Adu Program, Persaingan Lembaga Pendidikan di Masa Kini

Adu Program, Persaingan Lembaga Pendidikan di Masa Kini – Tak terasa tahun doktrin baru baik sekolah maupun perkuliahan bakal kembali tiba, di akhir tahun doktrin ini semua siswa yang sudah lulus disibukkan dengan persiapan menempuh edukasi ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Bicara mengenai pendidikan, telah bukan rahasia lagi peranannya sangat urgen dalam upaya mencetak generasi bangsa yang cerdas, maju serta beradab demi membuat negeri yang hebat di masa depan.

Di tengah gencarnya serbuan teknologi dan arus globalisasi, edukasi berperan urgen sebagai penyeimbang supaya setiap anak-anak atau generasi muda siap menghadapi kehidupan serta dapat memahami dan memakai teknologi sebaik mungkin. Begitu tidak sedikit lembaga edukasi di masa kini, mulai dari lembaga edukasi formal sampai lembaga edukasi non formal, nyaris di masing-masing tempat tentu selalu terdapat lembaga pendidikan.

Jika zaman dahulu lembaga edukasi tidaklah banyak, di zaman kini lembaga edukasi tumbuh di mana-mana bahkan lembaga edukasi seperti pesantren membuka edukasi boarding school, dimana edukasi yang diajarkan ialah pendidikan laksana umumnya tetapi dipadukan dengan edukasi pesantren. Pendidikan masa sekarang tak bisa dipungkiri sudah bertransformasi jauh dari sebelumnya, telah tidak sedikit jenis edukasi berdiri mulai jenjang kanak-kanak sampai remaja.

Satu deviden sendiri untuk setiap orang tua dalam memilih edukasi terbaik guna anaknya ditengah banyaknya lembaga edukasi yang berdiri ketika ini, masing-masing orang tua pasti hendak setiap anaknya yang di sekolahkan mendapat edukasi yang terbaik supaya kelak nantinya menjadi anak yang bermanfaat dan dapat menjadi asa orang tua di masa depan.

Jika satu sisi ini ialah keuntungan untuk setiap orang tua murid dalam memilih edukasi terbaik guna anaknya maka untuk lembaga edukasi menjadi kendala tersendiri baginya ditengah gempuran banyaknya berdiri lembaga-lembaga edukasi yang baru. Inovasi sangatlah dibutuhkan dalam masing-masing apapun tergolong dalam dunia pendidikan. Bagi itulah masing-masing lembaga edukasi harus dapat bertransformasi dengan situasi zaman, orang tua di masa sekarang tentunya tak hendak anaknya mendapat edukasi yang itu-itu saja, namun pun pendidikan beda yang dapat mengembangkan bakat dan minat anak.

Berdasarkan pandangan ane secara individu apa yang terjadi di masyarakat, program di lembaga edukasi sangatlah di sorot keberadaannya dikomparasikan hal-hal lainnya seperti kemudahan atau bangunan. Meskipun kemudahan dan bangunan lembaga edukasi tak kalah penting, tetapi program di lembaga edukasi jauh lebih urgen dan dapat menarik orang tua guna menyekolahkan anaknya di lembaga edukasi tersebut atau anaknya sendiri yang tertarik dengan lembaga pendidikannya.

Sudah waktunya untuk setiap lembaga edukasi berinovasi dan bertransformasi, tidak saja sekedar mengedepankan fasilitas, namun pun menciptakan program-program yang unik dan dapat menumbuh kembangkan keterampilan anak. Ditengah arus globalisasi dan efek buruk lingkungan di masa sekarang sudah selayaknya lembaga pendidikan menggandakan program baik ekstrakulikuler atau urusan lainnya yang dapat mengarahkan anak mengarah ke hal-hal yang positif dan meraih tidak sedikit prestasi.

Inovasi tiada henti, tidak saja perusahaan-perusahaan saja yang butuh inovasi, tetapi lembaga edukasi pun tentunya butuh berinovasi dengan sekian banyak programnya supaya bisa menarik tidak sedikit siswa ke lembaga pendidikannya dan bisa berlomba dan kompetitif dengan lembaga edukasi lainnya.

Selengkapnya: bahasainggris.co.id/

12 Alasan Pendidikan di Finlandia Terbaik Sedunia

12 Alasan Pendidikan di Finlandia Terbaik Sedunia – Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baru, Muhadjir Effendy mengenai konsep full day school menuai tidak sedikit pro kontra. Berdasarkan keterangan dari mendikbud wacana tersebut bertujuan guna mengembangkan karakter anak, sampai-sampai terhindar dari kegiatan-kegiatan tidak urgen sepulang sekolah dan supaya orangtua dapat mengawasi anaknya tepat waktu.

Namun benarkah full day school dapat membuat edukasi Indonesia jadi lebih maju?

Sebaiknya anda harus berkaca ke Finlandia dimana edukasi di sana ditetapkan yang terbaik di semua dunia. Bahkan ternyata di sana ada sejumlah aspek yang berlawanan jauh dengan konsep full day school ala mendikbud ini.

Lalu apa sih, rahasia edukasi di sana sehingga dapat menjadi yang terbaik di dunia? Simak ulasannya inilah ini seperti yang sudah dikoleksi dari edweek.org:

1. Perbanyak bermain.

Di Finlandia orangtua percaya bahwa anak-anak dapat belajar melalui tidak sedikit cara, salah satunya bermain. Jadi guru di sana tidak hanya mencekoki siswa dengan kitab teks saja, tetapi dengan tidak sedikit bermain untuk mengejar potensi dirinya.

2. Tidak mempunyai standar guna nilai.

Pendidikan di sana berasumsi adanya standar nilai malah akan menciptakan anak stres ketika akan ujian. Oleh karena tersebut mereka tidak mempedulikan anak belajar sendirinya dengan apa yang digemari tanpa mesti terbebani dengan nilai. Sementara tersebut nilai lebih ditentukan oleh guru menurut keaktifan anak di kelas.

3. Kepercayaan.

Faktor berikut yang sangat penting di sana. Pemerintah percaya terhadap pendidik dan pendidik percaya untuk siswa mereka. Begitu pun sebaliknya, orangtua mengamanatkan pendidikan anaknya ke sekolah tanpa mesti mencampuri terlampau dalam.

