Belajar Kepemimpinan hingga Public Speaking

Belajar Kepemimpinan hingga Public Speaking

Belajar Kepemimpinan hingga Public Speaking

Belajar Kepemimpinan hingga Public Speaking

SMP Taruna Andhiga menggelar kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan

(LDK) OSIS/MPK Tahun 2019, di kawasan SMP Taruna Andigha, 1-2 November lalu. Agenda tahunan itu dihelat untuk menutup kepengurusan tahun 2018 yang sudah berakhir, sehingga harus ada kepengurusan baru dengan LDK dan pelantikan serah terima jabatan OSIS lama kepada OSIS baru.

Laporan : Ryan Muttaqien

Kepala SMP Taruna Andigha Aldilah Rahman mengatakan, kegiatan LDK menjadi rangkaian acara menutup kepengurusan tahun 2018 sekaligus pelantikan dan serah terima jabatan OSIS lama kepada OSIS baru. Tahun ini, sambung dia, LDK diikuti gabungan dari tiga unit se-Yayasan Ibnu Hadjar, yakni SMP, SMA dan SMK Taruna Andigha. “Dari tiga unit ini, siswa yang ikut adalah pengurus OSIS baru dan OSIS lama, jumlahnya sekitar 40 siswa. LDK dan serah terima kepengurusan,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Ia menambahkan, acara dimaksudkan sesuai dengan tema LDK tahun ini, membentuk generasi yang ber karakter,

memiliki kemampuan bidang ilmu pengetahuan teknologi dan iman serta takwa (imtak), guna menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas.

Untuk itu, dengan kegiatan LDK ini, pengurus OSIS/MPK baru diberikan motivasi diberikan keterampilan, agar mereka bisa mempersiapkan diri menyambut masa dengan bekal karakter dan kemampuan yang mereka miliki. Dalam kesempatan itu, mereka diajarkan untuk selalu tampil berani percaya diri dan bersikap dewasa, kritis dalam menyikapi setiap masalah.

“Materi lain yang diberikan tentang kepemimpinan,disiplin, cara membuat proposal program kerja

dan satu materi yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini anak-anak diberikan materi public speaking.dimana mereka diajarkan cara berbicara didepan umum dengan teknik teknik yang benar,” ujar Aldi, sapaan karibnya.

Ia pun berharap, pengurus OSIS yang baru bisa melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan program program ya g mereka buat. “Tentunya mereka bisa memberi contoh untuk peserta didik yang lainnya,” pungkasnya.

 

Baca Juga :

KCD Pendidikan Jabar Apresiasi Pelajar Bogor

KCD Pendidikan Jabar Apresiasi Pelajar Bogor

KCD Pendidikan Jabar Apresiasi Pelajar Bogor

KCD Pendidikan Jabar Apresiasi Pelajar Bogor

Cabang Dinas (CD) Pendidikan Wilayah II Jawa Barat, mengapresiasi kegiatan pembinaan Pelajar Pelopor

Keselamatan Lalu Lintas (P2KLL) tingkat SMA/SMK Kota Bogor. Kegiatan yang diprakarasi Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, ini berlangsung di aula Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, kemarin.

Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran pelajar dalam mematuhi peraturan lalu lintas, dan mengurangi risiko kecelakaan akibat prilaku sebagai pengguna jalan.

“Mudah-mudahan dengan kegiatan ini, akan mampu meningkatkan kesadaran para pelajar

dalam mematuhi peraturan lalu lintas,” kata Kepala Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah II Jawa Barat, Dadang Ruhiyat kepada Metropolitan, kemarin.

Dia juga menghimbau, agar kepala SMA/SMK seKota Bogor bisa terus berusaha menanamkan dan membangun kesadaran peserta didiknya, terlebih dalam prilaku tertib berlalu lintas.

“Saya juga berharap para duta pelopor yang ikut pembinaan P2KLL ini, dapat menyebarluaskan informasi tentang keselamatan jalan ke kalangan pelajar lainnya. Sehingga, pelajar SMA/SMK Kota Bogor, mampu meraih prestasi terbaik dari 27 kota/kabupaten se Jawa Barat,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dishub Kota Bogor Rahmawati usai membuka kegiatan yang diikuti 100 pelajar tingkat SMA/SMA

ini menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan selama sehari dengan metode penilaiannya.

“Melalui sistem pembobotan, seperti leadership, publik speaking, norma/etika dan materi karya tulis,” ucapnya.

