Mengenal Tentang Budidaya Ikan Gurame

Mengenal Tentang Budidaya Ikan Gurame

Mengenal Tentang Budidaya Ikan Gurame

Mengenal Tentang Budidaya Ikan Gurame

Klasifikasi Ikan Gurami

Filum                : Chordata

Kelas                : Actinopterygii

Ordo                 : Perciformes

Subordo            : Belontiidae

Famili               : Osphronemidae

Genus              : Osphronemus

Spesies            : Osphronemus gouramy, Lac.

Ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lacepede) merupakan ikan tawar dari famili Anabantidae. Ikan ini badannya pipih dan lebar. Pada ikan yang sudah dewasa, lebar badannya hampir dua kali panjang kepala atau ¾ kali panjang tubuhnya. Bentuk kepala ikan gurami yang masih berusia muda lancip ke depan, dan setelah tua menjadi dempak.

Ikan gurami termasuk ikan labirin, yakni ikan yang dapat hidup dalam airdengan kadar oksigen rendah, karena ikan gurami dapat menghisap oksigen dari udara bebas. Dengan kondisi tersebut, petani dapat melakukan usaha pembenihan pendederan ikan gurami, meskipun air kolam tidak mengalir, seperti pada kolam dari plastik.

Ikan gurami termasuk ikan yang tidak banyak gerak, sehingga dengan areal yang relatif sempitpun, dapat ditebar ikan dalam jumlah banyak. Hal ini dapat menghemat lahan dan memberikan peluang kepada petani yang mempunyai lahan sempit, untuk budidaya ikan gurami, sebagai sumber pendapatan keluarga. Selain itu, ikan gurami bernilai ekonomis tinggi dibandingkan dengan jenis ikan lainnya.

Secara morfologi, ikangurami memiliki garis lateral tunggal, lengkap dan tidak terputus, bersisikstenoid serta memiliki gigi pada rahang bawah.  Sirip ekor membulat. Tinggi badan 2,0-2,1 kali dari panjang standar. Panjang tubuh maksimum 65 cm. Pada ikan muda terdapat garis-garis tegak berwarna hitam, berjumlah 8 – 10 buah dan pada daerah pangkal ekor terdapat titik hitam bulat

Warna tubuhnya terutama di bagian punggung adalah merah sawo, sedangkan pada bagian perut berwarna kekuning-kuningan atau keperak-perakan. Sepasang sirip yang ada di perut akan mengalami perubahan menjadi sepasang benang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba. Sirip yang keras, menempel pada punggungnya, sedangkan garis rusuknya menyilang di bagian bawah sirip punggung.

Strain gurami yang dikenal masyarakat cukup banyak dan bervariasi,dimana antar strain dibedakan berdasarkan kemampuannya dalam memproduksi telur, kecepatan tumbuh dan bobot maksimal yang bisa dicapai setelah dewasa. Namun sampai saat ini belum ada penetapan strain gurami yang standar. Beberapa yang dikenal dalam masyarakat adalah gurami blue safirparisbaster dan gurami batu.

Budidaya

Secara umum, pola budidaya perikanan air tawar yang dilakukan masyarakat di Indonesia, dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :

  1. Pola budidaya tunggal (monoculture), dimana dalam satu unit lahan usaha hanya satu jenis ikan yang dipelihara.
  2. Pola budidaya campuran (polyculture), dimana dalam satu unit lahan usaha, jenis ikan utama dipelihara bersama-sama dengan jenis-jenis ikan lainnya. Jenis-jenis lain yang dipelihara bukan pemangsa ikan utama dan sebaliknya
  3. Pola budidaya diversifikasi, dimana dalam satu unit lahan usaha terdapat beberapa subsistem budidaya dari beberapa jenis ikan yang dipelihara, baik pola tunggal maupun campuran bersama dengan usaha budidaya komoditi pertanian lainnya

Ikan gurami merupakan ikan yang relatif lambat pertumbuhannya dan baru mencapai kematangan telur sekitar umur 2 tahun. Ciri-ciri yang membedakan antara ikan gurami betina dan jantan adalah sebagai berikut :

Ciri-ciri Ikan Gurami Betina dan Jantan

Betina Jantan
Dahi rata (dempak / papak) Dahi menonjol menyerupai cula
Dasar sirip dada gelap kehitaman Dasar sirip dada terang keputihan
Dagu keputihan sedikit coklat Dagu kuning dan agak menonjol
Jika diletakkan pada tempat yang datar ekor bergerak-gerak Jika diletakkan pada tempat datar ekornya akan naik ke atas
Bentuk bibir tipis Bentuk bibir tebal
Ujung sirip ekor bundar Jika kelaminnya ditekan dengan perlahan, akan mengeluarkan sprema
Baik sebagai inudk jika sudah berumur 2,5 – 6 tahun Baik sebagai induk jika sudah berumur 3 – 7 tahun

Untuk menjamin kualitas ikan gurami yang baik, perlu disiapkan induk unggul, karena dari induk unggul akan menghasilkan benih unggul pula. Induk unggul dan benih dapat diperoleh dari BBI atau dari Unit Pembenihan Rakyat (UPR). Induk unggul dapat digolongkan ke dalam empat kriteria induk yaitu unggulan 1, unggulan 2, unggulan 3 danunggulan 4, yang dibedakan berdasarkan pada frekuensi memijah dan banyaknya telur yang dihasilkan.

Penyediaan induk unggul oleh BBI dapat menjamin kualitas induk yang dipelihara oleh pembudidaya, yang selanjutnya mempengaruhi produksi telur dan benih ikan. Untuk memperbaiki mutu induk yang dihasilkan, dilakukan dengan cara perbaikan genetik induk melaui perkawinan silang (cross breeding). Untuk menjamin pertumbuhan dan daya tahan yang tinggi terhadap penyakit, tidak diperkenankan perkawinan satu turunan (in breeding). Memilih induk yang baik dilakukan dengan memperhatikan ciri-ciri sebagai berikut :

Ciri-ciri induk gurami betina dan jantan unggulan

Betina Jantan
Warna badan terang Warna badan gelap
Perut membulat Perut dekat anus lancip
Susunan sisik teratur Susunan sisik teratur
Badan relatif panjang Gerakannya lincah
Umur mulai dipijahkan 2 tahun Umur mulai dipijahkan 2 tahun

Syarat Lokasi Usaha

Habitat ikan gurami sebenarnya adalah rawa, sungai, telaga dan kolam. Sedangkan pemeliharaan oleh pembudidayaan biasanya di kolam. Untuk mendapatkan kualitas ikan gurami yang optimal, maka berikut ini adalah persyaratan minimal yang harus dipenuhi sebagai lokasi usaha:

  • Dilaksanakan di dataran rendah pada ketinggian 20 – 400 m dpl
  • Kuantitas dan kualitas air mencukupi. Kualitas air yang dibutuhkan yaitu air tenang, bersih, dasar kolam tidak berlumpur (kekeruhan air 40 cm dari permukaan air), tidak tercemar bahan kimia beracun dan limbah (kadar NH3 tidak lebih besar dari 0,02%), keasamaan air (pH) 6,5-8. Apabila pH di bawah 6,5 maka untuk menaikkan pH di lakukan pengapuran dengan CaCO3, sedangkan apabilah pH di atas 8 maka untuk menurunkan dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang.
  • Tanah tidak berporous dan cukup mengandung humus. Tanah yang tidak berporous dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor, sedangkan perbandingan antara tanah liat dan pasir kurang dari 60%:40%.
  • Kemiringan tanah 3%-5% untuk memudahkan pengairan kolam
  • Temparatur optimum 25-30oC
  • Kandungan oksigen dalam > 2 ppm

 Tahapan Budidaya

Budidaya ikan gurami sangat berbeda denganbudidaya jenis ikan lain, sebabpada budidaya ikan gurami, penghasilan sudah bisa diperoleh saat masih berupa telur. Pada saat masih berbentuk telur, telur gurami sudah bisa di jual dengan harga Rp 40-50 / butirnya. Biasanya dalam 1 induk gurami yang berukuran 2.5kg – 3.5kg bisa menghasilkan 2000 – 5000 telur gurami.