4. Tidak ada kompetisi antar sekolah.

Jika di negara lain tergolong Indonesia masing-masing sekolah berlomba untuk mendapat gelar sekolah terbaik, bertolak belakang dengan di Finlandia. Di sana tidak ada kompetisi antar sekolah. Semua sekolah dipercayai punya kualitas baik guna anak mereka.

5. Semua guru diseleksi dengan ketat.

Salah satu hal penting dari suatu pendidikan ialah peran semua guru. Guru di sana mesti diseleksi dengan ketat mulai dari nilai, integritas mereka, motivasi mereka dalam mengajar, serta karya apa yang dapat menunjang edukasi di Finlandia.

6. Waktu tidur yang panjang.

Di sana masa-masa istirahat sekolah dapat sampai 45 menit. Finlandia percaya bahwa kapasitas masing-masing siswa dalam belajar akan sukses jika mereka mempunyai waktu bersantai yang cukup. Sehingga masa-masa belajar, benak mereka bakal segar dan dapat fokus kembali.

7. Jam belajar hanya 4-5 jam.

Siswa SD dan SMP di sana belajar di sekolah hanya 4-5 jam. Sedangkan guna SMA sama dengan kuliah, melulu menghadiri ruang belajar yang telah dipilih dari mula masuk. Dengan begini siswa diinginkan tidak stres dan kecapekan ketika sekolah.

8. Guru mempunyai hak guna bahagia.

Sama dengan muridnya, guru di sana pun tidak dituntut bekerja keras. Karena mereka yakin guru yang bahagia akan menciptakan siswanya ikut berbahagia juga. Oleh sebab setiap guru di sana melulu mengajar 20 jam per minggunya.

9. Siswa dilepaskan memilih latihan yang cocok dengan kemampuannya.

Setelah umur 16 tahun, siswa dilepaskan mau masuk sekolah biasa (akademi berbasis) atau kejuruan. Tidak terdapat perbedaan dari dua sekolah itu, semuanya dihormati oleh masyarakat Finlandia.

10. Standar nilai ditentukan guru.

Finlandia tidak mempunyai ujian akhir atau UAN andai di Indonesia. Kemampuan murid akan dinilai langsung oleh guru ruang belajar yang mengetahui keterampilan dan prestasi anak sekitar ini di kelas.

11. Pelajaran etika wajib dibuntuti sejak kesatu masuk sekolah.

Pelajaran ini diharuskan dalam kelas-kelas utama baik yang beragama maupun atheis. Hal ini bertujuan untuk menyusun karakter anak yang baik.

12. Fasilitas sekolah yang lengkap.

Orang Finlandia percaya bahwa kesuksesan edukasi anak mereka pun ditentukan oleh kemudahan sekolah yang memadai. Oleh karena tersebut di dalam sekolah tidak sedikit ruang-ruang bermain atau diskusi bersama. Tak melulu itu saja ruang olahraga pun ada dimana-mana untuk menciptakan pikiran dan tubuh siswa dapat segar masing-masing saat.

Selengkapnya: sekolahan.co.id/

Perkembangan Demokrasi

Perkembangan Demokrasi

Perkembangan Demokrasi

Perkembangan Demokrasi

Para filsuf klasik seperti Plato, Aristoteles dan Polybius, pada umumnya mereka mengklasifikasikan bentuk-bentuk negara menjadi tiga bentuk, yaitu monarkhi, aristokrasi dan demokrasi. Kriteria yang digunakan dalam kualifikasi ini adalah:

  • Pertama, jumlah orang yang memegang pemerintahan, apakah satu orang tunggal, beberapa atau golongan orang ataukah dipegang oleh seluruh rakyat
  • Kedua, sifat pemerintahannya, apakah ditujukan untuk kepentingan umum, ini yang baik, ataukah hanya untuk kepentingan pemegang pemerintahan itu saja, ini yang buruk
  • Ketiga, bentuk negara diatas adalah baik jika ditujukan untuk kepentingan umum, namun akan mempunyai ekses yang buruk jika ditujukan untuk kepentingan pemegang pemerintahan saja. Ekses dari monarki adalah tirani, ekses dari aristokrasi adalah oligarki, sedangkan ekses dari demokrasi adalah anarki.
Sesudah perang dunia II sebagian besar negara di dunia menyatakan secara formal sebagai negara yang berasas demokrasi. Namun penerapan istilah demokrasi ini tidak sama di berbagai Negara, sehingga kita dapat mengenal bermacam-macam demokrasi, di Indonesia misalnya pernah diterapkan demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila, di Negara-negara lain ada pula demokrasi rakyat, dan demokrasi nasional.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 1949, bahwa mungkin untuk pertama kali dalam sejarah, istilah demokrasi dinyatakan sebagai nama yang paling baik dan wajar untuk semua sistem organisasi politik dan sosial yang diperjuangkan oleh para pendukungnya yang berpengaruh. Akan tetapi UNESCO juga menyimpulkan bahwa istilah demokrasi bersifat ambigious atau mempunyai arti ganda dalam kaitannya dengan lembaga atau cara-cara yang dipakai untuk melaksanakan ide demokrasi itu.
Dalam pelaksanaannya terdapat banyak aliran demokrasi. Namun diantaranya ada dua kelompok aliran penting, yaitu demokrasi konstitusional dan demokrasi komunisme. Kedua kelompok aliran demokrasi tersebut berasal dari Eropa, tetapi setelah Perang Dunia II juga didukung oleh beberapa negara baru di Asia.
Demokrasi konstitusional diikuti oleh India, Pakistan, Filipina dan Indonesia, meski terdapat bermacam-macam bentuk pemerintahan dan gaya hidup dalam negara-negara itu. Sedangkan demokrasi yang mendasarkan diri atas komunisme diikuti antara lain oleh Cina, Korea Utara, Vietnam, Yoguslavia dan Rusia.
Islam dan Demokrasi
Islam dan demokrasi, setidaknya terdapat tiga pandangan tentang:
Pertama, Islam dan demokrasi adalah dua sistem politik yang berbeda. Islam tidak bisa disubodinatkan dengan demokrasi karena Islam merupakan sistem politik yang mandiri (self-suffcient). Dalam bahasa politik muslim, Islam sebagai agama yang kaffaah (sempurna) tidak saja mengatur persoalan keimanan (akidah) dan ibadah, melainkan mengatur segala aspek kehidupan umat manusia termasuk aspek kehidupan bernegara.

