Manfaat Relationship Marketing

Manfaat Relationship Marketing

Manfaat Relationship Marketing

Manfaat Relationship Marketing

Menurut Kotler dan Amstrong (1996, p.579-582) relationship marketing mengandung tiga manfaat, yaitu :
a. Manfaat ekonomis
Pendekatan pertama untuk membangun suatu hubungan nilai dengan pelanggan adalah menambah manfaat-manfaat keuangan atau ekonomis manfaat ekonomis dapat berupa penghematan biaya yang dikeluarkan oleh pelanggan, potongan-potongan khusus.
b. Manfaat sosial
Meskipun pendekatan dengan menambah manfaat ekonomis seperti di atas dapat membangun preferensi konsumen, namun hal ini dapat mudah ditiru oleh para pesaing satu badan usaha dengan yang lainnya. Sehingga dalam pendekatan ini, badan usaha harus berusaha meningkatkan hubungan sosial mereka yaitu dengan memberikan perhatian kepada para pelanggan dengan mempelajari kebutuhan dan keinginan pelanggan secara individual.
c. Ikatan struktural
Pendekatan ketiga untuk membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan adalah menambah ikatan struktural. Maksudnya bahwa badan usaha – badan usaha memberikan pendekatan atau program yang terstruktur yang dapat menarik minat konsumen untuk mau terlibat menjadi anggota kartu keanggotaan, misalnya menjadi anggota member privilege

Sumber :https://obatwasirambeien.id/

indikasi turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan

indikasi turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan

indikasi turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan

indikasi turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan

Indikasi – indikasi turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan antara lain
1. Turun/ rendahnya produktivitas kerja.
Turunnya produktivitas kerja ini dapat diukur atau diperbandingkan dengan waktu sebelumnya. Produktivitas kerja yang turun ini dapat terjadi karena kemalasan atau penundaan kerja
2. Tingkat absensi yang naik.
Pada umumnya bila loyalitas dan sikap kerja karyawan turun, maka karyawan akan malas untuk datang bekerja setiap hari. Bila ada gejala – gejala absensi naik maka perlu segera dilakukan penelitian.
3. Tingkat perpindahan buruh yang tinggi.
Keluar masuknya karyawan yang meningkat tersebut terutama adalah karena tidak senangnya para karyawan bekerja pada perusahaan. Untuk itu mereka berusaha mencari pekerjaan lain yang dianggap sesuai. Tingkat perpindahan buruh yang tinggi selain dapat menurunkan produktivitas kerja, juga dapat mempengaruhi kelangsungan jalannya perusahaan.
4. Kegelisahan dimana – mana.
Loyalitas dan sikap kerja karyawan yang menurun dapat menimbulkan kegelisahan sebagai seorang pemimpin harus mengetahui bahwa adanya kegelisahan itu dapat terwujud dalam bentuk ketidak terangan dalam bekerja, keluh kesah serta hal – hal yang lain.

5. Tuntutan yang sering terjadi.
Tuntutan yang sebetulnya merupakan perwujudan dan ketidakpuasan, dimana pada tahap tertentu akan menimbulkan keberanian untuk mengajukan tuntutan.
6. Pemogokan.
Tingkat indikasi yang paling kuat tentang turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan adalah pemogokan. Biasanya suatu perusahaan yang karyawannya sudah tidak merasa tahan lagi hingga memuncak, maka hal itu akan menimbulkan suatu tuntutan, dan bilamana tuntutan tersebut tidak berhasil, maka pada umumnya para karyawan melakukan pemogokan kerja. (S. Alex Nitisemito,1991:163 – 166).

