramuka di desa Suli selama tiga hari.
Para Pembina Pramuka

Sebelumnya dilakukan upacara pelepasan di halaman SMA Swasta YPKPM

Ambon pada Jumat (16/2/2018), dengan inspektur upacara Dra. Lani Laturiuw, M.Si.

Laturiuw katakan, sebagai sekolah pelaksana Kurikulum 2013 (K-13) dan Pramuka sebagai scool wajib, maka even ini merupakan salah satu kegiatan Pramuka blok.

Menurutnya, melalui kegiatan ini maka siswa/siswi SMA Swasta YPKPM Ambon bisa di bina karakternya, walaupun pihak sekolah sudah menuansa spiritualitas namun itu bukan satu satunya, melainkan perlu ditambah dengan kegiatan Pramuka untuk bisa membina karakter siswa.

Sesuai amanat PP Nomor 87 Tahun 2017 tentang Pendidikan Muatan Karakter

, maka sekolah ini dapat mewujudkannya melalui kegiatan Bina Karakter Gugus Depan Pramuka seperti ini.

“Tujuannya, agar nilai-nilai karakter dapat teraktualisasi dalam kehidupan para siswa,”ucapnya.
Peserta Bina Karakter Gudep

Sebanyak 196 siswa/siswi yang mengikuti kegiatan ini semuanya kelas X, dan ini merupakan kegiatan wajib yang dilaksanakan sekali dalam setahun.

Harapannya, kegiatan ini tidak sekedar untuk merealisasikan program saja, melainkan betul-betul nilai karakter dapat terinternalisasi dalam jiwa para siswa, sehingga ke depan mereka menjadi generasi yang kuat dan hebat.(TM02)

 

Baca Juga :

SMPN 4 Siap Laksanakan Implementasi K-13

SMPN 4 Siap Laksanakan Implementasi K-13

SMPN 4 Siap Laksanakan Implementasi K-13

SMPN 4 Siap Laksanakan Implementasi K-13

Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Ambon sudah siap melaksanakan

Implementasi Kurikulum 2013 (K-13) dalam tahun ajaran 2017-2018.

Hal ini karena ditunjang dengan berbagai sarana dan prasarana (Sarpras) seperti; di setiap ruang kelas telah memliki LCD, para guru sudah mempersiapkan diri, termasuk buku-buku penunjang juga sudah dipersiapkan.

Ditemui di ruang kerjanya Kamis (18/1/2018), Kepala SMP Negeri 4 Ambon O

. Sitaniapessy, S.Pd mengungkapkan, tidak ada masalah dalam Implementasi Kurikulum 2013 pada SMP Negeri 4 Ambon dalam tahun ajaran 2017-2018.

Selain itu, SMPN 4 ditunjuk sebagai Induk Klaster K-13, karena ada penambahan 18 sekolah yang ditunjuk oleh Kemedikbud untuk melaksanakan Implementasi Kurikulum 2013.

“Jadi kami ditunjuk sebagai koordinatornya, dimana kami sudah melakukan Bimbingan Teknis

(Bimtek) untuk 198 guru dari 18 sekolah tersebut, yang nantinya siap melaksanakan Implementasi Kurikulum 2013,”ulasnya.

Pelaksanaan Impelmentasi K-13 di SMP Negeri 4 Ambon dan 18 sekolah lainnya yang ditunjuk Kemendikbud, kata Sitaniapessy tidak ada masalah karena ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai.(TM04)

 

Sumber :

https://chicagobearsjerseyspop.com/sejarah-gedung-sate/

SMAN 1 Ambon Peroleh Nilai Tertinggi UN Di Maluku

SMAN 1 Ambon Peroleh Nilai Tertinggi UN Di Maluku

SMAN 1 Ambon Peroleh Nilai Tertinggi UN Di Maluku

SMAN 1 Ambon Peroleh Nilai Tertinggi UN Di Maluku

Nilai tertinggi Ujian Nasional (UN) siswa SMA/SMK/MA di Provinsi Maluku

tahun ajaran 2017/2018 jatuh pada SMA Negeri 1 Ambon, dengan pencapaian nilai rengking sekolah 334.00, dengan mata pelajara (Mapel) yang di peroleh untuk Bahasa Indonesia 86.00, Bahasa Inggris 88.00.

Progress hasil UN secara umum di Provinsi Maluku tahun ajaran 2017/2018 yaitu: nilai rata-rata Ujian Nasional tingkat SMA/MA 46,45, sementara nilai rata-rata tingkat SMK 51,19.