Kedua, Islam berbeda dengan demokrasi jika demokrasi didefinisikan secara procedural seperti dipahami dan dipraktikkan di Negara-negara Barat. Kelompok kedua ini menyetujui adanya prinsip-prinsip demokrasi dalam Islam. Tetapi, mengakui adanya perbedaan antara Islam dan demokrasi. Bagi kelompok ini, Islam merupakan sistem politik demokratis kalau demokrasi didefinisikan secara substantif, yakni kedaulatan di tangan rakyat dan negara merupakan terjemahan dari kedaulatan rakyat ini.

Ketiga, Islam adalah sistem nilai yang membenarkan dan mendukung sisstem politik demokrasi seperti yang diperaktikkan negara-negara maju. Islam di dalam dirinya demokratis tidak hanya karena prinsip syura (musyawarah), tetapi juga karena adanya konsep ijtihad dan ijma (konsensus). Di Indonesia pandangan ketiga ini lebih dominan karena demokrasi sudah menjadi bagian integral sistem pemerintahan Indonesia dan negara-negara muslim lainnya.

Zonasi Guru, Antara Pemerataan Mutu dan Mutasi Pengajar

Zonasi Guru, Antara Pemerataan Mutu dan Mutasi Pengajar

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersiap merealisasikan redistribusi guru dalam masa-masa dekat. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Supriano menyatakan tujuan dari program zonasi yang sangat utama ialah hilangnya cap sekolah kesayangan di masyarakat.

Berdasarkan keterangan dari Supriano, sistem zonasi akan mengolah penyebaran guru di dalam satu zona. Guru dalam satu sekolah bakal dikategorikan menjadi empat.

“Kami kategorikan menjadi empat kategori: guru PNS yang telah bersertifikasi dan yang belum; Guru honorer yang berserfitikasi dan yang belum,” kata Supriano di kantornya di Kemendikbud, Kamis (30/8).

Guru bersertifikasi yang dinilai mempunyai kompetensi baik, bakal didistribusikan ke sekolah yang kelemahan guru bersertifikasi dalam satu zona. Supriano memastikan mutasi guru tersebut tak lebih dari 10-15 km dari sekolah asal sebab notabene berada dalam satu kabupaten/kota.

Guru yang telah dimutasi pun belum pasti akan tetap bermukim di sekolah itu dalam masa-masa lama. Sebab, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dapat saja menyimpulkan bahwa satu sekolah lebih memerlukan guru tersebut menyaksikan hasil Ujian Nasional sekolahnya.

Namun, Supriano menuliskan pihaknya masih akan mengerjakan rapat koordinasi bulan depan dengan pemerintah kabupaten dan kota guna sinkronisasi dan menerima masukan tentang jumlah zona dalam satu kabupaten.

“Kami konfirmasi dengan kabupaten/kota dulu telah pas atau belum sebab mereka yang lebih tahu detail,” ujarnya.

Di samping itu, sistem ini juga dipakai untuk zonasi pelatihan guru supaya lebih cocok dengan keperluan di zona tersebut. Hal ini sebab Kemendikbud meyakini keperluan kompetensi guru di masing-masing zona bakal berbeda-beda.

“Pelatihan guru juga dengan sistem zonasi nanti yang mengerjakan MGMP guna mata latihan nanti bakal kelihatan ke depannya latihan apa yang kurang,” kata Supriano.

Mendikbud Muhadjir Effendy sebelumnya menuliskan bahwa pemerintah wilayah yang tak menjalankan zonasi guru bakal dijatuhi sanksi.

“Saya sedang bicara dengan Menteri Keuangan. Nanti terdapat sistem reward (hadiah) dan punishment (sanksi) untuk daerah yang tidak mengerjakan peraturan itu,” kata Muhadjir di Kemendikbud, Jakarta, pada Rabu (29/8).

Namun Supriano optimis sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), semua guru akan mengekor undang-undang untuk mau dikirim ke sekolah yang membutuhkan.

Tantangan zonasi sekolah

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi menilai bahwa jumlah guru di wilayah tidaklah mencukupi untuk implementasi sistem ini. Jika jumlah guru kurang, dia mempertanyakan guru mana yang akan dipecah ke sekolah.

“Ini tidak semudah apa yang terdapat dalam pikiran sebab guru yang terdapat sekarang tersebut kurang, apa yang inginkan diredistribusi? Konsep pelajaran.id/ tersebut kalau di lapangan sulit dilakukan,” ungkapnya.

Akan namun Supriano menuliskan zonasi malah akan menjawab keperluan guru di daerah. Dengan sistem tersebut, ia mengklaim pemetaan kelemahan guru yang terdapat di sekolah beserta kompetensinya bakal lebih mudah dilaksanakan dan dikatakan ke Kemenpan RB.

Ilustrasi guru melatih di kelas.PGRI menilai gagasan zonasi guru bakal sulit dilaksanakan di daerah.

“Nah tersebut kita mesti mendorong guna rekrutmen guru. Setelah diredistribusikan di zona maka bakal kelihatan apa yang kurang,” ujarnya.

Di sisi lain, Unifah menyinggung bahwa sistem zonasi guru bakal sulit sebab guru, meskipun direkrut sebagai ASN, adalahkewenangan pemerintah daerah. Sehingga, akan susah memutasi guru dari satu lokasi ke lokasi lain kecuali wewenang tersebut ditarik ke pusat.

“Berdasarkan keterangan dari saya, pemerintah wilayah punya kewenanagn masing-masing, jadi sekitar guru tidak bisa ditarik ke pusat maka tidak terlampau tidak sedikit yang dapat dilakukan oleh kementerian,” tambah Unifah.

Supriano tak mau menyerahkan komentar tentang pendapat Unifah tersebut.

Di samping terhadap guru, zonasi sebelumnya telah diterapkan guna Penerimaan Peserta Didik Baru sekitar dua tahun terakhir. Zonasi pun akan dipakai untuk sharing sarana prasana atau infrastruktur sekolah contohnya seperti lab dalam satu distrik yang sama.

