APARAT DIDUGA TEMBAKKAN GAS AIR MATA KEDALUWARSA, PENELITI: GAS INI SANGAT BERBAHAYA

APARAT DIDUGA TEMBAKKAN GAS AIR MATA KEDALUWARSA, PENELITI: GAS INI SANGAT BERBAHAYA

Peserta aksi massa diberi “hadiah” berbentuk gas air mata kedaluwarsa. Tak tanggung-tanggung, gas ini udah expired sejak tiga tahun lalu.

Beberapa orang turun ke jalur untuk mengkritik DPR dengan berbekal masker dan odol. Meski mengherankan, ternyata odol sering kali dianggap sebagai senjata “perlindungan diri” hadapi gas air mata yang sanggup saja “dihadiahkan” kapan saja oleh petugas setempat.

Tapi, seberapa mengerikannya gas air mata, sih, hingga orang-orang yang ikut aksi diminta bersikap waspada?

Dari Kompas, diketahui ada tiga type gas air mata yang lazim digunakan, yaitu CS (chlorobenzylidenemalononitrile), CN (chloroacetophenone), dan semprotan merica. Dalam satu saja kaleng gas air mata, kadar di dalamnya adalah arang, potasium nitrat, silikon, sukrosa, potasium klorat, magnesium karbonat, dan O-Chlorobenzalmalononitrile.

Tiga puluh detik setelah terkena gas tersebut, reaksinya akan langsung timbul: sensasi panas terbakar di mata, mengolah air mata berlebihan, penglihatan kabur, ada problem bernapas, dan nyeri dada.

Pernah nangis karena putus cinta? Nah, gas air mata akan membuatmu matamu menjadi lebih perih berkali-kali lipat. Pasalnya, ia termasuk diketahui sanggup sebabkan munculnya peradangan selaput lendir mata, hidung, mulut, hingga paru-paru. Tak jarang, efeknya sanggup meluas: iritasi kulit, air liur berlebih, hingga kepanikan dan kemarahan intens, serta muntah dan diare.

Tuh, bayangkan: kami ulang memperjuangkan keadilan, tap

Seolah belum cukup ancaman yang diberikan oleh gas air mata, dalam aksi massa di Jakarta kemarin, sebuah kabar muncul dan mengejutkan masyarakat: gas air mata yang digunakan adalah gas air mata yang udah kedaluwarsa tiga tahun.

Penggunaan gas air mata kedaluwarsa ternyata bukan baru kali ini ditemukan. Aparat di beberapa negara dulu laksanakan perihal yang mirip kepada para demonstran, andaikata di Mesir (tahun 2011, dengan gas kedaluwarsa di tahun 2008) dan di Srinagar, sebuah kota di India (tahun 2014, dengan gas kedaluwarsa tahun 2012).

Presiden Asosiasi Dokter di Kashmir, India, Nisar ul Hassan, lewat Kashmir Dispatch, menyatakan bahwa pemanfaatan gas air mata kedaluwarsa adalah “tindakan tidak berkeperimanusiaan dan merupakan tindakan kriminal terhadap kemanusiaan.” Ditegaskannya pula, gas air mata yang udah expired ini sanggup saja berdampak terhadap kesegaran dalam jangka panjang.

Sebuah penelitian oleh Mónica Kräuter, seorang profesor Kimia dari Simón Bolívar University, Venezuela, dulu membahas lebih detil perihal ini. Dari ribuan kaleng gas air mata yang dipakai militer untuk menyerang demonstran di Venezuela terhadap 2014, diketahui bahwa 72% di antaranya udah kedaluwarsa. Penelitian ini sesudah itu menyimpulkan bahwa gas air mata yang udah kedaluwarsa ternyata sanggup “terpecah” jadi sianida, fosgen, dan nitrogen yang merupakan gas benar-benar berbahaya.

Untuk sekadar diketahui, fosgen disebut-sebut sebagai salah satu gas paling mematikan karena ia tak berbau dan sanggup membaur dengan hawa sekitar. Sayangnya, gas yang satu ini bekerja cukup “kejam”, yaitu dengan merusak paru-paru korban.

Loh, loh, ngeri juga, ya? Seolah-olah belum cukup ada pihak-pihak tertentu yang dengan santainya merusak paru-paru dunia lewat kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan, ini kok tambah ada bahaya baru yang mengintai paru-paru manusia?

Sumber : https://penjaskes.co.id/

Baca Juga :