Perolehan nilai per jurusan untuk program IPA nilai tertinggi 92,50 dengan rincian untuk mata pelajaran (Mapel) Bahasa Indonesia 94, Bahasa Inggris 94, Matematika 87,50 dan mapel jurusan (minat) 92,50.

Sedangkan nilai terendah adalah untuk mapel Bahasa Indonesia 18,

Bahasa Inggris 12, Matematika 7,5 dan mapel jurusan 7,5,”kata Kepala Dinas Dikbud Maluku Drs. M. Saleh Thio, M.Si di Ambon, Rabu (2/5/2018) kemarin.

Untuk jurusan IPS tertinggi mapel Bahasa Indonesia 94, Bahasa Inggris 92, Matematika 70 dan jurusan 80. Sementara terendahnya Bahasa Indonesia 16, Bahasa Inggris 8, Matematika 7,5 dan jurusan 10.

Tingkat SMK nilai tertinggi mapel Bahasa Indonesia 98, Bahasa Inggris 92, Matematika 92,50 dan jurusan 85. Terendah mapel Bahasa Indonesia 16, Bahasa Inggris 8, Matematika 7,5 dan jurusan 7,5.

Dikatakan, peserta UN di Provinsi Maluku berjumlah 31.342 siswa baik SMA/SMK/MA

dengan sekolah penyelenggaran UN sebanyak 441 sekolah.

Jika dirinci untuk SMA/MA jumah siswa 25.195 dan jumlah sekolah yang melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 82 sekolah dengan jumlah peserta 8.367 siswa. Sedangkan Ujian Nasional Kertas Pinsil (UNKP) 250 sekolah dengan jumlah peserta 16.828 47 siswa.

Untuk SMK jumlah siswa yang mengikuti UN sebanyak 6.147 siswa dengan rincian UNBK 62 sekolah dengan jumlah peserta 4.689 siswa dan UNKP 47 sekolah dengan peserta 1.458 siswa.(TM02)

 

Sumber :

https://chicagobearsjerseyspop.com/niat-mandi-wajib/

Lahirnya Televisi Sebagai Sarana Edukasi

Lahirnya Televisi Sebagai Sarana Edukasi

Lahirnya Televisi Sebagai Sarana Edukasi

Lahirnya Televisi Sebagai Sarana Edukasi

Hari ini, 22 tahun yang lalu, tepatnya 21 November 1996, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

mengadakan forum pertelevisian Sedunia. PBB pun memperingati forum tersebut sebagai sebagai Hari Televisi Sedunia.

Bukan tanpa alasan PBB mendeklarasikan hal tersebut. Dilansir timeanddate.com, PBB mengakui bahwa televisi dapat digunakan untuk mendidik banyak orang tentang dunia, isu-isu dan kisah nyata yang terjadi di dunia

Televisi adalah salah satu bentuk media yang paling berpengaruh untuk komunikasi

dan penyebaran informasi. Ini digunakan untuk menyiarkan kebebasan berekspresi dan meningkatkan keragaman budaya. PBB menyadari bahwa televisi memainkan peran utama dalam menghadirkan isu-isu global yang mempengaruhi orang dan ini perlu ditangani.

Pada 17 Desember 1996, Majelis Umum PBB mengumumkan 21 November sebagai Hari Televisi Dunia untuk memperingati tanggal diselenggarakannya Forum Televisi Dunia pertama pada awal tahun itu. PBB mengundang semua negara anggota untuk mengamati hari itu dengan mendorong pertukaran program televisi global yang berfokus, antara lain, pada isu-isu seperti perdamaian, keamanan, pembangunan ekonomi dan sosial dan peningkatan perubahan budaya.

Hari Televisi Dunia adalah hari untuk memperbarui pemerintah, organisasi

dan komitmen individu untuk mendukung pengembangan televisi media dalam memberikan informasi yang tidak bias tentang isu-isu penting dan peristiwa yang mempengaruhi masyarakat.

Penetrasi

Lembaga pendidikan dapat menandai Hari Televisi Dunia di kalender mereka dan pendidik dapat menggunakan kesempatan ini untuk mengundang pembicara tamu untuk masalah media dan komunikasi yang terkait dengan televisi. Topik diskusi dapat meliputi: bagaimana televisi mempromosikan keanekaragaman budaya dan pemahaman bersama; hubungan antara demokrasi dan televisi; dan peran televisi dalam perkembangan sosial, politik dan ekonomi.