Pembelajaran Dengan Interactive Skill Station Berbasis TI

Pembelajaran Dengan Interactive Skill Station Berbasis TI

Pembelajaran Dengan Interactive Skill Station Berbasis TI

Pembelajaran Dengan Interactive Skill Station Berbasis TI

Pendahuluan

Sekolah dalam rangka meningkatkan daya saing memerlukan pembelajaran yang lebih efektif dan padu antara dimensi pengetahuan dan dimensi pengetahuan dengan dimensi proses kognitif pembelajarannya di dalam domain pilar pendidikan. Tujuan kompetensi akan dicapai melalui kurikulum. Kompetensi dinyatakan dalam bentuk penguasaan dimensi prosedural pengetahuan dan dimensi kognitif pada jenjang kreativitas, melalui berbagai cara/metode pembelajaran. Di dalam materi pembelajaran tersebut dimensi afektif dan psikomotorik pengetahuan telah disatukan dengan kognitif.

Oleh karena itu materi dan proses pembelajaran di sekolah tidak lagi berbentuk teachercentered contentoriented (TCCO), tetapi diganti dengan menggunakan prinsip studentcentered learning (SCL). Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menyediakan banyak cara mendapatkan informasi sumber belajar. Hal ini memberikan peluang untuk mengembangkan metode pembelajaran baru yang secara optimal memanfaatkan teknologi tersebut untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.


Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 ayat 1 menyatakan proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan minat, bakat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Berdasarkan hal tersebut disimpulkan terdapat tuntutan adanya pergeseran paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran.

Paradigma pengajaran yang lebih menitikberatkan peran pendidik dalam mentransformasikan pengetahuan kepada peserta didiknya bergeser pada paradigma pembelajaran yang memberikan peran lebih banyak kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitas dirinya dalam rangka membentuk manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, berakhlak mulia, berkepribadian, memiliki kecerdasan, memiliki estetika, sehat jasmani dan rohani, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.


Pola pembelajaran yang terpusat pada guru sudah tidak memadai untuk mencapai tujuan pendidikan. Permasalahan yang dihadapi karena disebabkan:

  1. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan seni yang sangat pesat menghasilkan berbagai kemudahan bagi siswa untuk mengakses sumber-sumber belajar yang sulit dapat dipenuhi oleh seorang guru,
  2. Perubahan kompetensi kekaryaan yang berlangsung sangat cepat memerlukan materi dan proses pembelajaran yang lebih fleksibel,
  3. Kebutuhan untuk mengakomodasi demokratisasi partisipasif dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Oleh karena itu pembelajaran sekolah ke depan di dorong menjadi berpusat pada siswa (SCL) dengan memfokuskan pada tercapainya kompetensi yang diharapkan. Hal ini berarti siswa harus didorong untuk memiliki motivasi dalam diri mereka sendiri, kemudian berupaya keras mencapai kompetensi yang diinginkan.

Kurikulum merupakan seperangkat usaha sekolah untuk mempengaruhi siswa belajar, mencakup pengalaman, lingkungan belajar, kemampuan, dan minat siswa. Oliva (1992:4) mengemukakan that in every school in which teachers are instructing student a curriculum exists. Setiap sekolah di mana guru mengajar siswa itu mencerminkan terdapat kurikulum. Disimpulkan dalam mengelola kurikulum di sekolah, salah satu aktivitas terpenting adalah mengelola kegiatan pembelajaran sebagai aplikasi kurikulum di sekolah. Penguasaan materi oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran merupakan hal penting, media dan metode menyesuaikan dengan materi pelajaran.

Penggunaan media dan metode pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan daya serap siswa terhadap materi pelajaran. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan diupayakan aktif, kreatif, dan menyenangkan, agar siswa termotivasi dalam belajar. Mutu kegiatan pembelajaran menjadi faktor yang berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Efektivitas kegiatan pembelajaran dipengaruhi oleh 1) lama waktu belajar, 2) materi, metode, dan media pembelajaran, 3) penilaian, umpan balik, dan bentuk penghargaan bagi siswa, dan (4) jumlah siswa dalam satu kelas.


  1. Konsep Interactive Skill Station

Pengembangan metode pembelajaran Interactive Skill Station (ISS) yang merupakan pendekatan dalam upaya peningkatan optimalisasi kegiatan pembelajaran, dilaksanakan secara sinergis dan aplikatif. Secara garis besar penerapan kegiatan pembelajaran dengan ISS menurut Sakti, dkk. (2008) ialah dengan membagi peserta di dalam kelas menjadi sejumlah kelompok kecil dengan tugas masing-masing untuk mempersiapkan materi ajar, mempelajari topik bahasan sesuai dengan penugasan yang diberikan. Setiap topik bahasan didiskusikan, dan menjadi tugas setiap anggota kelompok untuk menjelaskan kembali apa yang telah dipelajari kepada peserta belajar di luar kelompoknya.

Peran guru di dalam metode ISS ialah sebagai fasilitator dan nara sumber di dalam setiap kelompok diskusi, dan di dalam diskusi pleno yang dilakukan sesudah diskusi kelompok berlangsung. Metode ISS menurut Sakti, dkk. (2008) memberikan beberapa manfaat, yaitu 1) melatih rasa percaya diri siswa untuk menyatakan pendapat dan berbicara di depan umum, 2) melatih kreativitas siswa, dan 3) ada penilaian obyektif antarsiswa.


 

Kedudukan Pendidik Suatu Telaah dalam Pendidikan Islam

Kedudukan Pendidik Suatu Telaah dalam Pendidikan Islam

Kedudukan Pendidik Suatu Telaah dalam Pendidikan Islam

Kedudukan Pendidik Suatu Telaah dalam Pendidikan Islam

Pendidik diidentikan dengan gudang ilmu pengetahuan atau khazanah ilmu pengetahuan, sehingga pendidik dengan keilmuan yang dimiliki mendapatkan tempat yang terhormat di tengah masyarakat, dengan gelar yang diberikan pahlawan tanpa tanda jasa, walaupun gelar ini banyak mendapat sindiran dari berbagai unsur, namun tidak mengurangi pengabdian pendidik dalam menjalankan tugasnya.

Bahkan setiap berbagai kesempatan harapan-harapan selalu diberikan kepada pendidik, yang terbaru adalah harapan yang diberikan dalam bentuk sertifikasi guru (guru merupakan salah satu unsur pendidik), pada intinya akan adanya harapan penambahan “penghasilan”. Pertanyaan yang muncul, apakah keikhlasan pendidik diukur dengan lulus sertifikasi? Tentu jawabanya: Tidak. Dalam konteks ini, penulis ingin mengungkap kedudukan pendidik pada sisi lain, yakni kedudukan pendidik dalam perspektif pendidikan Islam.