Selanjutnya panenan dapat diperoleh  lagi pada masa pendederan, yang dibagi menjadi 5 tahap pendederan, yang masing-masing tahap dibedakan berdasarkan ukurannya. Pada fase pendederan, sebenarnya tidak ada ketentuan khusus, kapan panenan dilakukan, dalam arti pada saat konsumen membutuhkan ukuran sesuai dengan keinginan.Walaupun belum berusia diatas 50 hari masa pemeliharaan, pembudidaya bisa menjualnya.

Masa panen berikutnya adalah pada masa tebar benih. Pada masa pembesaran ini, biasanya ikan gurami sudah berukuran antara ukuran 200 – 300 gr, dimana jangka waktu pembesaran adalah antara 3 – 4 bulan masa panen. Ukuran masa panen pembesaran dalam jangka waktu tersebut biasanya berukuran kisaran 500 – 1000 gr.

Melihat hal tersebut diatas, supaya tidak terasa lama, maka bila ingin melakukan budidaya ikan gurami, ada baiknya kalau kita membaginya menjadi 3 Kelompok budidaya, yaitu kelompok pembenihan, pendederan dan pembesaran.

Budidaya ikan gurami dapat dibagi dalam beberapa tahapan berikut:

  1. Tahap pembenihan, mencakup tahap pemijahan, penetesan telur dan perawatan larva. Telur yang telah menetas dari induknya dipelihara hingga menjadi larva dengan berat 0,5 gram selama 1 bulan.
  2. Tahap pendederan, yaitu tahap pemeliharaan benih gurami sejak 0,5 gram sampai mencapai berat 200-250 gram yang siap dibesarkan. Pendederan 1 – 5 dapat dilakukan di kolam maupun akuarium. Di akuarium dilakukan sama seperti halnya pemelihaaran larva, tetapi perlu dilakukan penjarangan.
    Sedangkan di kolam perlu dilakukan kegiatan persiapan kolam yang meliputi pengolahan tanah dasar kolam, pengeringan, pengapuran, pemupukan, pengisian air dan pengkondisian air kolam.  Pengolahan tanah dasar kolam dapat berupa pembajakan, peneplokan dan perbaikan pematang kolam.  Pengeringan dilakukan selama 2 – 5 hari (tergantung cuaca)

Pendederan dibagi kedalam 5 tahap sebagai berikut :

  • Pendederan 1 (D1) : pemeliharaan benih 0,5 gram hingga mencapai berat 1 gram selama 1 bulan
  • Pendederan 2 (D2) : pemeliharaan benih 1 gram hingga mencapai berat 5 gram selama 1 bulan
  • Pendederan 3 (D3) : pemeliharaan benih 5 gram hingga mencapai berat 20-25 gram selama 2 bulan
  • Pendederan 4 (D4) : pemeliharaan benih 20 -25 gram hingga mencapai berat 75-100 gram selama 2 bulan
  • Pendederan 5 (D5) : pemeliharaan benih 75 -100 gram hingga mencapai berat 200 -250 gram selama 3 bulan.
  1. Tahap pembesaran, yaitu pemeliharaan benih 250-250 gram hingga mencapai ukuran konsumsi dengan berat lebih dari 500 gram selama 3 bulan.

Selain tahapan budidaya sebagaimana tersebut diatas, ada pula yang membagi tahapan pendederan dalam 3 tahapan saja, dengan berat 1 gram hingga mencapai berat 20-25 gram. Alasan membagi budidaya ikan gurami dalam tahapan tersebut diatas adalah :

  • Membudidayakan ikan gurami sampai dengan ukuran konsumsi memakan waktu cukup lama sehingga perolehan hasil usaha dirasakan cukup lama.
  • Permintaan produk untuk setiap tahapan (dalam bentuk telur, benih dan ikan ukuran konsumsi) cukup tinggi
  • Keterbatasan modal dan lahan usaha apabila pembudidaya harus melaksanakan tahapan dalam satu siklus penuh

Dengan demikian maka pembagian tahapan ini membantu pembudidaya dalam hal :

  • Mempersingkat masa panen
  • Menghasilkan pendapatan pembudidaya dengan keuntungan yang cukup memadai
  • Menurunkan resiko kegagalan panen

Adanya tahap budidaya tersebut dapat membuka peluang usaha budidaya ikan gurami yang cukup luas, sejak pembenihan sampai dengan pembesaran, yang berkaitan antara satu dengan yang lainnya, dalam satu sistem budidaya ikan gurami.

Teknologi Tepat Guna

Tingkat teknologi yang digunakan untuk budidaya ikan gurami umumnya di klasifikasikan ke dalam 3 jenis yaitutradisional, semi intensifdan intensif, namun tidak ada batasan yang jelas antara ketiga tingkat teknologi tersebut, karena penggolongannya hanya dilakukan melalui perbedaan ciri-cirinya saja.

Ciri-ciri penggunaan teknologi tradisional adalah hanya mengandalkan pada kondisi alam saja, pemberian pakan secara alami, pemeliharaan ikan gurami dimaksudkan hanya sebagai tabungan saja dan dipanen setahun sekali dalam rangka memenuhi kebutuhan hari lebaran/hari besar.

Sedangkan ciri-ciri teknologi semi intensif adalah sedikit banyak telah melaksanakan kegiatan budidaya sesuai dengan Sapta Usaha Perikananmisalnya dalam hal pakan telah menggunakan pakan buatan, disamping pakan alami dan telah dilakukan pengaturan kualitas air, namun belum secara terukur dan terkontrol.

Ciri-ciri teknologi intensif adalah mengacu pada Sapta Usaha Perikanan dan dilakukan secara terkontrol.

Kebanyakan yang dilakukan masyarakat adalah teknologi tradisional dan semi intensif. Klasifikasi teknologi tersebut berpedoman pada Sapta Usaha Perikanan yang meliputi :

  • Pengolahan lahan
  • Pengairan
  • Pemupukan/pemberian pakan
  • Penyediaan benih atau induk yang unggul
  • Pencegahan hama dan penyakit
  • Panen
  • Perbaikan manajemen usaha tani

Teknis Budidaya

Budidaya ikan gurami memerlukan kolam penyimpanan induk, kolam pemijahan, kolam/bak penetasan dan pemeliharaan benih, kolam pendederan, kolam pembesaran dan kolam pemberokan (penyimpanan sebelum dipasarkan).

Sebelum dilakukan kegiatan budidaya, perlu dilakukan pembuatan kolam yang meliputi antara lain pembuatan pematang, saluran pemasukan air dan saluran pembuangan air, pintu pematang air, pintu pembuangan air,caren dan kowean (sering pula disebut kemalir dan kobakan), serta pengolahan dasar kolam dengan pupuk dan kapur. Setelah kolam siap untuk digunakan, baru dilakukan kegiatan pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan gurami.