Dikutip dari katadata.co.id, Televisi masih menjadi media utama bagi masyarakat Indonesia. Hal ini tercermin dari survei Nielsen Consumer Media View (CMV) yang menunjukkan bahwa penetrasi televisi mencapai 96 persen. Di urutan kedua media luar ruang dengan penetasi 53 persen, internet (44 persen), dan di posisi ketiga radio (37 persen). Sehingga menjadi perlu perhatian yang lebih terhadap tayangan yang dihadirkan oleh stasiun televisi agar sesuai dengan tujuan yang dicapai pada proses kelahirannya : sebagai wadah informasi dan edukasi.

 

Baca Juga :

Belajar Bahasa Inggris dengan Metode Revolt ala SMKN 4 Bandung

Belajar Bahasa Inggris dengan Metode Revolt ala SMKN 4 Bandung

Belajar Bahasa Inggris dengan Metode Revolt ala SMKN 4 Bandung

Belajar Bahasa Inggris dengan Metode Revolt ala SMKN 4 Bandung

SMK Negeri 4 Bandung menyelenggarakan Pelatihan Revolusioner Keterampilan

Berbahasa Inggris Metode Revolt yang cepat dan praktis. Pelatihan ini merupakan salah satu program Technopark SMK Negeri 4 Bandung yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa dan alumni.

“Kita sudah belajar bahasa inggris lama. Sudah bertahun-tahun belajar bahasa inggris, dari SMP, SMA, tetapi ternyata kalau diaplikasikan terkadang banyak yang tidak bisa mengungkapkan. Mungkin metode pembelajarannya yang begitu,” ujar Direktur Penanggung Jawab Technopark SMK Negeri 4 Bandung, Agus Muslihin, saat ditemui di SMK Negeri 4 Bandung, Jalan Kliningan No.6, Turangga, Kota Bandung, pada Kamis (10/1/2019).

Pelatihan bahasa inggris ini dilaksanakan dalam rangka kerjasama antara SMK Negeri 4

Bandung dengan lembaga pelatihan bahasa inggris menggunakan metode berbeda dengan pembelajaran di kelas. Pelatihan dilaksanakan selama lima hari dimulai pada 3 Januari 2018 dan diikuti oleh 29 orang siswa serta 10 guru. Terdapat tiga sesi yang diikuti peserta perharinya. Walaupun dengan waktu yang singkat, Agus mengatakan hasilnya banyak peserta yang sudah bisa berkomunikasi di depan umum.

“Lima hari itu full. Dalam satu hari terdiri dari tiga sesi. Pagi 7.30 hingga pukul 15.00 sore. Jadi ada 15 sesi. Ternyata memang hasilnya yang tidak bisa mengungkapkan (berbicara dengan bahasa inggris) ternyata bisa sampai berbicara di depan umum,” ujarnya.

Salah satu peserta pelatihan, siswa kelas 10 jurusan Rekayasa Perangkat Lunak

, Fauzi Ladzuardhi R mengatakan, metode yang diajarkan lebih mudah dipahami. Apalagi para peserta diberikan motivasi sehingga percaya diri dalam berbicara dalam bahasa inggris.

“Materinya sudah diringkas sedemikian rupa sehingga mudah dicerna,” ujar Fauzi.

Pelatihan ditutup dengan demo dari para peserta. Peserta menampilkan keahlian bahasa inggrisnya di depan para tamu undangan yang terdiri dari kepala sekolah SMK di Bandung. Sekaligus memperkenalkan pelatihan bahasa inggris program Technopark SMK Negeri 4 Bandung.***

 

Sumber :

https://nashatakram.net/fardu-rukun-shalat/

Lilly The Litte Hope, Film Animasi Karya Siswa SMKN 1 Ciomas

Lilly The Litte Hope, Film Animasi Karya Siswa SMKN 1 Ciomas

Lilly The Litte Hope, Film Animasi Karya Siswa SMKN 1 Ciomas

Lilly The Litte Hope, Film Animasi Karya Siswa SMKN 1 Ciomas

Namaku Lilly, aku hidup bersama keluarga kecilku. Tapi Ibuku meninggal

saat aku masih kecil. Dan sejak itu, aku takut untuk keluar rumah

Itulah narasi dalam teaser film animasi berjudul “Lilly The Litte Hope” karya Siswa SMK Negeri 1 Ciomas, Fakhri Muzaki Ramadhan. Diunggah di media sosial YouTube pada akhir tahun 2018, video tersebut telah di tonton 8.300 pasang mata. Hal tersebut menjadi pembuktian bahwa Siswa SMK memiliki kompetensi di bidang keahlian yang ditekuni.