Orang yang mempunyai ilmu pengetahuan, dalam Islam mendapatkan tempat yang dimuliakan, karena Islam sangat menghormati yang demikian, Islam tidak dapat dikembangkan dan dilestarikan tanpa orang yang mempunyai ilmu. (Samsul Nizar, 2002: 41) Ini dapat ditemukan dalam al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11 di mana Allah sangat meninggikan orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.

Abuddin Nata (2002: 169-170) membuat analisa implikasi kependidikan yang terkandung dalam surat al-Mujadalah ayat 11 adalah pertama, tujuan akhir pendidikan adalah agar menjadi seorang muslim yang terbina seluruh potensi dirinya sehingga dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah dalam rangka beribadah kepada Allah. Kedua, dalam kegiatan pengajaran, pendidik (guru) mau tidak mau harus mengajarakn ilmu pengetahuan, karena dalam ilmu pengetahuan itulah akan dijumpai berbagai informasi, teori, rumus dan konsep-konsep yang diperlukan mewujudkan tujuan pendidikan.

 

Ketiga, melalui pendidikan diharapkan pula lahir manusia yang kreatif, sanggup berpikir sendiri, sanggup mengadakan penelitian dan penemuan. Keempat, pelaksanaan pendidikan harus mempertimbangkan prinsip pengembangan ilmu pengetahuan sesuai dengan petunjuk al-Qur’an. Kelima, pengajaran berbagai ilmu pengetahuan dalam proses pendidikan yang sesuai dengan ajaran al-Qur’an, akan menjauhkan manusia dari sikap takabur, sekuler dan ateistik. Keenam, pendidikan harus mampu mendorong anak didik agar mencintai ilmu pengetahuan, yang terlihat dari terciptanya semangat dan etos keilmuan yang tinggi, memelihara, menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.


Orang yang berilmu atau ‘aalim, menurut Ahmad Tafsir (2002: 76), merupakan realisasi ajaran Islam itu sendiri. Islam memuliakan pengetahuan; pengetahuan didapat dan diperoleh dari proses pembelajaran, yang belajar adalah calon guru dan yang mengajar adalah guru. Dalam konteks ini proses pembelajaran dalam kelas dapat terjadi adanya pendidik dan peserta didik, pendidik menyampaikan ilmu (transfer of knowledge), peserta menerima ilmu pengetahuan (given of knowledge) serta tanpa pendidik tidak bisa pembelajaran berjalan dan tanpa peserta didik pun pembelajaran mustahil dapat dilaksanakan.

Ahmad Tafsir lebih jauh menjelaskan umat Islam amat menghargai pendidik, disebabkan oleh pandangan bahwa ilmu pengetahuan itu semuanya bersumber pada Tuhan. Ilmu datang dari Tuhan; guru pertama adalah Tuhan. Pandangan yang menembus langit tidak boleh tidak telah melahirkan sikap pada orang Islam bahwa ilmu itu tidak terpisah dari Allah, ilmu tidak terpisah dari guru, maka kedudukan guru amat tinggi dalam Islam.

Al-Ghazali dalam bukunya Ihya ’Ulumuddin menempatkan pendidik pada kedudukan yang amat tinggi, kedudukan langsung setelah para nabi. Hadis Nabi Muhammad saw. al ulama wa ratsah al-anbiyaa (ulama adalah pewaris nabi), ulama dalam ungkapan hadis tersebut termasuk para pendidik, karena pendidik juga menyampaikan risalah nabi Muhammad saw.


Apabila ditelusuri lebih jauh tentang pewaris nabi, maka didapat ungkapan bahwa nabi merupakan sebagai pendidik yang sangat konsekuen dengan peningkatan sumber daya manusia. Sebagai pendidik, nabi tentu saja telah dibekali Allah swt. tidak hanya dengan al-Qur’an tetapi juga dengan kepribadian dan karakter istimewa. Sebagai pendidik dan Rasul, misi kependidikan pertama Muhammad saw. adalah menanamkan aqidah yang benar yakni aqidah tauhid. Ketika Nabi Muhammad di Mekkah, misi utama beliau adalah membangun masyarakat yang bertauhid, meletakkan dasar-dasar fundamental bagi pembentukan nucleus masyarakat yang viable untuk menjawab tantangan zaman. Ketika Nabi di Medinah, beliau melaksanakan fungsi sebagai pendidik utama dalam pembangunan masyarakat sosial politik, masyarakat politik-keagamaan Islam Madinah. Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad saw. sendiri mengidentifikasikan pesan dakwahnya sebagai pendidik atau pengajar (mu’allim). (Azyumardi Azra, 2000: 55-56)

Pendidik digambarkan oleh Kamal Muhammad Isa (1994: 64) adalah pemimpin sejati, pembimbing dan pengarah yang bijaksana, pencetak para tokoh dan pemimpin ummat. Justru karena itu menurut Kamal Muhammad Isa pendidik merupakan manusia pilihan, yang siap memikul amanah dan menunaikan tanggungjawab dalam pendidikan peserta didiknya.


Sedangkan al-Hasyimi (2001: 166) mengibaratkan bahwa pendidik merupakan faktor yang asasi dalam hidup manusia dan ia menempati posisi yang kuat dengan pengaruhnya dalam membentuk pribadi individu, di mana pengaruh-pengaruhnya itu berkelanjutan sepanjang hidupnya. Keberadaan pendidik sebagai yang asasi dalam hidup manusia, karena ia dapat membantu peserta didik atas perkembangan dari makhluk hidup yang berjisim saja menuju manusia yang memiliki kepribadian sebagaimana juga akan membantunya atas pertumbuhan yang sempurna sebagai manusia.

Melihat begitu tingginya Islam menempatkan orang yang memiliki ilmu pengetahuan, maka sudah sepatut dan sepantasnya setiap elemen yang mempergunakan jasa pendidik juga ikut memuliakan, sehingga pendidik dengan senang dan menyenangkan dapat melaksanakan proses pembelajaran. Pembelajaran menyenangkan dikembangkan dalam bentuk pembelajaran aktif, inovetif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Menyenangkan di sini, dilihat dalam hal pembelajaran dan hubungan dengan siswa serta dengan rekan-rekan kerja dalam wadah majelis guru.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa Allah swt. dan Rasulullah saw. menempatkan pendidik pada tempat yang mulia dan terhormat. Oleh karenanya sudah saatnya semua komponen menempatkan pendidik pada tempat terhormat pula. Dalam kontek kebijakan sertifikasi guru, penulis menempatkan pada salah satu upaya untuk memberikan tempat yang terhormat kepada pendidik (guru). Semoga demikian …..