Pada kategori usia para karyawan yang berbeda menunjukkan aksentuasi loyalitas yang berbeda pula seperti uang diuraikan berikut ini:
a. Angkatan kerja yang usianya di atas lima puluh tahun menunjukkan loyalitas yang tinggi pada organisasi. Mungkin alasan – alasan yang menonjol ialah bahwa mereka sudah mapan dalam kekaryaannya, penghasilan yang memadai, memungkinkan mereka menikmati taraf hidup yang dipandangnya layak. Banyak teman dalam organisasi, pola karirnya jelas, tidak ingin pindah, sudah “terlambat” memulai karier kedua, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan memasuki usia pensiun. Seperti yang terdapat dalam perusahaan UD. DUTA
RASA, dalam perusahaan ini ada beberapa karyawan tetapnya adalah karyawan dengan umur sekitar 50an dan sudah bekerja cukup lama dalam perusahaan sedangkan para karyawan kontraknya adalah karyawan yang masih muda.
b. Tenaga kerja yang berada pada kategori usia empat puluhan menunjukkan loyalitas pada karir dan jenis profesi yang selama ini ditekuninya. Misalnya, seseorang yang menekuni karir di bidang keuangan akan cenderung “ bertahan” pada bidang tersebut meskipun tidak berarti menekuninya hanya dalam organisasi yang sama. Karena itu pindah ke profesi lain, tetapi bergerak di bidang yang sama, bukanlah merupakan hal yang aneh. Barangkali alasan pokoknya terletak pada hasrat untuk benar – benar mendalami bidang tertentu itu karena latar belakang pendidikan dan pelatihan yang pernah ditempuh, bakat, minat, dan pengalaman yang memungkinkannya menampilkan kinerja yang memuaskan yang pada gilirannya membuka peluang untuk promosi, menambah penghasilan, dan meniti karir secara mantap.
c. Tenaga kerja dalam kategori 30 – 40 tahun menunjukkan bahwa loyalitasnya tertuju pada diri sendiri. Hal ini dapat dipahami karena tenaga kerja dalam kategori ini masih terdorong kuat untuk memantapkan keberadaannya, kalau perlu berpindah dari satu organisasi ke organisasi lain dan bahkan mungkin juga dari satu profesi ke profesi lain. Di samping itu pula didukung oleh tingkat kebutuhan yang semakin lama semakin meningkat tetapi tidak diimbangi dengan pemasukan yang cukup sehingga banyak para pekerja yang mencari pekerjaan lain yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari.
d. Bagi mereka yang lebih muda dari itu, makna loyalitas belum diserapi dan kecenderungan mereka masih lebih mengarah kepada gaya hidup santai, apabila mungkin disertai dengan kesempatan “berhura – hura” Pada kenyataan sehari – hari banyak sekali terjadi kecurangan – kecurangan yang dilakukan oleh para karyawan yang umumnya mempunyai umur relatif muda hal itu juga dipicu oleh tingkat angan – angan yang tinggi, tetapi tidak diiringi oleh tingkat kerajinan yang tinggi dari dalam dirinya sendiri, oleh karena itu tingkat penganggguran semakin lama semakin meningkat (S. Alex Nitisemito, 1991:170-171).

Baca Juga :

kerja adalah

kerja adalah

kerja adalah

kerja adalah

Manajemen Sumber Daya manusia. Didalam kamus bahasa Indonesia menjelaskan sikap adalah perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pendirian (Wjs. Poerwadarminta,2002:944).
Sedangkan kerja adalah melakukan sesuatu (Wjs. Poerwadarminta, 2002:492). Menurut pengertian dari Agus Maulana, sikap kerja karyawan adalah cara kerja karyawan didalam mengkomunikasikan suasana karyawan kepada pimpinan ataupun perusahaan. Karyawan merasakan adanya kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Loyal adalah patuh, setia (Wjs. Poerwadarminta, 2002:609). Dari pengertian diatas, kesimpulannya adalah suatu kecenderungan karyawan untuk pindah ke perusahaan lain. Apabila karyawan bekerja pada suatu perusahaan, dan perusahaan tersebut telah memberikan fasilitas – fasilitas yang memadai dan diterima oleh karyawannya, maka kesetiaan karyawan terhadap perusahaan akan semakin besar, maka timbul dorongan yang menyebabkan karyawan melakukan pekerjaan menjadi lebih giat lagi.
Fasilitas – fasilitas yang diterima oleh karyawan sehingga karyawan mau bekerja sebaik mungkin dan tetap loyal pada perusahaan, hendaknya perusahaan memberikan imbalan yang sesuai kepada karyawannya. Semua itu tergantung pada situasi dan kondisi perusahaan tersebut serta tujuan yang ingin dicapai.
Untuk itu perusahaan mengemukakan beberapa cara:
a. Gaji yang cukup
b. Memberikan kebutuhan rohani.
c. Sesekali perlu menciptakan suasana santai.
d. Menempatkan karyawan pada posisi yang tepat.
e. Memberikan kesempatan pada karyawan untuk maju.
f. Memperhatikan rasa aman untuk menghadapi masa depan.
g. Mengusahakan karyawan untuk mempunyai loyalitas.
h. Sesekali mengajak karyawan berunding.
i. Memberikan fasilitas yang menyenangkan. (Nitisemito, 1991:167