Persiapan kolam

Tahap persiapan kolam untuk pembenihan, pendederan maupun pembesaran,prinsipnya hampir sama, hanya dibedakan pada padat tebar dan jenis pakan yang diberikan, serta ketinggian air yang dibutuhkan. Konstruksi kolam dan pengolahan lahan pada setiap tahap sama.

Pembuatan kolam

Bentuk pematang dibuat trapesium yaitu lebih lebar di bagian bawah, dengan kemiringan sebaiknya tidak lebih dari 45 derajat. Untuk membuat kolam dilakukan pencangkulan guna membalik tanah dasar dengan“keduk teplok”, yaitu memperdalam saluran dan pemetakan kolam yang sekaligus memperbaiki pematangnya, sehingga ketinggian air kolam nantinya mencapai 60 cm.

Kowean dibuat di tengah kolam dengan ukuran 1x1x0,4 m dan diberi tanggul, sehingga merupakan kolam kecil di dalam kolam. Kowean berfungsi untuk melepaskan benih dengan berat 0,5 gram, pada saat penebaran dan tempat untuk menangkap ikan, saat panen. Setelah itu membuat caren, dengan lebar 30 cm dan dalam 30 cm, yang berfungsi sebagai tempat pengumpulan benih, pada saat air kolam dangkal atau surut, dan untuk menggiring benih ke kowean, saat panen.

Pada saat persiapan pembuatan kolam, dilakukan juga pengeringan dasar kolam. Setelah dasar kolam kering, diberikan kapur dengan dosis 100 200 gr per meter persegi dan pupuk kandang 500  1.000 gr per meter persegi. Pupuk kandang yang cukup baik untuk digunakan adalah kotoran ayam, karena memiliki unsur hara yang lengkap, untuk menumbuhkan pakan alami, mudah terurai dan kandungan amoniaknya tidak terlalu tinggi.

Pemupukan dilakukan untuk menyuburkan tanah sekaligus menumbuhkan pakan alami seperti Fitoplankton, Zooplankton danBentos yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan larva dan benih ikan gurami. Setelah itu, dilakukan pengisian air dan dibiarkan selama 7 hari,untuk memberi kesempatan pupuk terurai dan menumbuhkan pakan alami bagi benih gurami.

Persediaan pakan alami ini dapat memenuhi kebutuhan benih ikan selama 11 – 14 hari. Di dasar kolam dekat pintu pemasukan air, sebaiknya ditanami ganggang Hydrilla verticilata sebagai tempat berlindung dan mencari makan benih ikan gurami.

Pembenihan

Tahap Pemijahan

Ikan gurami dapat memijah sepanjang tahun, meskipun produktifitasnya lebih tinggi terutama pada musim kemarau. Adapun hal yang perlu diperhatikan untuk pemijahan ini adalah padat tebar induk, tata letak sarang, panen telur dan kualitas air media pemijahan.

Pemeliharaan induk

Induk-induk disimpan dalam kolam penyimpanan induk. Seekor induk membutuhkan luas kolam kurang lebih 5 meter dengan dasar kolam berpasir dan kedalaman air sekitar 75-100 cm. Pakan yang diberikan adalah daun-daunan sebanyak kurang lebih 5% dari berat populasi dan pakan diberikan pada setiap sore hari.

Makanan tambahan dapat diberikan berupa pelet sebanyak 0,5-1% dari berat populasi. Pemberian pelet untuk induk dibatasi untuk mencegah timbunan lemak pada induk karena dapat mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan.

Ukuran berat induk jantan sekitar 2 – 3 kg/ekor dan induk betina 2 – 2,5 kg/ekor. Induk gurami dapat dipijahkan 2 kali dalam setahun, selama usia produktif (5 tahun). Induk gurami dapat dipijahkan tidak lebih dari 10 kali, karena jika lebih dikhawatirkan fekunditas (yaitu daya tetas telur menjadi larva) menjadi rendah dan mortalitas telur dan benih yang dihasilkan, meningkat.

Penebaran induk dan proses pemijahan

Setelah proses pematangan gonad (yaitu organ hewan yang menghasilkan sperma dan telur) di kolam penampungan telah mencapai puncaknya, induk dimasukkan ke dalam petak kolam pemijahan.

Padat tebar induk adalah 1 ekor/5 m2  dengan perbandingan jumlah jantan:betina adalah 1:3-4. Penebaran induk di kolam pemijahan dapat dilakukan secara berpasangan (sesuai perbandingan) pada kolam yang disekat ataupun secara komunal (satu kolam diisi beberapa pasangan)

Luas kolam yang diperlukan untuk pemijahan adalah kurang lebih 20 meter persegi, per pasang induk yang terdiri dari 1 ekor pejantan dan 3-4 ekor betina. Induk jantan akan membuat sarang setelah 15 – 30 hari dilepaskan dalam kolam pemijahan. Oleh karena itu dipersiapkan perlengkapan kolam pemijahan terdiri dari sosog, anjang-anjang dan bahan sarang.

Sarang diletakkan 1 – 2 m dari tempat bahan sarang, dengan kedalaman 10 -15 cm dari permukaan air. Sarang dipasang mendatar sejajar dengan permukaan air dan menghadap ke arah tempat bahan sarang.

Sosog sebagai tempat sarang terbuat dari anyaman kasar dari bambuatau bahan lainnya,yang dipasang di bawah permukaan air dan diatur sedemikian rupa, sehingga induk ikan mudah mengambil sabut kelapa /ijuk untuk membuat sarang.

Anjang-anjang adalah tempat meletakkan bahan sarang yang terbuat dari bambu dengan lubang anyaman 10×10 cm di pasang di atas permukaan air. Bahan sarang berupa ijuk halus, serabut kelapa atau serat karung. Satu ekor jantan dapat membuat 2 buah sarang. Pembuatan sarang berlangsung selama 1 – 2 minggu, bergantung pada kondisi induk dan lingkungannya.

Pemijahan berlangsung sekitar 2 hari setelah pembuatan sarang. Induk gurami betina melepaskan telurnya ke sarang dan induk jantan menyemprotkan spermanya sehingga terjadi pembuahan. Satu ekor betina dapat menghasilkan 3.000-4.000 butir, bahkan ada yang mencapai 10.000 butir telur. Telur-telur yang jatuh ke dasar kolam di ambil oleh induk jantan dengan mulutnya kemudian di masukkan dalam sarang. Tanda telah terjadi pemijahan adalah terciumnya bau amis dan permukaan air di atas sarang terlihat berminyak.

Sementara pemijahan berlangsung, induk betina menjaga sarang. Sarang yang berisi telur kemudian ditutup dan di jaga oleh induk jantan. Untuk menjaga sirkulasi dan pasokan oksigen ke dalam sarang, induk betina menggerak-gerakkan sirip ekor ke arah sarang.

Pemeriksaan sarang yang sudah berisi telur dapat dilakukan dengan cara meraba dan menggoyangkan sarang secara perlahan atau dengan menusuk sarang menggunakan lidi/kawat dan menggoyangkannya. Sarang yang sudah berisi telur ditandai dengan keluarnya minyak/telur dari sarang ke permukaan air.