Sumber : https://www.gurupendidikan.co.id/

Multidemensi penerbitan buletin sekolah

Multidemensi penerbitan buletin sekolah

Kegiatan Jurnalistik Sebagai Upaya Mempercepat Pengembangan Karakter Siswa, menjadi tema Lomba Karya Jurnalistik Siswa (LKJS) tingkat SMP 2015 lagi digelar Kemdikbud. SMP sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat mengoptimalkan selagi studi di sekolah. Siswa ikuti pendidikan di sekolah hanya lebih kurang 7 jam per hari, atau tidak cukup dari 30%. Selebihnya (70%), siswa berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Akan tetapi sepanjang ini, keluarga belum beri tambahan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian pembentukan karakter siswa (Panduan Pendidikan karakter di Sekolah Menengah Pertama terbitan Kemdikbud 2011). Kesibukan orang tua dalam mencukupi keperluan hidup, efek pergaulan, berbagai persoalan dekadensi moral udah hingga terhadap taraf meresahkan. Pengaruh fasilitas elektronik ditengarai mempersulit implementasi pendidikan karakter.

Multidemensi penerbitan buletin sekolah

Lulusan SMP yang berkarakter baik, selain dibentuk lewat pembelajaran di kelas, aktivitas ekstra kurikuler, terhitung benar-benar dipengaruhi oleh managemen sekolah. Managemen sekolah yang berkarakter baik adalah pemakaian dan pemberdayaan semua sumber kekuatan yang dimiliki sekolah, lewat proses dan pendekatan dalam rangka mencapai target secara efisien dan efisien. Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa siswa ke pengenalan secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan selanjutnya ke pengalaman nilai secara nyata.

Penerbitan buletin sekolah dapat dijadikan fasilitas untuk melatih keterampilan baca, dan keterampilan menulis. Dengan aspek pendukung perpustakaan dan laboratorium computer. Proses utama dalam jurnalistik adalah melacak bahan berita, mengolah berita, menyajikan berita dan menyebarluaskan berita kepada publik. Tidaklah mudah menuliskan inspirasi dan inspirasi dalam bentuk tulisan. Perlu latihan secara terus menerus serta fasilitas untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri, sehingga siswa dapat menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Ada lebih dari satu demensi terkait penerbitan buletin sekolah. Mulai dari pengembangan kecerdasan bahasa (Linguistic Intelligence), meliputi kekuatan memanfaatkan kalimat secara efisien dalam membaca, menulis, dan berbicara. Mengasah kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan interpersonal kala membangun kerjasama tim redaksi. Dua keterampilan pokok itu merupakan kekuatan untuk mengetahui dan terima perbedaan antar individu dan kekuatan untuk mengetahui emosi, keadaan hati, perspektif, dan semangat orang. Di segi lain, dengan memfasilitasi pengembangan potensi siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki; kompetensi pedagogik guru pembimbing ikut teraktualisasi. Kompetensi kepribadian ditunjukkan lewat etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat sebagai realisasi kompetensi sosial. Dan tindakan reflektif dikerjakan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan.

Kehadiran pers sekolah memudahkan penyampaian Info dan tingkatkan pengetahuan siswa. Kedua, penerbitan buletin menjadi wadah kreativitas remaja untuk melahirkan ide, kekuatan cipta dan imajinasi yang mengiringi perkembangan jiwanya. Ketiga, menanamkan formalitas membaca yang dapat tingkatkan pengetahuan dan memperluas wawasan. Keempat, pengisi selagi luang secara cerdas. Kelima, melatih berpikir kritis. Keenam, melatih berorganisasi. Dalam buletin sekolah, tersedia redaktur yang menanggulangi penerbitannya. Mereka terdiri atas pemimpin redaksi (pemred), reporter, editor atau penyunting kebahasaan, tenaga tata letak (lay outer), tenaga ilustrator dan grafis, serta tim pemasaran dan distribusi. Secara tidak langsung, tim buletin sekolah dapat mendapat pengalaman mengenai mengelola dan mobilisasi roda organisasi. Ketujuh, melatih siswa bekerja secara disiplin. Sebab, tersedia deadline untuk penerbitan.

Kedelapan, penyemai demokrasi. Sebelum buletin sekolah terbit, tim redaksi mengadakan musyawarah untuk menentukan tema dan rubrik apa saja yang dapat dimuat terhadap edisi selanjutnya. Dalam musyawarah tersebut, tentu keluar ide-ide baru dan awak redaksi lain dapat beri tambahan tanggapan, mana yang lebih baik demi keperluan penerbitan buletin sekolah. Seluruh inspirasi yang masuk didiskusikan lagi di internal redaksi dengan melibatkan guru pembimbing. www.ruangguru.co.id

Kesembilan fasilitas promosi. Buletin sekolah merupakan alat promosi paling ampuh bagi suatu lembaga sekolah. Pihak lain atau pembaca dapat mengerti berlebihan apa saja yang dimiliki sekolah terkait dari majalah tersebut. Misalnya, prestasi yang diraih siswa, guru, ataupun sekolah, kiprah sekolah di sosial kemasyarakatan, dan lain-lain. Juga pembaca dapat mengerti program apa yang udah dikerjakan oleh sekolah. Dengan begitu, pembaca dapat menilai bagaimana kualitas sekolah yang bersangkutan.

Dalam rangka buat persiapan generasi penerus, sekolah perlu menerbitkan buletin sebagai fasilitas Info dan komunikasi yang benar-benar sederhana. Akan tetapi dapat menjadi wadah untuk berekspresi. Sehingga dapat bermunculan potensi siswa dalam hal menulis. Karya mereka dihargai dan tidak dibuang begitu saja. Dengan demikianlah maka sekolah udah memfungsikan diri sebagai daerah pembentukan generasi yang siap berkompetisi di masa global. Semua lagi terhadap sebuah hasrat yang kuat untuk bersama membangun generasi muda lewat lembaga sekolah.