Sebab – sebab turunnya loyalitas dan sikap kerja itu dikarenakan banyak sebab misalnya, upah yang mereka terima tidak sesuai dengan pekerjaannya, tidak cocoknya dengan gaya perilaku pemimpin, lingkungan kerja yang buruk dan sebagainya. Untuk memecahkan persoalan tersebut, maka perusahaan harus dapat menemukan penyebab dari turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan itu disebabkan pada prinsipnya turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan itu disebabkan oleh ketidakpuasan para karyawan. Adapun sumber ketidakpuasan bisa bersifat material dan non material yang bersifat material antara lain: rendahnya upah yang diterima, fasilitas minimum. Sedangkan yang non material
antara lain: penghargaan sebagai manusia, kebutuhan – kebutuhan yang berpartisipasi dan sebagainya (S. Alex Nitisemito, 1991:167).

Sumber : https://pesantrenkilat.id/

Ribuan Orang Tuli di Sumbar Butuh Penerjemah Bahasa Isyarat

Ribuan Orang Tuli di Sumbar Butuh Penerjemah Bahasa Isyarat

Ribuan Orang Tuli di Sumbar Butuh Penerjemah Bahasa Isyarat

Ribuan Orang Tuli di Sumbar Butuh Penerjemah Bahasa Isyarat

Peneliti Perkembangan Penelitian Bahasa Isyarat di Sumatera Barat

(Sumbar), Rona Almos mengatakan, terjadi ketimpangan antara jumlah penerjemah bahasa isyarat dengan jumlah orang tuli di Sumbar.

“Di Sumbar kita hanya punya delapan penerjemah bahasa isyarat, sementara jumlah orang tuli mencapai 1.250 jiwa. Dari delapan orang tersebut, enam orang ada di Kota Padang dan dua lagi di luar Kota Padang,” kata Rona, usai kegiatan Seminar Sehari Bahasa Isyarat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (Unand), Kamis 17 Oktober 2019, seperti dlansir Tagar.id.

Selain membahas bahasa isyarat, kegiatan yang digelar Laboratorium Riset Bahasa Isyarat

(LRBI) Departemen Linguistik FIB UI bekerja sama dengan Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan DPD Gerkatin Sumbar itu mengupas berbagai isu orang tuli.

“Sangat terjadi ketimpangan dari jumlah penerjemah dengan orang tuli di Sumbar.

Di Kota Padang saja ada 300 hingga 400 orang yang tuli, sementara penerjemah hanya enam orang, dua orang lagi dari luar Kota Padang,” kata dia.

Selain persoalan kurangnya penerjemah bahasa isyarat, penelitian bahasa isyarat dari sisi linguistik juga sangat minim. Akan tetapi, soal motede penelitian di Sekolah Luar Biasa (SLB) sudah mulai diteliti.

 

Baca Juga :

Dukung Pelaksanaan Diklat BST, Bupati Kepulauan Meranti Terima Penghargaan dari STIP Jakarta

Dukung Pelaksanaan Diklat BST, Bupati Kepulauan Meranti Terima Penghargaan dari STIP Jakarta

Dukung Pelaksanaan Diklat BST, Bupati Kepulauan Meranti Terima Penghargaan dari STIP Jakarta

Dukung Pelaksanaan Diklat BST, Bupati Kepulauan Meranti Terima Penghargaan dari STIP Jakarta

Bupati Kepulauan Meranti, Drs. H. Irwan M.Si, menerima penghargaan dari Sekolah Tinggi Pelayaran

(STIP) Jakarta , penghargaan itu diberikan atas dukungan Pemerintah Kepulauan Meranti dalam mensukseskan program Diklat Pemberdayaan Masyarakat (DPM) yang dilaksanakan oleh STIP Jakarta, penghargaan langsung diserahkan oleh Ketua STIP Jakarta Capt. Marihot Simanjuntak MM, kepada Bupati Kepulauan Meranti dalam Acara Business Luncheon Sekolah Tinggi Pelayaran, Jakarta Tahun 2019, bertempat di Ballroom Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta, Selasa (5/11/2019).