Sarang yang sudah berisi telur diangkat. Telur dapat diambil 1 hari setelah pemijahan. Telur dipisahkan dari sarang dengan cara membuka sarang secara hati-hati dan dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan lemak yang menempel pada telur. Karena mengandung minyak, telur akan mengambang di permukaan air. Telur yang baik berwarna kuning bening,sedangkan telur berwarna kuning keruh dipisahkan dan dibuang, karena telur yang demikian tidak akan menetas.  Minyak yang timbul dapat dikurangi dengan cara diserap memakai kain. Telur-telur tersebut kemudian ditetaskan dalam wadah yang sudah disiapkan.

Penetasan telur

Padat tebar telur adalah 4 -5 butir/cm2dengan ketinggian air 15 – 20 cm. Kepadatan dihitung per satuan luas permukaan wadah, sesuai dengan sifat telur yang mengambang.  Untuk mempertahankan kandungan oksigen terlarut, di dalam media penetasan perlu ditambahkanaerasi kecil, tetapi harus dijaga agar telur tidak teraduk. Kualitas air media penetasan yang baik adalah suhu 25 – 30 oC, nilai pH 6,5 – 8,0; laju pergantian air 10 – 15 % per hari dan ketinggian air kolam  40 – 60 cm.

Air hendaknya bersumber dari air tanah.  Bila air sumber mengandung karbondioksida tinggi, nilai pH akan jadi rendah atau kalau airmengandung bahan logam (misalnya besi), sebaiknya air diendapkan dulu selama 24 jam. Telur akan menetas setelah 36 – 48 jam, setelah dilepaskan induknya.

Penetasan telur dapat dilakukan di bak plastik berdiameter 60 cm. Bak dapat diisi sampai 1.000 butir. Benih yang baru menetas mendapat makanan dari sisa-sisa kuning telur yang ada pada tubuhnya.

Pemeliharaan Larva

Setelah telur menetas, larva dapat terus dipelihara di corong penetasan/waskom sampai umur 6 hari kemudian dipindahkan ke akuarium.  Bila penetasan dilakukan di akuarium, pemindahan larva tidak perlu dilakukan. Selama pemeliharaan larva, penggantian air hanya perlu dilakukan untuk membuang minyak, bila minyak yang dihasilkan ketika penetasan, cukup banyak.  Sedangkan bila larva sudah diberi makan, penggantian air dapat disesuaikan dengan kondisi air, yaitu bila sudah banyak kotoran dari sisa pakan dan “ Faeces “.

Pemeliharaan larva di akuarium dilakukan dengan padat tebar 15 – 20 ekor/liter. Pakan mulai diberikan pada saat larva berumur 5 sampai dengan 6 hari berupa cacing Tubifex, Artemia, Moina atau Daphnia,yang disesuaikan dengan bukaan mulut ikan.

Setelah cadangan makanan tersebut habis (± 10 hari), larva baru diberi pakan berupa pakan alami (misalnya tubifex) secukupnya dan dipelihara hingga menjadi larva dengan berat 0,5 gram selama ± 30 hari.

Perawatan larva juga dapat dilakukan di kolam sawah sebagai penyeling di sawah pada sistem mina padi dengan cara mengambil larva yang berumur ± 7 hari yaitu menjelang kuning telurnya habis. Larva di tebar di sawah dengan kepadatan 10 ekor per meter persegi dan dapat dipelihara selama 1 bulan.

Pendederan (Penebaran benih)

Sebelum benih ukuran 0,5 – 25 gram ditebar, terlebih dahulu dilakukan pemilihan benih yang berkualitas baik, untuk menjamin kualitas produksi ikan yang dipelihara. Dalam pemilihan benih tebaran, yang perlu diperhatikan antara lain :

  • Kondisi benih sehat, tidak cacat/luka dan gerakan lincah
  • Warna sisik tidak terlalu hitam
  • Sisik tubuh lengkap/tidak ada yang lepas
  • Tubuh tidak kaku
  • Ukuran seragam

Penebaran benih dilakukan 5 hari setelah pemupukan, dengan padat tebar dan tinggi air sesuai ukuran benih. Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat suhu udara rendah.

Sebelum ditebar, dilakukan penyesuaian suhu air dalam wadah angkut dengan suhu air kolam (proses aklimitasi) dengan cara memasukkan air kolam sedikit demi sedikit secara perlahan ke dalam wadah angkut. Setelah terjadi penyesuaian suhu, wadah angkut dimasukkan ke dalam kolam. Air akan bercampur sedikit demi sedikit dan ikan-ikan akan keluar dan berenang ke tengah kolam.

Tabel Padat tebar benih, tinggi air dan jenis pakan

Tahap Tinggi Air Padat Tebar/M2 Jenis pakan
D1 30-40 cm 40-60 ekor Pakan alami (zooplanton), tubifex, tepung ikan atau pelet halus
D2 40-50 cm 30-40 ekor Tepung ikan, bungkil atau pelet remah
D3 50-60 cm 20-30 ekor Pelet remah/pelet kecil
D4 60-80 cm ± 20 ekor Pelet atau daun-daunan (sente, talas, kajar)
D5 80-100 cm ± 20 ekor Pelet dan atau daun-daunan

Pemberian pakan

Selama masa pertumbuhan, ikan gurami mengalami perubahan pola makan (feeding habit) yang sangat signifikan. Larva bersifat karnivora(pemakan daging) sampai dengan ukuran dan umur tertentu, sedangkan juvenil muda bersifat omnivora (pemakan segala) dan setelah ukuran induk menjadi herbivora (pemakan daun).

Pola perubahan tersebut terkait dengan pola perubahan enzimatik dalam saluran pencernaannya.

Adapun jenis pakan ikan gurami terdiri dari pakan alami (organik) berupa daun-daunan maupun pakan buatan (anorganik), berupa pelet. Pakan alami yang digunakan antara lain daun sente (Alocasia macrorrhiza (L), Schott), pepaya (Carica papaya Linn), keladi (Colocasia esculenta Schott), ketela pohon (Manihot utililissima Bohl), genjer (Limnocharis flava (L) Buch ), Kimpul (Xanthosoma violaceum Schott), Kangkung (Ipomea reptans Poin), Ubi jalar (Ipomea batatas Lamk), ketimun (Cucumis sativus L), labu (Curcubita moshata Duch en Poir), dadap (Erythrina sp).

Bahan makanan buatan berupa pelet dibuat dari bahan makanan ternak, baik hewani maupun nabati. Komposisinya dapat diatur sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan ikan. Daftar bahan makanan yang dapat di buat pelet adalah sebagai berikut :

Kadar protein beberapa jenis bahan makanan:

Jenis Bahan Makan Kadar Protein

(dlm%-an bobot)

Tepung ikan 60
Tepung daging/ayam 80
Tepung udang 46
Tepung darah 85
Tepung kedele 36
Tepung gandrung 9
Dedak halus 15
Kacang hijau 23
Bungkil biji kapuk 27

Komposisi makanan yang ideal bagi pertumbuhan ikan adalah makanan yang berkadar protein 40%. Namun untuk efisiensi biaya, persentase pemberian makanan buatan ini hendaknya disesuaikan dengan persediaan makanan yang telah ada dalam kolam. Bila masih cukup banyak, cukup diberikan makanan buatan dengan kadar protein 20-30% saja.