Disiplin Aja

Disiplin Aja

Kekaguman seluruh orang, lebih-lebih civitas akademik di sekolah kami, tertuju kepada keliru seorang peserta didik yang baru-baru ini berhasil raih juara 1 lomba bridge tingkat propinsi 2015. Ada perihal menarik yang dilakukannya sepanjang mengejar tujuan juara, ‘tak tersedia yang dapat mengalahkan manusia-manusia yang disiplin’. Begitulah sepenggal komitmen sang juara bridge tersebut. Nampak dalam kesehariannya memegang teguh komitmen disiplin tersebut, baik disiplin sekolah maupun disiplin berlatih bridge.

Disiplin Aja

Kata disiplin disini bukan artinya sempit seperti halnya ideologi militerisme, yang berasumsi cuma militer saja yang punyai kedisiplinan, integritas, tanggung jawab, berseragam lengkap, singgah tepat waktu, dll. Disiplin disini lebih artinya terhadap sebuah komitmen. Ketika peserta didik kami mengambil keputusan untuk mengejar tujuan juara propinsi, maka beliau berkomitmen bersama berdisiplin diri lakukan hal-hal yang menopang dirinya dapat menjadi juara.

Tipe kedisiplinan yang diterapkan oleh sang juara selanjutnya juga terhadap forced disiplin berkombinasi bersama self discipline. Sejatinya tersedia tiga jenis disiplin yang kami kenal, peserta didik maupun guru yang dambakan menjadi juara dalam segala bidang, maka kudu secara menyadari pandai pilih dan memakai tiga jenis disiplin. Forced discipline, Self discipline, Indisiplin.

Forced discipline dimunculkan atau terjalin dalam sebuah proses yang digerakkan berasal dari luar oleh instansi tempat kami belajar atau bekerja, orang tua, guru, pelatih. Jenis disiplin ini bakal mengharuskan kami menjadi teristimewa yang punyai nilai-nilai ketaatan, kesetiaan, keteraturan, dan ketertiban. Hasil berasal dari situasi yang tercipta selanjutnya adalah bentuk komitmen diri terhadap apa yang dambakan dicapai, seperti halnya memperoleh juara bridge yang tidaklah ada problem untuk didapatkan dikala forced disiplin ini udah terbentuk bersama baik.

Self discipline adalah jenis disiplin yang kedua. Disiplin ini berasal berasal dari diri tiap-tiap yang dibentuk secara konsisten dan melawan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan diri. Ketika kawan sebaya nikmati hari-harinya bersama bermain game dan lain-lain, seseorang yang punyai self discipline, untuk raih prestasi maka bakal lewat masa-masa ketidaknyamanan dan pemberontakan diri dan dikala ditunaikan bersama konsisten serta tetap berkembang, maka hasil yang dikehendaki tinggal menunggu selagi saja.

Jenis disiplin yang ketiga yaitu indisiplin. Adalah pilihan yang paling disukai oleh sifat basic manusia, yaitu malas. Human being is a lazy organism, manusia adalah makhluk yang malas. Masyarakat Indonesia lebih suka pilih jenis disiplin yang ketiga ini, dalam berbagai bidang udah menjadi tradisi penduduk lakukan hal-hal yang berbau indisiplin. Tidak bakal tersedia prestasi seumpama konsisten indisiplin, yang tersedia adalah manusia-manusia konsumtif yang tanpa prestasi apapun.

SBY, Jokowi, hingga Nurbeti yang ahli membuat kerajinan tangan, dikala ditanya bagaimana kunci suksesnya, pasti keliru satunya adalah kepandaian mereka pilih jenis kedisiplinan dan menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari. Seperti budaya bushido yang tersedia di negeri Matahari Terbit yaitu kerja keras, disiplin tingggi, dan pantang menyerah, bakal membuahkan prestasi-prestasi yang luar biasa. Pilihannya tersedia dua yaitu berdisiplin diri atau didisiplinkan oleh orang lain.

Sang juara bridge pasti setuju bersama yang dikatakan Michael angelo bahwa terkecuali kamu menyadari berapa kerasnya saya bekerja untuk memperoleh keahlian saya maka sesungguhnya tidak tersedia yang kudu mereka kagumi. Semua orang sesungguhnya tidak bakal mengagumi sang juara bridge seumpama menyadari bahwa perjuangan menjadi juara yang dilandasi oleh disiplin tidaklah menganggumkan. Sehingga pribadi-pribadi yang biasa-biasa saja pun bakal dapat berprestasi dan menjadi juara bilamana pandai pilih dan memakai jenis disiplin yang dipakai oleh para sang juara.

PERAN GURU SEBAGAI PENGELOLA KELAS

PERAN GURU SEBAGAI PENGELOLA KELAS

PERAN GURU SEBAGAI PENGELOLA KELAS

PERAN GURU SEBAGAI PENGELOLA KELAS

. Pengertian Pengelolaan Kelas

Sekolah sebagai organisasi kerja terdiri dari beberapa kelas, baik yang bersifat paralel maupun yang menunjukkan perjenjangan. Oleh karena itu setiap guru atau wali kelas sebagai pimpinan menengah atau administrator kelas, menempati posisi dan peranan yang penting. Karena memiliki tanggung jawab mengembangkan dan memajukan kelas masing-masing yang berpengaruh dan perkembangan dan kemajuan sekolah secara keseluruhan.

Dengan melihat urain di atas yang merupakan usaha kegiatan pengelolaan kelas, maka penulis akan mengemukakan pengertian pengelolaan kelas, namun sebelum penulis bicarakan tentang pengertian pengelolaan kelas, terlebih dahulu kita mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan kelas.

Menurut , (Abdurrahman, 1994: 199).Kelas dalam arti sempit adalah ruangan tempat sejumlah warga belajar terlibat dalam proses balajar mengajar. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil (warga belajar) sebagai bagian bagian dari masyarakat sekolah, merupakan satu kesatuan unit kerja yang terorganisir di dalam penyelenggara proses belajar mengajar secara aktif, kreatif dan positif untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran dalam luas.

Dalam pelaksanaan selalu ada tahap – tahap pengurusan, pencatatan dan penyimpanan dokumen. Pengurusan akan mudah dan lancar apabila di dalam perencanaan dan pengorganisasian cukup mantap. Pemantapan kedua kegiatan tersebut ditunjang adanya data yang lengkap teruji kebenarannya. Sedangkan pencatatan perlu dilaksanakan secara kontinyu dan tetap waktunya sehingga memudahkan pengawasan serta pengumpulan dokumen. Pengumpulan dokumen yang tertib dan teratur akan melancarkan pencarian data dan memantapkan pembuatan rencana.