Untuk itu, Rahmawati berharap, agar nantinya mereka menjadi pendidik dalam berlalu lintas yang baik dan benar, baik di lingkungan sekolah maupun di tempat tinggalnya.

 

Sumber :

http://reachforcollege.org/ways-to-find-the-best-medical-information-online

Pentas PAI Jadi Ajang Pencarian Bibit Unggul

Pentas PAI Jadi Ajang Pencarian Bibit Unggul

Pentas PAI Jadi Ajang Pencarian Bibit Unggul

Pentas PAI Jadi Ajang Pencarian Bibit Unggul

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Fahrudin dan Kepala Kementrian Agama Kota Bogor H. Ansurullah

, membuka kegiatan pembinaan kepada 25 siswa sekolah dasar dalam Lomba Pentas Seni PAI Kota Bogor. Kegiatan ini diselenggarakan di aula Kantor Kementrian Agama Kota Bogor. Perlombaan ini dilakukan demi mencari bibit berbakat yang akan dipersiapkan untuk bertanding di tingkat Provinsi Jawa Barat.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Fahrudin meminta, agar seluruh siswa sekolah dasar y

ang akan mewakili Kota Bogor di Pentas PAI tingkat provinsi, agar bisa menampilkan penampilan yang terbaik sesuai dengan keahliannya dibidang masing-masing.

“Karena dengan berprestasi ditingkat Jawa Barat, selain bisa mengharumkan nama Kota Bogor juga dapat menjadi wakil Jabar ke tingkat nasional,” kata Fahrudin saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Ia berharap, para wakil Kota Bogor ini dapat berbuat yang terbaik di Ciamis nanti dan pulang

kembali dengan membawa prestasi yang sangat membanggakan. Selain memberikan pengarahan, kadisdik juga memberikan bantuan bagi para peserta selama mereka bertanding di Kabupaten Ciamis.

“Semoga bantuan ini agar dipergunakan sebaik mungkin oleh para peserta,” bebernya.

 

Sumber :

https://www.giantbomb.com/profile/topon990/blog/you-can-get-best-educational-management-informatio/137222/

Kompetensi Kepribadian Guru

Kompetensi Kepribadian Guru

Kompetensi Kepribadian Guru

Kompetensi Kepribadian Guru

Kompetensi kepribadian merupakan salah satu jenis kompetensi yang perlu dikuasai guru, selain 3 jenis kompetensi lainnya: sosial, pedagogik, dan profesional. Dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa kompetensi kepribadian guru yaitu kemampuan kepribadian yang: (1) mantap; (2) stabil; (3) dewasa; (4) arif dan bijaksana; (5) berwibawa; (6) berakhlak mulia; (7) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (8) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (9) mengembangkan diri secara berkelanjutan. Sementara itu, Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi dan Kompetensi Guru menjelaskan kompetensi kepribadian untuk guru kelas dan guru mata pelajaran, pada semua jenjang pendidikan dasar dan menengah, sebagai berikut:

  1. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia, mencakup: (a) menghargai peserta didik tanpa membedakan keyakinan yang dianut, suku, adat-istiadat, daerah asal, dan gender; dan (b) bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum dan sosial yang berlaku dalam masyarakat, dan kebudayaan nasional Indonesia yang beragam.
  2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat, mencakup: (a) berperilaku jujur, tegas, dan manusiawi; (b) berperilaku yang mencerminkan ketakwaan dan akhlak mulia; dan (c) berperilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik dan anggota masyarakat di sekitarnya.
  3. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, mencakup: (a) menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap dan stabil; dan (b) menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif, dan berwibawa.
  4. Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri, mencakup: (a)  menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi; (b) bangga menjadi guru dan percaya pada diri sendiri; dan (c) bekerja mandiri secara profesional.
  5. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru, mencakup: (a) memahami kode etik profesi guru; (b) menerapkan kode etik profesi guru; dan (c) berperilaku sesuai dengan kode etik guru.

Baca Juga :

Hubungan Guru dengan Siswa

Hubungan Guru dengan Siswa

Hubungan Guru dengan Siswa

Hubungan Guru dengan Siswa

Salah satu ciri dari sebuah profesi adalah adanya kode etik yang menjadi pedoman bersikap dan berperilaku bagi para penyandang profesi yang bersangkutan. Berdasarkan Undang-Undang No. 14 Tahun  2005, secara tegas dinyatakan bahwa guru adalah tenaga profesional yang berkewajiban untuk senantiasa menjunjung tinggi Kode Etik Guru, agar kehormatan dan martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalannya dapat terpelihara. Kode Etik Guru berisi seperangkat prinsip dan norma moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru, sesuai dengan nilai-nilai agama, pendidikan, sosial, etika dan kemanusiaan.

Tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan segenap potensi siswanya secara optimal, agar mereka dapat mandiri dan berkembang menjadi manusia-manusia yang cerdas, baik cerdas secara fisik, intelektual, sosial, emosional, moral dan spiritual. Sebagai konsekuensi logis dari tugas yang diembannya, guru senantiasa berinteraksi dan berkomunikasi dengan siswanya. Dalam konteks tugas, hubungan diantara keduanya adalah hubungan profesional, yang diikat  oleh kode etik.  Berikut ini disajikan nilai-nilai dasar dan operasional yang membingkai sikap dan perilaku etik  guru dalam berhubungan dengan siswa, sebagaimana tertuang dalam rumusan Kode Etik Guru Indonesia (KEGI):

  1. Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.
  2. Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati dan mengamalkan hak-hak dan kewajiban sebagai individu, warga sekolah, dan anggota masyarakat.
  3. Guru mengetahui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara individual dan masing-masingnya berhak atas layanan pembelajaran.
  4. Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan menggunakannya untuk kepentingan proses kependidikan.
  5. Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus berusaha menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan sebagai lingkungan belajar yang efektif dan efisien bagi peserta didik.
  6. Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih sayang dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar batas kaidah pendidikan.
  7. Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gangguan yang dapat mempengaruhi perkembangan negatif bagi peserta didik.
  8. Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan keseluruhan kepribadiannya, termasuk kemampuannya untuk berkarya.
  9. Guru menjunjung tinggi harga diri, integritas, dan tidak sekali-kali merendahkan martabat peserta didiknya.
  10. Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara adil.
  11. Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan dan hak-hak peserta didiknya.
  12. Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh perhatian bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.
  13. Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya dari kondisi-kondisi yang menghambat proses belajar,  menimbulkan gangguan kesehatan, dan keamanan.
  14. Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi peserta didiknya untuk alasan-alasan yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum, kesehatan, dan kemanusiaan.
  15. Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesionalnya kepada peserta didik dengan cara-cara yang melanggar norma sosial, kebudayaan, moral, dan agama.
  16. Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesional dengan peserta didiknya untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.

Dalam kultur Indonesia, hubungan guru dengan siswa sesungguhnya tidak hanya terjadi pada saat sedang melaksanakan tugas atau selama berlangsungnya pemberian pelayanan pendidikan. Meski seorang guru sedang dalam keadaan tidak menjalankan tugas, atau sudah lama meninggalkan tugas (purna bhakti), hubungan dengan siswanya (mantan siswa) relatif masih terjaga. Bahkan di kalangan masyarakat tertentu masih terbangun “sikap patuh pada guru” (dalam bahasa psikologi, guru hadir sebagai “reference group”). Meski secara formal,  tidak lagi  menjalankan tugas-tugas keguruannya, tetapi hubungan batiniah antara guru dengan siswanya masih relatif kuat, dan sang siswa pun tetap berusaha menjalankan segala sesuatu yang diajarkan gurunya.

Dalam keseharian kita melihat kecenderungan seorang guru ketika bertemu dengan  siswanya yang sudah sekian lama tidak bertemu. Pada umumnya, sang guru akan tetap menampilkan sikap dan perilaku keguruannya, meski dalam wujud yang berbeda dengan semasa masih  dalam asuhannya. Dukungan dan kasih sayang akan dia tunjukkan.  Aneka nasihat, petatah-petitih akan meluncur dari mulutnya.

Begitu juga dengan sang siswa, sekalipun dia sudah meraih kesuksesan hidup yang jauh melampaui dari gurunya, baik dalam jabatan, kekayaan atau ilmu pengetahuan, dalam hati kecilnya akan terselip rasa hormat, yang diekspresikan dalam berbagai bentuk, misalnya: senyuman, sapaan, cium tangan, menganggukkan kepala, hingga memberi kado tertentu yang sudah pasti bukan dihitung dari nilai uangnya. Inilah salah satu kebahagian seorang guru, ketika masih bisa sempat menyaksikan putera-puteri didiknya meraih kesuksesan hidup. Rasa hormat dari para  siswanya itu bukan muncul secara otomatis tetapi justru terbangun dari sikap dan perilaku profesional yang ditampilkan sang guru ketika masih bertugas memberikan pelayanan pendidikan kepada putera-puteri didiknya.