Pengaturan komposisi makanan yang cukup menggunakan 3 bahan makanan, misalnya 33 bagian tepung ikan, 2 bagian tepung daging dan 65 bagian dedak halus, dengan perhitungan kadar protein keseluruhan adalah sebagai berikut :

(60/10×33)+(80/100×2)+(15/100×65) = 31,1 %

Selain pakan buatan pabrik berupa pelet, pembudidaya dapat pula membuat sendiri pakan ikan. Pembuatan pakan buatan sendiri akan menurunkan biaya produksi, karena lebih murah. Adapun bahan-bahan yang biasanya digunakan untuk pakan benih ikan adalah dedak, ikan asin, bungkil dan minyak ikan.

Jenis pakan ikan gurami perlu disesuaikan. Untuk benih yang masih kecil, diberi pakan yang berukuran kecil berupa zooplankton, tubilex dan lain- lain, dimana seiring dengan semakin besarnya ikan, makanan yang diberikan dapat menggunakan pakan dengan ukuran yang lebih besar dan pakan berupa daun-daunan.

Pada usaha budidaya yang hanya menggunakan pakan daun-daunan (teknologi tradisional) pertumbuhan ikan relatif lambat. Sebagai gambaran, berdasarkan pengalaman pembudidaya pemeliharaan benih ikan ukuran 200 gram dengan hanya diberi pakan daun-daunan saja membutuhkan waktu 1 tahun untuk mencapai ukuran 500 gram, sedangkan jika menggunakan pelet dan daun-daunan hanya membutuhkan waktu 4 bulan untuk mencapai ukuran 500 gram. Sehingga dianjurkan untuk dilakukan kombinasi antara daun-daunan dengan pelet.

Kebutuhan pakan berupa pelet per hari adalah 3% dari berat ikan namun jika pakan berupa daun-daunan kebutuhan pakan perhari sebanyak 5-10% dari berat ikan. Untuk penggunaan pakan secara kombinasi diberikan pelet sebanyak 1,5% per hari dari berat ikan dan hijauan sebanyak 5% per hari dari berat ikan.

Pemberian pakan secara teratur dalam jumlah yang tepat dapat menghasilkan pertumbuhan ikan gurami yang optimal. Konversi pakan untuk pemeliharaan dalam kolam adalan 1,5-2%, artinya untuk menghasilkan 1 kg daging ikan memerlukan pakan sebanyak 1,5 kg sampai dengan 2 kg. Untuk memberikan pakan yang tepat sesuai kebutuhan dilakukan sampling berat ikan.

Pemanenan

Pemanenan ditahap pendederan dilakukan setelah benih mencapai berat 20-25 gram. Dalam pelaksanaan pemanenan yang perlu diperhatikan antara lain :

  • Waktu pemanenan sebaiknya pagi atau sore hari.
  • Untuk memudahkan penangkapan, sebelum dilakukan penangkapan perlu dimasukkan daun pisang ke dalam kolam sebagai tempat berkumpulnya benih ikan.
  • Proses penangkapan dilakukan secara hati-hati sehingga tidak sampai menyebabkan lepasnya sisik terutama pada bagian punggung.
  • Penangkapan benih ikan di kolam dilakukan pada kondisi temperatur air rendah dan tidak dalam kondisi hujan. Saat penangkapan kedalaman air kolam dibiarkan setinggi 20-30 cm.
  • Pengangkutan benih juga sebaiknya dilakukan pada pagi/sore hari. Wadah angkut yang digunakan berupa drum (Volume 200 lt) atau jerigen. Drum diisi air setengan dari volume, posisi drum ditidurkan. Jumlah benih dalam setiap drum berkisar antara 10-15 kg tergantung lamanya proses pengangkutan.
  • Setelah pemanenan, benih di jual kepada pengusaha pembesaran gurami atau dipelihara lagi di kolam lain untuk mendapatkan ukuran ikan yang lebih besar. Untuk mengupayakan agar tingkat kematian benih rendah, dalam pengiriman benih menggunakan jerigen atau drum yang diisi air bersih dan selama pengiriman benih ikan tidak diberi pakan (perut dikosongkan).

Pembesaran

Dalam tahapan pembesaran, luas kolam optimal sekitar 200 meter persegi, dengan konstruksi kolam berupa kolam tanah. Kedalaman air kolam sekitar 1 meter dari dasar kolam, dibuat tidak terlalu berlumpur. Persiapan kolam dalam tahapan ini tidak jauh berbeda dengan persiapan yang dilakukan pada tahap pendederan.

Ikan yang dipelihara dapat berukuran berat 200-250 gram/ekor dan ditebar dengan kepadatan benih ± 1 -2 kg/m2.

Pakan yang diberikan terdiri dari pelet dengan jumlah pemberian sebanyak 1,5 – 2% pada pagi dan sore hari serta daun-daunan sebanyak 5% diberikan pada sore hari. Dalam waktu 4 bulan ikan akan mencapai ukuran konsumsi dengan berat 500-700 gram/ekor.

Pemanenan dilakukan sama seperti pada tahap pendederan, hanya saja pada tahap pembesaran pemanenen sebaiknya tanpa menggunakan alat tangkap.

Hama dan Penyakit

Hama yang biasanya menganggu ikan gurami adalah ikan liar pemangsa seperti gabus (Ophiocephalus striatur BI), belut (Monopterus albus Zueiw), lele (Clarias batrachus L) dan lain-lain. Musuh lainnya adalah biawak (Varanus salvator Dour), kura-kura (Tryonix cartilagineus Bodd), katak (Rana spec), ular dan bermacam-macam jenis burung.

Beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, mujair dan sepat, dapat menjadi pesaing dalam perolehan makanan. Oleh karena itu sebaiknya benih gurami tidak dicampur pemeliharaannya dengan jenis ikan yang lain. Untuk menghindari gurami dari ikan-ikan pemangsa, pada pipa pemasukan air dipasangi serumbung atau saringan ikan agar hama tidak masuk dalam kolam.

Penyakit

Gangguan penyakit dapat berupa penyakit non parasiter dan penyakit parasiter. Gangguan penyakit dapat lebih mudah menyerang ikan gurami pada saat musim kemarau, dimana suhu menjadi lebih dingin.

Penyakit non parasiter adalah penyakit yang timbul bukan karena serangan parasit, tapi biasanya bersumber dari faktor lingkungan fisika dan kimia air dan makanan. Penyakit ini bisa berupa pencemaran air karena adanya gas beracun, seperti asam belerang atau amoniak, kerusakan akibat penangkapan atau kelainan tubuh karena keturanan.

Untuk mengetahui gangguan yang dialami oleh ikan yang dipelihara,dapat diketahui dari pengamatan terhadap ikan. Bila ada gas beracun dalam air, ikan biasanya lebih suka berenang pada permukaan air untuk mencari udara segar.

Penyakit parasiter diakibatkan parasit. Parasit adalah hewan atau tumbuh-tumbuhan yang berada pada tubuh, insang, maupun lendir inangnya dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Parasit dapat berupa udang renik, protozoa, cacing, bakteri, virus, jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. Berdasarkan letak penyerangannya parasit dibagi menjadi dua kelompok yaitu ektoparasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan dan endoparasit yang berada dalam tubuh ikan.