Turut hadir bersama Bupati, KSOP Selatpanjang M. Faisal, Kepala Dinas Perhubungan Meranti Dr. Aready

, Pembantu Ketua 3 STIP, Sholeh, Pembantu Ketua 2, Kapt. Abdul Rahman, Pembantu Ketua 1 STIP, Budi Purnomo, Benhart Tambubolon, Supendi, pihak jasindo, pihak pertamina, serta puluhan pihak perusahaan angkutan dan pelayaran kelas nasional maupun internasional.

Dalam acara yang dikemas dengan kegiatan ramah tamah antara STIP Jakarta dengan pemerintah daerah tempat pelaksanaan diklat DPM, serta perusahaan mitra STIP dan stakeholders terkait itu, Bupati Kepulauan Meranti Drs. H. Irwan M.Si mengucapkan terimakasih kepada pihak STIP yang telah membantu pemerintah daerah dalam memperkuat SDM Meranti dibidang kelautan, sehingga ribuan pelaut Kepulauan Meranti tak khawatir lagi melaut karena telah mengantongi sertifikat yang berstandar internasional.

“Atas nama masyarakat kami mengucapkan terimakasih kepada STIP Jakarta,

berkat program diklat DPM-nya, telah banyak membantu masyarakat untuk memperoleh buku melaut. Selain itu dengan modal sertifikat itu masyarakat dapat bekerja dibidang kemaritiman sehingga dapat menekan angka pengangguran di Meranti,” ujar Bupati Irwan.

Sekedar informasi, seperti diterangkan oleh Kepala Dinas Perhubungan Meranti Dr. Aready, sejak Diklat DPM STIP Jakarta dilaksanakan di Meranti sebanyak 3000-an pemuda dan nelayan di Kepulauan Meranti telah mengantongi sertifikat BST. Sertifikat ini teregister di website dan diakui secara internasional.

 

Sumber :

https://ojs.ummetro.ac.id/index.php/lentera/comment/view/699/52999/5823

343 Mahasiswa S1 Universitas Abdurrab Pekanbaru Diwisuda dan Dibekali SKPI

343 Mahasiswa S1 Universitas Abdurrab Pekanbaru Diwisuda dan Dibekali SKPI

343 Mahasiswa S1 Universitas Abdurrab Pekanbaru Diwisuda dan Dibekali SKPI

343 Mahasiswa S1 Universitas Abdurrab Pekanbaru Diwisuda dan Dibekali SKPI

Universitas Abdurrab (Univrab) Pekanbaru, Riau, kembali menggelar sidang senat

terbuka dalam rangka wisuda Strata 1 (S1) di Gedung Susiana Tabrani Convention Hall, Jalan Bakti Pekanbaru, pada Sabtu (26/10/2019). Pada wisuda kali ini, Univrab mencetak sebanyak 343 orang sarjana dari sembilan Program studi (Prodi).

Para wisudawan yang diwisuda hari ini terdiri dari S1 Profesi Dokter sebanyak 66 orang, Pendidikan Dokter 74 orang, Hubungan Internasional (HI) sepuluh orang, Ilmu Komunikasi (IK) 12 orang, Ilmu Pemerintahan (IP) 64 orang, Teknik Informatika (TI) 29 orang, Teknik Sipil 19 orang, Psikologi 36 orang dan STIE Iqro Annisa Pekanbaru 33 orang.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Abdurrab Pekanbaru, Prof. Susi Endrini, Ssi., M.Sc.,Ph.d,

mengatakan, bahwa pelaksanaan wisuda tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di mana, para wisudawan mulai tahun ini tidak hanya menerima ijazah dan transkip nilai wisudawan saja, melainkan juga mendapat surat keterangan pendamping ijazah atau SKPI.

“SKPI ini isinya tentang mendiskripsikan lulusan dari sisi kompentensi, softskill

, dan sertifikat tambahan, yang diperoleh lulusan sepanjang menjadi mahasiswa universitas abdurab. Ini kami berikan kepada semua wisudawan S1 hari ini yang jumlahnya mencapai 343 wisudawan,” kata Rektor Univrab tersebut.

Dengan demikian, Susi mengharapkan lulusan Univrab mampu bersaing baik di tingkat lokal, nasional, maupun Internasional di revolusi 4.0.