Belakangan ini muncul keluhan dari beberapa teman yang menyatakan bahwa anak-anak sekarang kurang menunjukkan rasa hormatnya terhadap guru. Jangankan setelah mereka lulus, semasa dalam pengasuhan pun mereka kadang bersikap kurang ajar. Jika memang benar adanya, tentu hal ini sangat memprihatinkan. Adalah hal yang kurang bijak jika kita hanya bisa menyalahkan mereka,  tetapi mari kita berusaha merefleksi kembali hubungan  kita dengan putera-puteri didik kita, sejauhmana kita telah menjalin hubungan dengan putera-puteri didik kita, dengan didasari nilai-nilai sebagaimana diisyaratkan dalam kode etik di atas. Jangan-jangan itulah faktor penyebab sesungguhnya.

Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa hubungan guru dengan siswa tidak hanya dikemas dalam bahasa profesional tetapi juga dalam konteks kultural. Oleh karena itu, mari kita (saya dan Anda semua) terus belajar untuk sedapat mungkin berusaha menjaga kode etik guru, kita jaga hubungan dengan putera-puteri didik kita secara profesional dan kultural, agar kita tetap menjadi guru yang sejatinya.

Kecerdasan Musikal

Kecerdasan Musikal

Kecerdasan Musikal

Kecerdasan Musikal

Gagasan Howard Gardner tentang Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence), yang dituangkan dalam bukunya berjudul “Frames of Mind” (1983) telah merubah cara pandang kita dalam mempelajari kecerdasan manusia. Semula kecerdasan cenderung ditafsirkan secara tunggal, sebatas intelektual dalam ukuran IQ yang bersifat permanen. Gardner mengemukakan 8 (delapan) jenis kecerdasan individu, yaitu: (1) linguistik, (2) logika-matematik, (3) kinestetik, (4) visual-spatial, (5) musikal, (6) interpersonal, (7) intrapersonal, dan (8) natural. Saat ini, teori Kecerdasan Majemuk yang dikembangkan Gardner ini telah menjadi rujukan penting dalam proses pendidikan.

Yang akan kita kupas dalam tulisan ini yaitu tentang kecerdasan musikal. Musik adalah suatu karya seni dalam bentuk lagu atau komposisi musik, yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur musik: irama, melodi, harmoni, bentuk atau struktur lagu, dan ekspresi sebagai satu kesatuan.

Musik mempunyai peranan penting dalam kehidupan seseorang, selain dapat mengembangkan kreatifitas, musik juga dapat membantu perkembangan individu, mengembangkan sensitivitas, membangun rasa keindahan, mengungkapkan ekspresi, memberikan tantangan, melatih disiplin dan mengenalkan sejarah budaya bangsa.

Kecerdasan musikal adalah kemampuan individu dalam menggubah lagu dan musik, bernyanyi dan bermain alat musik, dan dapat menghargai semua jenis musik, serta memiliki kepekaan yang kuat akan keserasian dan kesadaran universal tentang berbagai pola kehidupan.

Gardner dan banyak ilmuwan lainnya meyakini bahwa kecerdasan musikal adalah pusat pengalaman manusia dan merupakan awal dari munculnya kecerdasan individu. Kecerdasan musikal memiliki keterkaitan erat dengan jenis kecerdasan lainnya. Kita sering “merasakan” musik dengan tubuh kita melalui gerakan-gerakan tubuh yang sesuai dengan irama musik (kecerdasan kinestetik), misalnya: menggeleng-gelengkan kepala, menghentakan kaki, menepuk-nepuk paha, menari, berjoget dan aneka gerak tubuh lainnya. Kita juga sering “merasakan” musik dengan emosi kita, misalnya menangis, merinding, gembira, atau ekspresi emosi lainnya ketika mendengar musik tertentu yang sesuai (kecerdasan emosional). Gardner menjelaskan pula bahwa “Kemampuan bermusik berhubungan dengan memori suara. Sekian persen dari apa yang didengar seseorang akan masuk dalam alam bawah sadarnya dan menjadi bagian pokok dari daya ingatnya”. “If we can explain music, we may find the key for all human thought.”