Ciri-ciri ikan yang terkena penyakit parasiter adalah sebagai berikut :

  • Penyakit pada kulit :
    Pada bagian tertentu di kulit akan berwarna merah, terutama pada bagian dada, perut dan pangkal sirip. Warna ikan menjadi pucat dan tubuhnya berlendir.
  • Penyakit pada insang :
    Tutup insang mengembang, lembaran insang menjadi pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu.
  • Penyakit pada organ dalam :
    Perut ikan membengkak, sisik berdiri. Kadang-kadang sebaiknya perut menjadi amat kurus, ikan menjadi lemah dan mudah ditangkap.

Salah satu parasit yang sering menyerang ikan gurami adalah Argulus indicus yang tergolong Crustacea tingkat rendah, yang hidup sebagaiektoparasit, berbentuk oval atau membundar dan berwarna kuning bening. Parasit ini menempel pada sisik atau sirip dan dapat menimbulkan lubang kecil yang akhirnya akan menimbulkan infeksi.

Selanjutnya infeksi ini dapat menyebabkan patah sirip atau cacat.

Parasit lainnya adalah bakteri Aeromonas hdyrophyla, Pseudomonas, dan cacing Thematoda yang berasal dari siput-siput kecil.

Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan dengan mengangkat dan memindahkan ikan ke dalam kolam lain dan melakukan penjemuran kolam yang terjangkit penyakit, selama beberapa hari agar parasit mati. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset.

Sementara pengobatan bagi ikan-ikan yang penyakitnya lebih berat dapat menggunakan bahan kimia seperti Kalium Permanagat (PK), neguvondan garam dapur 500 – 1.000 mg/l, dengan cara perendaman selama 24 jam. Sedangkan bila teridentifikasi terserang bakteri pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian oksitetrasiklin, dengan dosis 5 -10 mg/l, secara perendaman selama 24 jam.

Selain penggunaan bahan kimia tersebut di atas, juga dapat menggunakan daun lambesan (Chromolaena odorata (L), sebagai antibiotik. Daun lambesan dimasukkan ke dalam kolam sebelum ikan di tebar yaitu pada saat pengolahan kolam. Banyaknya daun lambesan yang dipakai adalah 1 pikul (yaitu kurang lebih 50 kg) untuk luas tanah 25 m2. Penggunaan daun ini adalah 1 untuk 1 masa tanam.

Penggunaan obat-obatan kimia untuk ikan konsumsi tidak dianjurkan,mengingat dampak yang tidak baik kepada konsumen. Kalaupun diberikan obat-obatan, tidak boleh langsung di jual kepada konsumen akhir. Penggunaan obat-obatan pada ikan konsumsi juga sebaiknya tidak diberikan apabila ikan hendak diekspor. Besarnya ikan-ikan konsumsi yang mati dibuang.

Penanganan Bau Lumpur pada Ikan Gurami

Salah satu permasalahan yang dihadapi pada budidaya ikan gurami adalah adanya cita rasa lumpur pada daging ikan gurami yang berasal dari bau yang ditimbulkan oleh lingkungan terutama pada budidaya intensif di kolam dengan sistem air tergenang.

Berdasarkan hasil penelitian Balai Penelitian Perikanan Air Tawar, Departemen Kelautan dan Perikanan, bau lumpur secara umum dan khusus pada ikan gurami dapat dihilangkan dengan perlakuan berupapemberokkan ikan gurami, pada air yang bersalinitas 8 atau 12 ppt selama 7 hari.

Pemberokan ikan gurami ini mengakibatkan perubahan warna kulit yang semula sangat mengkilat menjadi kusam, dan tesktur yang semula lembek (banyak mengandung air dan mudah pemisahaan) menjadi kenyal (struktur daging kompak, kering dan tidak mudah terjadi pemisahan). Setelah pemberokan selama 7 hari, ternyata menyebabkan daging ikan terasa sangat gurih.

Cara lain, gurami yang bercita rasa lumpur dikarantina dalam kolam khusus dan hanya di beri pakan berupa daun sente selama kurang lebih 7 hari. Setelah itu cita rasa lumpur yang biasanya telah hilang. Hal ini kemungkinan dikarenakan kualitas air di daerah tersebut yang relatif jernih dan tidak banyak mengandung lumpur.

Kendala Produksi

  • Penyakit sering kali menjadi kendala karena dapat mengakibatkan menurunnya jumlah produksi ikan yang dapat di jual. Untuk mempercepat timbulnya penyakit maka diupayakan untuk menjaga kondisi kolam agar memenuhi persyaratan yang ditetapkan, disamping petani dapat menghubungi dinas atau Balai Benih Ikan setempat.
  • Gangguan musim, umumnya terjadi pada saat musim kemarau, yang mengakibatkan suhu lebih dingin sehingga oksigen berkurang dan ikan mudah terserang penyakit. Perubahan suhu yang dapat ditoler ikan adalah 5oC. Untuk mengantisipasi perubahan suhu, dapat dilakukan pengaturan air masuk dan air keluar.
  • Sikap petani yang masih sulit mengubah pola budidaya ikan ke arah yang lebih intensif dan cendrung tetap mempertahankan pola budidaya yang telah dilakukan secara turun temurun. Akibatnya jumlah produksi gurami yang masih belum dapat memenuhi permintaan pasar. Dalam hal ini Dinas terkait perlu meningkatkan pembinaan kepada petani agar mau menerapkan pola budidaya yang lebih baik.

Pendederan di Kolam Plastik

Budidaya ikan gurami juga dapat dilakukan pada kolam plastik. Dengan kolam plastik, lahan yang sempit dan air yang kurang, bukan lagi menjadi suatu masalah. Karena dengan kolam plastik ini, akan menghemat lahan dan air, serta untungnya besar Dalam budidaya ikan, orang lebih mengenal tambak, karamba, jaring apung, kolam air tenang dan kolam air deras. Selain itu, adalagi kolam batu dan kolam plastik.

Kolam plastik sebenarnya bukan istilah baru dan sudah cukup lama digunakan, meski terbatas di lingkungan lembaga perikanan. Tetapi diKab. Tasikmalaya, kolam plastik berkembang cukup pesat khususnya diKec. Cineama dan Kec. Manonjaya.
Kolam plastik bukanlah kolam khusus yang terbuat dari plastik tetapi tetap terbuat dari tanah. Namun, karena tanah di daerah tersebut adalah tanah yang porus/sarang (tidak dapat menahan air) dan airnya bukanlah air yang mengalir, maka air di kolam tersebut tidak cepat habis, dasar kolam dan pinggir kolam dilapisi plastik.

Kolam plastik kecil, rata-rata berukuran 14 meter persegi dengan kedalaman air antara 10-60 cm. Kecuali untuk kolam pendederan I dan pendederan II, luasnya cukup 2 meter persegi dengan kedalaman air 10 cm. Begitu pula untuk ukuran kaset, luasnya bisa 2-3 kali luas, dibandingkan dengan kolam untuk ukuran benih yang lebih kecil dari ukuran kaset dan kedalamannya bisa sampai I meter. Ukuran panjang atau lebar kolam disesuaikan dengan keadaan lahan.

 

Baca Artikel Lainnya:

Panduan lengkap budidaya anggur di dalam pot agar berbuah lebat

Panduan lengkap budidaya anggur di dalam pot agar berbuah lebat

Jika kamu memutuskan untuk budidaya anggur maka kamu perlu sadar keperluan makanan mereka.

Mustahui rasanya kecuali dengan langkah budidaya anggur agar cepat berbuah tanpa perlakuan yang pas mampu membuahkan sebuah tanaman yang melimpah.

Dalam budidaya anggur di pot dan dilahan perbedaannya terlalu tipis.