Susi juga berpesan kepada wisudawan dan wisudawati agar menjadikan momentum wisuda ini untuk melaju ke puncak karir dan tetap menjaga nama baik almamater. “Beberapa pesan dari kami, jagalah nama baik almamater Universitas Abdurrab dan datang lah untuk menyumbang bakti kepada adik-adik yang masuh menumpuh pendidikan di Universitas Abdurrab,” tambahnya.

Sementara itu, Pembina Yayasan Abdurrab, Dr. dr. Susiana Tabrani, M.Pd, mengaku bersyukur karena pelaksanaan wisuda Univrab tahun ini bisa dilaksanakan di gedung milik sendiri, yaitu Gedung Susiana Tabrani Convention Hall.

 

Sumber :

http://revistas.uned.es/index.php/accionpsicologica/comment/view/520/460/150100

Sejarah Kapitalisme

Sejarah Kapitalisme

Sejarah Kapitalisme

Sejarah Kapitalisme

Kapitalis ialah hubungan-hubungan di antara para pemilik pribadi atas alat-alat produksi yang bersifat nonpribadi (tanah, tambang, instalasi industri dan sebagainya, yang secara keseluruhan disebut modal atau kapital) dengan para pekerja yang biar pun bebas namun tak punya modal, yang menjual jasa tenaga kerjanya kepada para majikan (Dudley Dillard, 1987:15)

Kapitalisme berasal dari asal kata capital yaitu berarti modal, yang diartikan sebagai alat produksi misal tanaqh dan uang. Sedangkan kata isme berarti paham atau ajaran. Kapitalisme merupakan sitem ekonomi politik yang cenderung kearah pengumpulan kekayaan secara individu tanpa gangguan kerajaan (Kamus Wikipedia). Dalam kata lain kapitalisme adalah suatu paham ataupuna ajaran mengenai segala sesuatu yang berhunbungan dengan modal ataau uang.

Sistem kapitalisme sepenuhnya memihak dan menguntungkan pihak-pihak pribadi kaum bisnis swasta. Seluruh keputusan-keputusan yang menyangkut bidang produksi baik itu alam dan tenaga kerja di kendalikan oleh pemilik dan di arahkan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Secara sosiologis paham kapitalisme berawal dari perjuangan terhadap kaum feudal, salah satu tokoh yang terkenal Max Weber dalam karyanya The Protestan Ethic of Spirit Capitalism, mengungkapkan bahwa kemunculan kapitalisme erat sekali dengan dengan semangat religius terutama kaum protestan. Pendapat Weber ini didukung Marthin Luther King yang mengatakan bahwa lewat perbuatan dan karya yang lebih baik manusia dapat menyelamatkan diri dari kutukan abadi. Tokoh lain yang mendukung adalah Benjamin Franklin dengan mottonya yang sangat terkenal yaitu “Time Is Money”, bahwa manusia hidup untuk bekerja keras dan memupuk kekayaan.

Baca Juga : 

Profesi Wartawan

Profesi Wartawan

Profesi Wartawan

Profesi Wartawan

Wartawan atau jurnalis adalah profesi seorang yang menciptakan laporan untuk disebarluaskan atau dipublikasi dalam media massa (koran, televisi, radio, majalah, film dokumentasi, dan internet). Jurnalis meliputi kolumnis, penulis lepas, fotografer, dan desain grafis, dan editor. Akan tetapi dalam kenyataannya di Indonesia profesi jurnalis hanya disangkutkan dengan nama wartawan.
Profesi wartawan dan kewartawanan sering disalahkaprahkan, karena adanya muatan yang diakseskan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. Adanya masalah-masalah finansial yang melingkupi wartawan menjadi penyebab penyalahkaprahan ini. Dalam fitrahnya profesi kewartawanan mempunyai tanggung jawab terhadap moralitas pekerjaannya, yang kemudian menjadikannya sebagai bagian integral pembentukan kredibilitas- profesinya.
Stereotipe wartawan oleh masyarakat menjadi buruk karena ada sebagian oknum yang mengatasnamakan wartawan kemudian tidak dapat menjaga keprofesionalitasanya dalam melakukan tugas. Wartawan menerina ampau/amplop demi kepentingan seseorang dan demi kepentingan finansial pribadi wartawan itu sendiri. Fenomena ini sudah mengubah citra wartawan sebagai pekerja yang objektif dalam melaporkan setiap berita.
Faktor lingkungan kemasyarakatan sendiripun dapat mengubah moralitas seorang wartawan. Semakin banyak masyarakat yang ingin memanfaatkan peran wartawan untuk kepentingan pribadi, maka banyak moral wartawan yang semakin berubah. Fenomena ini memungkinkan juga untuk menjadikan perubahan sosial yang terjadi dalam struktur kewartawanan itu sendiri. Wartawan tidak dapat lagi merepresentasikan profesinya yang mulia, tetapi hanya menuntut kepada kebutuhan finansial wartawan tiu sendiri.
Pengembalian moralitas wartawan menjadi profesi yang mulia sebagai penyampai berita objektive juga harus dimulai dari dalam diri wartawan itu sendiri dan dari pihak-pihak lain yang memanfaatkan peran wartawan agar tidak memaksakan kepentingan pribadi.