Dengan kecerdasan musikal yang dimilikinya, seseorang dapat memperoleh berbagai manfaat, diantaranya:

  1. Memiliki pengetahuan bagaimana cara meredusir stress yang sedang dialaminya.
  2. Meningkatkan kemampuan kreativitas dirinya maupun orang lain.
  3. Menggali berbagai kemampuan terpendam untuk kepentingan belajarnya dan mengingat berbagai informasi tentang sesuatu: orang, tempat, benda dan sebagainya.
  4. Mengasah suasana hati untuk lebih mengoptimalkan keberadaan dirinya.
  5. Memiliki pengetahuan untuk memperdalam hubungan personalnya dengan orang lain.

Meski dalam ukuran dan bentuk yang berbeda, pada dasarnya setiap orang  memiliki potensi kecerdasan musikal. Oleh karena itu, pendidikan seni musik menjadi penting. Melalui pendidikan musik  yang tepat dan terarah akan membantu mengembangkan manusia menjadi lebih berbudaya, memiliki keseimbangan antara pikiran, perasaan dan perilakunya. Jika potensi kecerdasan ini tidak  mendapatkan penyaluran yang tepat,  melalui pendidikan yang tepat, maka yang dikhawatirkan adalah kebalikan dari hakikat musik itu sendiri. Bukannya menghasilkan manusia-manusia yang berbudaya, tetapi malah justru menghasilkan manusia-manusia yang menanggalkan nilai-nilai budayanya  sendiri, dengan menampilkan perilaku-perilaku “eksentrik”-nya yang kebablasan.  Oleh karena itu, mari kita bermusik,  jadikan hidup ini lebih indah…

Pengertian Etika

Pengertian Etika

Pengertian Etika

Pengertian Etika

Ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia.

ETIKA, berasal dari kata ethos, salahsatu cabang ilmu filsafat oksiologi membahas bidang etika yaitu, tentang:

– nilai keutamaan dan bidang estetika

– nilai-nilai keindahan,

– pemilihan nilai-nilai kebaikan.

ETIK=ETIKA, ethics (Inggris) adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana patutnya manusia hidup dalam masyarakat.

  1. Pilihan apa yang baik
  2. Apa yang buruk,
  3. Segala ucapan senantiasa harus berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan tentang perikeadaan hidup dalam arti yang seluas-luasnya.

Emanuel Kant, mengajukan satu pertanyaan was sall ich tun apa yang akan kita lakukan (sesuai dengan norma yang berlaku). Pertanyaan ini pada intinya ada suatu “pilihan” yang berarti adanya konsep nilai terhadap perbuatan yang akan kita lakukan.

Tugas Etika, bagi orang-orang yang berfikir dan bergerak secara teoritis untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi (baik masalah kehidupan maupun masalah ilmu).

Pengertian Profesi

 

Profesi berasal dari bahasa latin “Proffesio” yang mempunyai dua pengertian yaitu janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas menjadi kegiatan “apa saja” dan “siapa saja” untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan suatu keahlian tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik. Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.

Beberapa pengertian dari profesi:

  • Profesi merupakan bagian dari pekerjaan, namun tidak setiap pekerjaan adalah profesi. Seorang petugas staf administrasi bias berasal dari berbagai latar ilmu, namun tidak demikian halnya dengan Akuntan, Pengacara, Dokter yang membutuhkan pendidikan khusus.
  • Profesi merupakan suatu pekerjaan yang mengandalkan keterampilan dan keahlian khusus yang tidak didapatkan pada pekerjaan-pekerjaan sebelumnya.
  • Profesi merupakan suatu pekerjaan yang menuntut pengemban profesi tersebut untuk terus memperbaharui keterampilannya sesuai perkembangan teknologi.

Belum ada kata sepakat mengenai pengertian profesi karena tidak ada standar pekerjaan/tugas yang bagaimanakah yang bisa dikatakan sebagai profesi. Ada yang mengatakan bahwa profesi adalah “jabatan seseorang walau profesi tersebut tidak bersifat komersial”.  Secara tradisional ada 4 profesi yang sudah dikenal yaitu kedokteran, hukum, pendidikan, dan kependetaan.