Keberhasilan utama untuk anggur berbuah lebat terdapat pada pemeliharaan dan pemupukan yang secara rutin dikontrol.

Disini aku bakal mengatakan bagaimana rahasia tanaman anggur kamu mampu lebih membuahkan dan menaikan penghasilan kamu di dalam bertani.

Petani pada kebanyakan gunakan teknik terdahulu untuk meraih buah anggur yang mereka tanam.

Saya ambil contoh kasus.

Pernahkah kamu ke tempat Probolinggo Jawa Timur ?

Disana suhunya terlalu tinggi dan panas.

Probolinggo sudah dikenal dengan petani anggurnya yang terlalu besar, dikarenakan anggur terlalu cocok disuhu panas, mereka mampu tumbuh dengan subur dengan suhu tinggi.

Namun salah kecuali kamu beranggapan disuhu yang dingin tanaman ini tidak mampu tumbuh.

Anggur mampu tumbuh juga kecuali kamu menanam anggur di tempat tropis di dataran tinggi dan dingin namun buah yang dihasilkan tidak sesubur didaerah yang panas.

Lalu apa hubunganya dengan tempat panas dan dingin ?

Begini, jadi kenapa aku mengupas tempat panas dan tempat dingin. Saya inginkan mengajak kamu agar kamu mampu mengenal tanaman tersebut.

Dengan kamu mengenal tanaman maka tanaman bakal beri tambahan hasil buahnya kepada anda.

Seberapa unggulnya varietas yang kamu tanam, kecuali kamu tidak ada perlakuan atau pemeliharaan yang pas maka budidaya yang kamu melakukan tidak bakal maksimal.

Bertani itu terlalu enteng asal kami sadar teknisnya.

Dengan mengenal tanaman berikut maka besar kesempatan kamu untuk berhasil budidaya anggur terlalu besar.

Saya inginkan sadar kenapa kamu inginkan membudidayakan di pot ?

Kenapa tidak diladang langsung ?

Saya rasa kamu sadar alasanya, entah dan bagaimana alasanya kamu untuk membudidayakan.

Namun aku bakal beri tambahan gambara mengenai pot dan lahan.

Tanaman anggur, kecuali ditanam di lahan setidaknya kamu memerlukan luas minimum 9 m2 tiap tanam.

Sekarang bandingkan dengan pot.

Jika kamu budidaya di pot dan membuahkan buah anggur, luas lahan yang diperlukan hanya berluas 0,3 m2 saja, dengan diameter 60 cm.

Jadi sudah tau alasanya kenapa aku menganjurkan kamu untuk budidaya di di dalam pot ?

Jika alasan kamu kuat mengapa dan bagimana kamu memulainya, maka lanjutkan membacanya.

Tahapan awal (Bibit)

Jika kamu inginkan membuahkan buah anggur yang lebat dan terlalu bagus terasa berasal dari segi rasa sampai kualitas tinggi, maka memperhatikan bibit sebelum saat kamu membudidayakannya.

Bagaimana aku meraih bibit anggur ?

Berapa harga bibit anggur per pohon ?

Bibit anggur itu mampu kamu dapatkan dengan 4 cara.

1. Dengan langkah setek
2. Dengan langkah cangkok
3. Membeli di toko pertanin
4. Menanam anggur berasal dari bijinya

4 langkah ini miliki berlebihan dan kekurangan masing-masing.

Saya sarankan kecuali sebenarnya kamu tetap pemula, belum mampu melakukan cangkok dan setek lebih baik kamu membeli bibit yang sudah jadi yaitu bibit unggul yang sudah terbukti bagus kualitasnya.

Hal ini untuk menjauhkan agar tanaman mampu tumbuh secara sehat.

Namun aku yakin kamu mampu melakukan cangkok dan setek dikarenakan ini terlalu lazim sekali dilakukan.

Bagaimana ciri-ciri bibit anggur yang unggul ?

Yang pertamakali yang perlu dipilih sebagai tanaman budidaya adalah bibit yang tegak.

Jika kamu pilih batang yang melengkung maka kamu bakal ada masalah untuk sesuaikan tumbuh dan berkembangnya tanaman.

Anggur adalah tanaman yang merambat dan tak jarang untuk dijadikan hiasan.

Pertumbuhan anggur kecuali miliki batang tegak terlalu memudahkan ketik diatur saat fase-fase pertumbuhannya.

Jika kamu lebih inginkan dengan meraih bibit berasal dari hasil setek.

Maka pilihlah batang anggur yang berukuran sebesar pensil.

Kenapa perlu sebesar pensil ?

Jika batang sebesar pensil maka batang yang bakal keluar (tumbuh) bakal cepat menyusul pertumbuhan batang bekas setek.

Tujuannya sesudah tumbuh tunas berikut maka bakal timbul kecocokan pada batang hasil setek yang lama dan tunas yang bakal tumbuh.

Ada yang perlu diperhatikan dengan rancangan penyetekan.

Hail setek yang bakal ditanam perlu miliki akar terlebihdahulu.

Akar yang tumbuh minimalnya miliki cukup panjang – tidak tidak cukup berasal dari 10 cm dan dua lembar daun yang sudah berkembang penuh.

Akar yang tumbuh ini terlalu amat mungkin sekali untuk menahan terjadinya kegagalan pertumbuhan tanaman sesudah bibit dipindahkan kedalam pot.

Jika bibit berasal berasal dari cangkok, jangan pilih batang yang terlalu besar.

Ukur saja paling besar sebesar ibu jari.

Anda perlu memperhatikan juga soal percabangannya.

Jika kamu memperhatikan soal percabangan, kebanyakan anggur tidak cocok dengan pertumbuhannya.

Maka dikala tumbuh cabang baru atau tunas, kamu perlu melakukan pemangkasan.

Pemangkasan pilih lah cabang yang baik dan sehat.

Yang andaikata mampu diatur dikala tanaman anggur kamu tumbuh dewasa.

Saya anggap kamu sudah miliki bibit anggur yang bagus dan siap untuk dipindahkan kedalam pot.

Untuk langkah sesudah itu kamu perlu pilih ukuran pot.

Pilih pot yang mimiliki diameter yang cocok dengan lingkungan anda.

Pot itu banyak jenisnya jadi kamu mampu pilih.

Beberapa pot yang aku rekomdasikan untuk kamu :

1. Drum
2. Pot Tanah
3. Pot Plastik
4. Pot Semen

Yang paling perlu berasal dari bentuk pot bagian atas, kamu perlu meyakinkan lebar besar minimalnya mirip dengan bagian bawah pot.

Tujuan kenapa perlu mirip ukuran pada atas dan bawah perlu sama, agar kamu enteng di dalam penggantian tanah atau media, amat mungkin kamu untuk beri tambahan tanah yang tidak cukup ke di dalam pot.

Pot juga menambah keindahan di dalam perihal budidaya.

Jika ukuran berikut sebenarnya tidak punya, jangan memaksakan juga untuk mengadakannya.

Biasanya yang kerap digunakan untuk menanam di di dalam pot yang cocok untuk anggur berbahan basic berasal dari drum.

Drum mampu dipindah2 dengan enteng dan kuat.

Namun kecuali tidak ada gunakan saja yang ada.

Pemindahan bibit kedalam pot

Jika kamu memicu tanaman kamu sampai manti maka sudah dipastikan kamu 100% gagal.