Sumber :https://indianapoliscoltsjerseyspop.com/

RADIO KOMUNITAS MENJADI PILIHAN

RADIO KOMUNITAS MENJADI PILIHAN

RADIO KOMUNITAS MENJADI PILIHAN

RADIO KOMUNITAS MENJADI PILIHAN YANG EFEKTIF BAGI KOMUNITAS SEBAGAI MEDIA
Bagi banyak orang radio satu-satunya sumber berita, dibanding koran dan televisi. Radio lebih banyak keunggulannya, misalnya rapotensi menjadi medium yang cepat akrab, menjangkau, siaran langsung dari lokasi kejadian mudah, biaya produksi siaran yang murah, dan dapat menembus berbagai tingkatan social masyarakat dimana buta hurufpun bukan kendala bagi khalayak radio. Disamping tentunya ada beberapa kelemahan misalnya radio sangat tergantung pada frekuensi bunyi tidak lengkap seperti televisi ada bunyi dan visual, sangat dipengaruhi kondisi atmosfer dimana pada saat yang jauh akan lebih banyak terganggu, tidak bisa mengirim berita sekaligus banyak dan cepat seperti halnya media cetak karena keterbatasan waktu siaran.
Sehingga, dengan berbagai kendala diatas, pilihan menggunakan radio sebagai media komunitas pilihan yang masih efesien dan efektif. Karena radio komunitas adalah jurnalisme praktis, tidak perlu banyak teori dan referensinya, juga tak banyak karena sering dianggap lebih mudah, walau tidak sepenuhnya demikian jika dikaji lebih lanjut karena ada sisi advokasi yang menjadi muatan utama. Karena fungsinya yang menjadi kontrol sosial dimasa lalu perkembanganya tak terlalu mulus, dikarenakan belum ada aturan yang jelas, radio komunitas sering dianggap radio gelap. Penyesuaian dengan segmentasi komunitasi pilihan acara yang aktual, yang menjadi target siaran dan bumbu kearifan lokal yang menyentuh menjadi resep yang harus menjadi ciri radio komunitas, sehingga bisa mengalihkan pendengar radio yang telah dijejali dengan aneka program televise di era multichanel TV saat ini.
Radio sebagai alat komunikasi tampaknya masih bisa dioptimalkan karena penggunaan pesawat radio di berbagai kalangan masih tinggi. Untuk mendapatkan sebuah pesawat radio, khususnya radio transistor, tidak perlu mengeluarkan uang banyak, bisa didapat dengan harga mulai Rp. 5000 atau diatasnya tergantung merek yang menjadi pilihan dan sekarang banyak handphone yang dilengkapi dengan pesawat radio. Artinya radio sebagai sebuah alat komunikasi adalah pesawat yang merakyat. Dalam proses pendirian maupun siarannya, tarik ulur kepentingan kemungkinan besar tetap tak terhindarkan, namun bisa disiasati dengan kemasan acara yang memperhatikan kebiasaan, prilaku, kultur komunitasnya dan tak meninggalkan kaidah jurnalisme kemanusiaan yang damai. Begitu kompleks dan beragamnya problema komunitas dari hasil penelitian tersebut seakan menjadi gambaran: begitu peliknya persoalan di masyarakat, ada pergulatan politik, sosial, ekonomi dan budaya yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat dan komunitas-komunitasnya, yang seolah gagap akan perubahan dan dinamika berkehidupan.
Disinilah pentingnya radio komunitas, menangkap apa yang dibutuhkan komunitas dan masyarakat dan kemudian menyuarakannya menjadi bahasa dan bahasan utama untuk menemukan solusi. Dengan segala kelebihannya, radio komunitas bisa menjadi jembatan bagi penguatan masyakat sipil yang demokratis, apalagi dibantu juga oleh para ulama pesantren, yang secara tradisonal menjadi panutan, yang peduli pada persoalan sosial dan masyarakatnya atau yang kita sebut kader ulama humanis yang akan berkerjasama membangun sinergitas dengan penggerak masyarakat atau CO (Community Organizer) dalam menata kompleksnya problema komunitas dan masyarakat, sehingga penangananya dengan perspektif yang kompleks dan beragam juga. Paling tidak ini jurus lain dari advokasi radio dan masyarakat, dengan radio komunitas sebagai senjata utamanya.