Ciri Khas Profesi

Menurut Artikel dalam International Encyclopedia of education, ada 10 ciri khas suatu profesi, yaitu:

  1. Suatu bidang pekerjaan yang terorganisir dari jenis intelektual yang terus berkembang dan diperluas
  2. Suatu teknik intelektual
  3. Penerapan praktis dari teknik intelektual pada urusan praktis
  4. Suatu periode panjang untuk pelatihan dan sertifikasi
  5. Beberapa standar dan pernyataan tentang etika yang dapat diselenggarakan
  6. Kemampuan untuk kepemimpinan pada profesi sendiri
  7. Asosiasi dari anggota profesi yang menjadi suatu kelompok yang erat dengan kualitas komunikasi yang tinggi antar anggotanya
  8. Pengakuan sebagai profesi
  9. Perhatian yang profesional terhadap penggunaan yang bertanggung jawab dari pekerjaan profesi
  10. Hubungan yang erat dengan profesi lain

Baca Juga :

Pengertian Etika ( Etik )

Pengertian Etika ( Etik )

 Pengertian Etika ( Etik )

Pengertian Etika ( Etik )

Arti Definisi / Pengertian Etika ( Etik )

Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat kebiasaan di mana etika berhubungan erat dengan konsep individu atau kelompok sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan.

Pengertian Etika:

  • ETIKA berasal dari bahasa Yunani yaitu “ETHOS” yang memiliki arti kebiasaan.
  • Istilah Moral dan Etika sering diperlakukan sebagai dua istilah yang sinonim.
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan adanya suatu nuansa dalam konsep dan pengertian moral dan etika.
  • Moral/Moralitas biasanya dikaitkan dengan system nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia.

Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasihat, wejangan, peraturan, perintah dan semacamnya yang diwariskan secara turun-temurun melalui agama atau kebudayaan tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik agar ia benar-benar menjadi manusia yang baik. Berbeda dengan moralitas, etika perlu dipahami sebagai sebuah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.

Nilai adalah sesuatu yang berguna bagi seseorang atau kelompok orang dan karena itu orang atau kelompok itu selalu berusaha untuk mencapainya karena pencapaiannya sangat memberi makna kepada diri serta seluruh hidupnya. Norma adalah aturan atau kaidah dan perilaku dan tindakan manusia. Sebagai cabang filsafat, Etika sangat menekankan pendekatan yang kritis dalam melihat dan menggumuli nilai dan norma moral tersebut serta permasalahan-permasalahan yang timbul dalam kaitan dengan nilai dan norma-norma itu.

Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujudnya dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok. Dengan demikian, sebagaimana dikatakan oleh Magnis Suseno, Etika adalah sebuah ilmun dan bukan sebuah ajaran.Yang memberi kita norma tentang bagaimana kita harus hidup adalah moralitas. Sedangkan etika justru melakukan refleksi kritis atau norma atau ajaran moral tertentu. Atau kita bisa juga mengatakan bahwa moralitas adalah petunjuk konkret yang siap pakai tentang bagaimana kita harus hidup. Sedangkan etika adalah perwujudan dan pengejawantahan secara kritis dan rasional ajaran moral yang siap pakai itu.Keduanya mempunyai fungsi yang sama, yaitu memberi kita orientasi bagaimana dan kemana kita harus melangkah dalam hidup ini.

Profesionalisme adalah

Profesionalisme adalah

Profesionalisme adalah

Profesionalisme adalah

Profesionalisme

            Profesionalisme adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profsi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Seorang guru yang memilki profesionalisme yang tinggi akan tercermin dalam sikap mental serta komitmennya terhadap prewujudan dan peningkatan kualitas profesional melalui berbagai cara dan strategi. Ia akan selalu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman sehingga keberadaannya senantiasa memberikan makna profesional.

Ciri-ciri Profesionalisme:

  1. Mempunyai keterampilan yang tinggi dalam suatu bidang serta kemahiran dalam menggunakan peralatan tertentu yang di perlukan dalam pelaksanaan tugas yang bersangkutan dengan bidangnya
  2. Memunya ilmu dan pengalaman serat kecerdasan dalam menganalisis suatu masalah dan peka di dalam membaca situasi cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan terbaik atas dasar kepekaan
  3. Mempunyai sikap berorientasi ke depan sehingga punya kemampuan mengantisipasi perkembangan lingkungan yang terbentang di hadapannya
  4. Mempunyai sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka menyimak dan menghargai pendapat orang lain , namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri dan perkembangan pribadinya

Kode

 

Kode yaitu tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa kata-kata, tulisan atau benda yang disepakati untuk maksud-maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu berita, keputusan atau suatu kesepakatan suatu organisasi. Kode juga dapat berarti kumpulan peraturan yang sistematis.