  • Fungsi Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas dan pengelolaan pengajaran adalah kegiatan yang sangat erat kaitannya, namun dapat dan harus dibedakan satu sama lain karena tujuannya berbeda. Kalau pengajaran mencakup semua kegiatan yang secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan khusus pengajaran, maka pengejaran, maka pengelolaan kelas menunjukkan kepada kegiatan – kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar.

Untuk itu masalah pengelolaan kelas dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu masalah individual dan masalah kelompok. Meskipun sering kali ada perbedaan antara dua kelompok tersebut, namun perbedaan itu hanya merupakan tekanan saja. Tindakan pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat yang dihadapi, sehingga pada gilirannya ia dapat memilih strategi penanggulangannya yang tepat pula.

Jika dilihat keberadaan pembahasan tersebut di atas, fungsi pengelolaan kelas tidak terlepas dari keberadaan individu dan kelompok.

Untuk lebih jelasnya fungsi pengelola kelas secara umum di atas, maka di bawah ini penulis akan mengemukakan fungsi pengelolaan ditinjau dari beberapa problema sebagai berikut:

Memberikan dan melengkapi fasilitas kelas untuk segala maacam tugas antara lain:

  1. Membantu pembentukan kelompok
  2. Membantu kelompok dlam pembagian tugas
  3. Membantu kerja sama dalam menemukan tujuan-tujuan kelompok
  4. Membantu individu agar dapat bekerja sama dalam kelompok atau kelas
  5. Membantu prosedur kerja
  6. merubah kondisi kelas

Memelihara tugas agar dapat berjalan lancar antara lain:

  1. Mengenal dan memahami kemampuan murid
  2. Mempengaruhi kehidupan individu, terutama dengan teman-teman sebaya dalam kelas
  3. Organisasi sekolah dapat membantu memelihara tugas- tugas
  4. Mampu menciptakan iklim belajar mengajar berdasarkan hubungan manusiawi yang harmonis dan sehat.

Berangkat dari fungsi pengelolaan kelas tersebut, maka akan menjadi titik tolak atau sentral dalam pengelolaan kelas tersebut tidak  terlepas dari mengantarkan suatu kondisi-kondisi yang memungkinkan untuk tercapainya belajar mengajar. Kenyataan ini seyogyanya bahwa komponen yang berada dalam ruangan menjadi sasaran yang dioptimalkan, lebih-lebih lagi yang berkaitan dengan diri siswa sebagai individu dan siswa dalam kedudukannya terhadap kelompok.

Demikian pula halnya organisasi pengelolaan kelas dalam proses pengajaran, bahwa di mana ketergantungannya dari tujuan pengelolaan kelas menjadi tata laksana yang berperan aktif untuk menentukan dan menciptakan kondisi fisiologi dan psikologi untuk memfokuskan pada belajar. Suasana perasaan, fikiran dan ingatan untuk tertuju kepada materi yang diberikan.

Dari fungsi pengelolaan kelas telah dipaparkan di atas, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa fungsi pengelolaan kelas tidak terlepas dari menciptakan kondisi kelas untuk tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran, atau dengan kata lain untuk mengoptimalkan komponen – komponen dalam kelas, berupa ketatalaksanan, aturan-aturan yang menentukan terjadinya proses belajar mengajar. Referensi :  www.kuliahbahasainggris.com

Tujuan Diberikan Pendidikan Seksual Di Sekolah

Mungkin memang menjadi hal yang tabuh ketika ada wacana bahwa anak – anak diberikan pendidikan seksual di sekolah. Padahal sebenarnya pendidikan seksual di sekolah memang menjadi sebuah aspek yang sangat penting untuk diberikan kepada anak – anak. Ada berbagai macam tujuan pendidikan seksual di sekolah yang sangat penting.

Tujuan Diberikan Pendidikan Seksual Di Sekolah

Tujuan Diberikan Pendidikan Seksual Di Sekolah

Karena itu sebenarnya bagi para orang tua pendidikan seksual bagi anak – anak menjadi suatu aspek yang tidak boleh diremehkan. Lantas apa saja tujuan diberikan pendidikan seksual bagi anak – anak di sekolah? Anda bisa langsung coba simak informasi lengkapnya tentang tujuan diberikan pendidikan seksual berikut ini. Cek informasinya

Tujuan Diberikan Pendidikan Seksual Di Sekolah

Menciptakan sikap yang sehat tentang seksualitas

Salah satu tujuan yang dapat ditemukan dari pendidikan seksualitas yang diberlakukan dan diberikan di sekolah yaitu timbulnya pendidikan seks. Dan tentu akan bisa menciptakan sikap yang sehat pada diri seseorang atas seks dan seksualitas. Dengan begini sikap yang jauh lebih baik juga akan ditemukan dari anak didik. Jangan khawatir akan terjadi penyimpangan pergaulan karena dengan adanya pendidikan seks tentu akan semakin memberikan dampak yang baik pada pergaulan antara pria dan wanita di sekolah.

Anak mengartikan kehidupan seks dengan baik

Dengan adanya pendidikan seks di sekolah, salah satu manfaat atau tujuan yang akan diberikan yaitu diharapkan dapat mengartikan kehidupan seks yang terdapat pada manusia yaitu untuk dapat memberikan penjelasan dan informasi tentang seks manusia serta memahami nilai – nilai manusiawi atas kehidupan seks dengan baik.

Mendidik anak menjadi pribadi yang dewasa

Tujuan lain yang dapat diberikan tentang pendidikan seks di sekolah yaitu dapat mendidik anak agar dapat menjadi pribadi yang lebih dewasa. Selain itu peran pendidikan seks di sekolah bagi peserta didik yaitu dijadikan sebagai sebuah wadah untuk remaja dalam mendapatkan pengetahuan tentang pendidikan seks secara tepat dan sistematis. Kemudian juga akan memberikan pendekatan secara sosial dan individu dengan tujuan agar dapat mengurangi adanya pergaulan bebas diantara pelajar. Karena itu sebenarnya soal pendidikan seks ini bagi pelajar menjadi suatu aspek yang sangat penting.

Sudah paham bukan apa saja Tujuan Diberikan Pendidikan Seksual Di Sekolah? Semoga menjadi informasi yang bermanfaat. Karena itu mulai dari sekarang mari pahami pendidikan seks dan berikan pemahaman yang tepat pada anak. referensi  https://www.sekolahbahasainggris.com/