Sumber : https://indianapoliscoltsjerseyspop.com/

Rektor Buka “Band Day” 2019

Rektor Buka “Band Day” 2019

Rektor Buka “Band Day” 2019

Rektor Buka “Band Day” 2019

Rektor Universitas Kuningan (Uniku) Dr. Dikdik Harjadi, SE., M.Si., dengan didampingi Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa

(UKM) Marching Band Bahana Sang Adipati (MB BSA) Fahmi Hygienis, S.S., Pelatih MB BSA Ahmad Sanusi dan Ketua UKM MB BSA Sri Maehastuti, membuka secara resmi kegiatan “Band Day” di Gedung Student Center Iman Hidayat Kampus I Universitas Kuningan (Uniku), Selasa (09/07/2019).

Ketua UKM MB BSA Sri Maehastuti dalam laporannya, mengatakan, kegiatan “Band Day” adalah sebuah wadah pendidikan dan apresiasi drum band atau marching band serta tempat untuk mengembangkan potensi diri melalui nilai-nilai pendidikan dan disiplin yang dikemas dalam pendidikan drum band atau marching band untuk anggota drum band atau marching di Kabupaten Kuningan.

“Band day MB BSA Uniku memiliki visi dan misi untuk memberikan pendidikan yang terbaik di bidang drum band atau marching band bagi generasi muda di Kabupaten Kuningan pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Visi dan misi diharapkan untuk generasi muda Indonesia dapat bersaing di dunia globalisasi serta sarana untuk meningkatkan kualitas marching band di Kabupaten Kuningan,” ujarnya.

Lebih jauh, sambung mahasiswi dari program studi (Prodi) Pendidikan Ekonomi

(PE) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) itu, menjelaskan, tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk silaturahmi seluruh marching band se-Kabupaten Kuningan dan meningkatkan ilmu pengetahuan tentang marching band.

“Peserta kegiatan ini adalah siswa siswi drum band dari Sekolah Menengan Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat. Mereka akan mengikuti kegiatan tersebut, selama dua (2) hari yaitu Selasa – Rabu tanggal 09 – 10 Juli 2019 dengan agenda acaranya pemberian materi, latihan bersama dan pengalikasian materi,” jelasnya.

Sedangkan, Pembina UKM MB BSA Uniku Fahmi Hygienis, S.S., dalam sambutannya, mengatakan, MB BSA merupakan salah satu marching band di wilayah III Cirebon di jenjang perguruan tinggi.

“Saya rasa, MB BSA Uniku itu merupakan satu-satunya di wilayah III Cirebon di jenjang perguruan tinggi.

Jadi, bagi temen-temen semuanya, yang memiliki hobi dan bakat mengenai marching, agar dapat melanjutkan jenjang pendidikan tingginya dengan masuk ke Uniku,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Kuningan (Uniku) Dr. Dikdik Harjadi, SE., M.Si., dalam sambutannya, mengatakan, dirinya mengapresiasi dan menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran panitia dan pengurus dari UKM MB BSA Uniku yang telah menyelenggarakan kegiatan “Band Day” ini sehingga bisa berjalan dengan baik.

“Terimakasih dan saya apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia penyelenggara dan pengurus dari MB BSA Uniku, yang telah menyelenggarakan kegiatan yang dirasa sangat positif dan bermanfaat sekali guna peningkatan wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai marching band,” tuturnya.

 

Baca Juga :