Kode Etik 

Kode etik ; yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.

Menurut UU NO. 8 (POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN)

Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.

Kode Etik Profesi merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik profesi merupakan lanjutan dari norma-norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan dalam etika profesi. Kode etik ini lebih memperjelas, mempertegas dan merinci norma-norma ke bentuk yang lebih sempurna walaupun sebenarnya norma-norma tersebut sudah tersirat dalam etika profesi. Dengan demikian kode etik profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan apa yang salah dan perbuatan apa yang dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang professional.

Prinsip – prinsip umum yang dirumuskan dalam suatu profesi akan berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan perbedaan adat, kebiasaan, kebudayaan, dan peranan tenaga ahli profesi yang didefinisikan dalam suatu negara tidak sama.

Adapun yang menjadi tujuan pokok dari rumusan etika yang dituangkan dalam kode etik (Code of conduct) profesi adalah :

  1. Standar-standar etika menjelaskan dan menetapkan tanggung jawab terhadap klien, institusi, dan masyarakat pada umumnya.
  2. Standar-standar etika membantu tenaga ahli profesional dalam menentukan apayang harus mereka purbuat kalau menghadapi dilema-dilema etikadalam pekerjaan.
  3. Standar-standar etika membiarkan profesi menjaga reputasi atau nama dan fungsi-fungsi profesi dalam masyarakat melawan kelakuan-kelakuan yang jahat dari anggota-anggota tertentu.
  4. Standat-standar etiak mencerminkan atau membayangkan pengharapan moral-moral dari komunitas, dengan demikian standar-standar etiak menjamin bahwa para anggota profesi akan mentaati kitab Undang-undang etika ( kode etik ) profesi dalam pelayanannya
  5. Standar-standar etika merupakan dasar untuk menjaga kelakuan dan integritas atau kejujuran dari tenaga ahli profesional.
  6. Perlu diketahui bahwa kode etik profesional adalah tidak sama dengan hukum (undang-undang). Seorang ahli profesi yang melanggar kode etik profesi akan menerima sangsi atau denda dari induk organisasi profesinya.

Sumber : https://sam-worthington.net/

Kemendikbud Gelar Taklimat Tata Kelola Anggaran 2019

Kemendikbud Gelar Taklimat Tata Kelola Anggaran 2019

Kemendikbud Gelar Taklimat Tata Kelola Anggaran 2019

Kemendikbud Gelar Taklimat Tata Kelola Anggaran 2019

Kemente­rian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berkomitmen penuh dalam mewujudkan Zona Integritas Wilayah

Bebas dari Ko­rupsi (ZI-WBK). Dalam pelaks­anaan program dan kegiatan 2019, Kemendikbud mengadakan Ta­klimat/Briefing Tata Kelola Pelaks­anaan Anggaran Tahun 2019 di Graha Utama kantor Kemendik­bud, Jakarta.

”Usaha melakukan pencegahan terhadap tindakan korupsi harus selalu kita budayakan. Berbagai cara telah kita lakukan, seperti melakukan reformasi birokrasi, terus melakukan perbaikan sistem dan tata kelola agar dapat me­layani dengan lebih baik. Juga membangun zona-zona integritas,” kata Menteri Pendidikan dan Ke­budayaan (Mendikbud), Muhad­jir Effendy.

Mendikbud berpesan jajarannya agar anggaran 2019 harus dilaks­anakan dengan memperhatikan

6 (enam) hal utama, yaitu: (1) pelaksanaan tata kelola yang baik; (2) fokus kepada tugas dan fung­si; (3) fokus kepada target dan sasaran; (4) mengurangi kegiatan yang bersifat penunjang; (5) patuh dan taat kepada regulasi yang berlaku; serta (6) tepat waktu da­lam mencapai target dan sasaran.

”Kami menyadari menyeleng­garakan program dan anggaran yang jumlahnya besar

tidaklah mudah dilakukan. Seringkali orang tergelincir dengan tindakan-tindakan yang koruptif. Oleh ka­rena itu, usaha yang terus mene­rus sejak dini untuk mengingatkan kepada kita semua agar dapat menggunakan anggaran dengan baik harus selalu disampaikan,” tutur Mendikbud.

 

Baca Juga :