Fakri mengakatan, film pendek tersebut merupakan karya yang harus dia buat untuk memenuhi tugas uji kompetensi keahlian di sekolah. Proses penggarapan memakan waktu satu semester lebih untuk melakukan persiapan hingga penyelasaian. “Ide sendiri udah muncul saat duduk di semester akhir kelas XI, tapi mulai eksekusi pas udah masuk kelas XII,” tutur siswa jurusan Animasi tersebut, saat dihubungi via daring, Selasa, (8/1/2019)

Mengenai ide cerita, Fakhri menyelaraskan dengan keahlian teknis yang dia miliki

. Maka dari itu, ia memilih tema yang sederhana namun dapat digarap dengan baik sesuai dengan kapasitasnya. “Karena saya masih belajar, jadi harus mikirin konten (ide ceirta) yang sesuai sama kemampuan, percuma kalau ide ceritanya bagus tapi kemampuan teknis yang kita miliki belum maksimal,” tambahnya.

Fakhri menjelaskan, film pendeknya menceritakan tentang petualangan seorang anak kecil yang harus hidup tanpa orang tuanya sejak kecil. Lebih jauh, ide cerita yang dia tuangkan akan lebih luas. “FIlm ini juga menceritakan tentang kehidupan sosial, serta memotivasi agar mampu untuk selalu berjuang dalam menjalani kehidupan, seperti judulnya, kita harus memiliki harapan,” imbuhnya.

Fakrhi pun menjanjikan, di film pendek berdurasi 10 menit tersebut akan banyak

menampilkan tampilan gambar yang imajinatif. “Melalui animasi, kita harus menuangkan ide yang enggak bisa dituangin di dunia nyata, jadi nanti akan ada shoot yang lebih imajinatif dan penuh fantasi,” ucap siswa yang mengidolakan Roni Gani, Animator asal Indonesia.

Ketua Program Animasi SMKN 1 Ciomas, Januar Ashari mengatakan, selain sebagai tugas, pembuatan film animasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa di bidang yang ditekuni. “Hasilnya tentu beraneka ragam, sesuai dengan passion dan ketekukan mereka. Namun kami dari pihak sekolah selalu memberi fasilitas semaksimal mungkin, memberi stimulus kepada siswa, serta memberikan jam pelayan di luar jam kegiatan belajar mengajar,” ucapnya via daring, Selasa (8/1/2019).

Film pendek Karya Fakhri dan siswa jurusan Animasi SMKN 1 Ciomas lainnya akan dirilis pada pertengahan Februari mendatang, bertetapan dengan pengumpulan tugas uji kompetensi keahlian siswa jurusan Animasi di sekolah tersebut.***

 

Sumber :

https://solopellico3p.com/pengertian-shalat/

Asal Usul Nama Hari dan 7 Hari Dalam Sepekan

Asal Usul Nama Hari dan 7 Hari Dalam Sepekan

Asal Usul Nama Hari dan 7 Hari Dalam Sepekan

Asal Usul Nama Hari dan 7 Hari Dalam Sepekan

Penamaan hari dan jumlahnya dalam satu minggu tak lepas dari perkembangan peradaban manusia.

Awalnya perkembangan peradaban terutama dalam hal astronomi memegang prinsip bahwa bumi adalah pusat dari benda-benda langit atau sering disebut Geosentris. Pendapat ini mempengaruhi seluruh pikiran dan kebijakan manusia pada masa tersebut. Orang-orang dahulu juga percaya bahwa benda-benda langit mempengaruhi kehidupan di bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terdekat sampai dengan yang terjauh

Pada masa tersebut mereka percaya bahwa di langit pertama ada bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius . Venus  berada di langit ke tiga dan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars . Di langit ke enam ada Jupiter serta langit ke tujuh ditempati Saturnus.

Orang-orang dahulu juga percaya bahwa ke tujuh benda-benda langit itu mempengaruhi kehidupan di bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh, Saturnus, sampai yang terdekat, bulan. Karena itu hari pertama itu disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris atau Doyoubi (hari Saturnus/Dosei) dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia Saturday adalah Sabtu. Ternyata, kalau kita menghitung hari mundur sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu.

Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi Hari Matahari (Sunday, Ahad), Hari Bulan (Monday, Senin), Hari Mars (Selasa), Hari Merkurius (Rabu), Hari Jupiter (Kamis), dan Hari Venus (Jum’at).

Jumlah tujuh hari itu diambil juga oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, …, sampai tujuh, yakni ahad, itsnaan, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah.

Bagaimana dengan Indonesia ..?

Bahasa Indonesia hampir semuanya mengikuti penamaan hari dari bahasa Arab kecuali hari pertama yaitu Ahad sehingga di Indonesia menjadi Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu. Hari ke enam disebut secara khusus, Jum’at, karena itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya kewajiban salat Jum’at berjamaah.

Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.

Baca Juga :