Untuk meminimalisir kegagalan tanaman kamu maka perpindahan bibit juga berpengaruh untuk kesuksesan pertumbuhan.

Biasanya bibit tanaman berada di dalam polibag.

Anda perlu memisahkan pada polybag dengan bibit kemudidan mampu ditanam.

Untuk penanaman mampu menggali tanah pada tempat yang sudah dihidangkan kemudian kubur sampai sampai pangkal batang.

Tanaman anggur ini enteng tumbuh perakarannya.

Anda perlu meyakinkan bagaimana akar anggur ini mampu dengan enteng menembus tanah.

Tanah yang gembur terlalu amat mungkin sekali untuk perakaran mampu leluasa meraih udara berasal dari luar.

Akar itu butuh bernapas juga maka kamu perlu beri tambahan kemudahan dikala akar membutuhkannya.

Media tanam

Untuk tempat tanam kamu mampu menggunkan campuran tanah dengan pupuk kandang.

Pupuk kandang perlu yang matang.

Hal ini berlaku untuk semua tanaman. Saya rasa ini perlu sekali untuk kamu dikarenakan kerap salah kaprah untuk sebagian petani.

Jika pupuk organik kamu belum matang, itu mirip saja kamu membunuh tanaman kamu sendiri.

Perbandingan ke dua campuran ini sebaiknya kamu menjauhkan terlebihdahulu penggunakan pupuk kimia.

Yang kami melakukan ini adalah pemupukan dasar.

Bukan pemupukan susulan.

Perbandingan yang diperlukan pupuk kandang dan tanah adalah 1 : 1.

Jadi gini contohnya, kecuali pupuk kandang 1 kilo maka tanahnya 1 kilo.

Pemeliharaan

Cara yang paling bagus untuk penanaman awal ini sebaiknya kamu pengecekan dengan sebaik mungkin.

Yang namanya bibit ini agak sedikit manja dibandingkan pohon yang sudah dewasa.

Untuk tahap ini aku rasa kamu sudah mengetahuinya, yaitu perawatan layaknya menangani hama penyakit, pupuk susulan dan pemangkasan.

Hama dan penyakit pohon anggur

Jika aku memberi sadar bagaimana teknisnya kemungkinan semua orang sudah tahu.

Misalnya langkah memberantas hama dan penyakit.

Yang perlu dipahami adalah basic munculnya hama dan penyakit.

Saya tekankan kamu perlu menahan hama dan penyakit bukan mengobati.

Hama ini berawal berasal dari inang yang menempel dan tumbuh jadi dewasa.

Setelah inang ini beralih jadi hama, aku rasa kamu sedang mimpi buruk sekarang. Jadi hama atau penyakit perlu terlalu kamu waspadai.

Bukankah menahan lebih baik berasal dari menyembuhkan ?

Kenapa kamu tidak melakukan perihal yang mirip pada tanaman kamu ?

Untuk lebih jelasnya kecuali sebenarnya tanaman kamu sudah terserang oleh hama dan penyakit maka kamu perlu mempelajari bagaimana mengobatinya.

Penyiraman

Untuk penyiraman sebaiknya ditunaikan pada sore dan pagi hari.

Selengkapnya : https://www.lele.co.id/

Jenis Tanaman Aquascape Paling Populer

Jenis Tanaman Aquascape Paling Populer – Saat ini aquascape telah poly dibuat sang rakyat, khususnya para pencinta ikan hias. Keindahan aquascape yg didapatkan tentu nir hanya dipengaruhi berdasarkan jenis ikan hias yang dipakai, namun pula menurut komponen lainnya, misalnya jenis tumbuhan aquascape yg digunakan. Terdapat banyak sekali macam jenis tumbuhan air yang dapat digunakan buat mempercantik tampilan aquascape Anda. Berikut ini 10 jenis flora aquascape yang paling populer, selengkapnya di faunadanflora.com/

Java Moss
Java moss merupakan galat satu flora aquascape terkenal yg gampang dalam perawatannya lantaran nir membutuhkan banyak CO2 sebagai akibatnya nir perlu dilakukan injeksi CO2. Tanaman yang membutuhkan intensitas cahaya yg tinggi ini terlihat seperti ganggang & berwarna hijau jelas. Pertumbuhan java moss cukup lambat & umumnya tumbuh di kayu apung atau bebatuan pada akuarium. Java moss bisa tumbuh dalam suhu air 21-32° C, namun optimal pada 21-24° C. Tanaman aquascape jenis java moss ini berfungsi menjadi tempat persembunyian & berlindung ikan serta epilog lantai akuarium.

Amazon Sword
Konon flora aquscape jenis ini dianggap amazon sword lantaran asal dari sungai amazon dan bentuk daunnya nampak seperti pedang (sword). Amazon sword sering diletakkan pada bagian belakang aquarium menjadi background & berfungsi menjadi loka persembunyian ikan. Tanaman ini dapat tumbuh hingga 50 centimeter pada air yg bersuhu 22-28° C dengan taraf pencahayaan sedang.

Windelov
Windelov mempunyai nama ilmiah Microsorum preropus. Tanaman yang dianggap juga menjadi Java Fern ini tidak membutuhkan perawatan yg ekstra. Windelov mempunyai bentuk yg unik menggunakan ujung yang bercabang. Tanaman ini memiliki ketahanan diri yg kuat, terlebih bila diikatkan pada kayu ranting atau ditempel pada bebatuan.

Hygrophila difformis
Hygrophila difformis atau dikenal juga menjadi Water Wisteria ini adalah flora yang tumbuh pada air dangkal. Pertumbuhan flora ini terbilang cepat. Di alam, sebagian besar pertumbuhan Hygrophila difformis terjadi selama musim, tetapi di akuarium akan tumbuh sepanjang tahun. Tanaman yang tak jarang digunakan sebagai karpet akuarium ini mudah pada perawatannya, & dapat tumbuh pada air yg bersuhu 23-28° C menggunakan pencahayaan sedang.

African Water Fern
African water fern mempunyai rona hijau belia & acapkali digunakan sebagai latar belakang (background) akuarium. Tanaman ini bisa tumbuh pada air yang bersuhu 20-27° C dan permanen bisa tumbuh meski dalam pencahayaan yg minim. Beberapa sumber mengungkapkan african water fern ini sangat cocok dikombinasikan menggunakan java fern.

Lilaeopsis
Lilaeopsis sepintas nampak seperti rumput dan berfungsi menjadi loka persembunyian ikan yg nyaman. Tanaman ini membutuhkan pencahayaan sedang dan bisa tumbuh dalam air dengan suhu yg berkisar antara 23-29° C. Lilaeopsis memiliki pertumbuhan yang cepat, oleh karenanya perlu perawatan seperti pemotongan atau pemangkasan secara rutin supaya pertumbuhannya tidak meledak & tidak mengganggu tumbuhan aquascape lain di sekitarnya.

Cabomba caroliniana
Cabomba caroliniana termasuk tanaman aquascape yg bisa menempati area midground & background akuarium. Tanaman ini tumbuh dalam akuarium menggunakan suhu air 15-26° C dengan pencahayaan sedang sampai tinggi. Tingkat pertumbuhan Cabomba caroliniana ini cukup cepat. Cabomba caroliniana termasuk tanaman aquascape yang mudah perawatannya lantaran kebutuhannya akan CO2 sedikit sehingga nir perlu dilakukan suntik CO2.

Cara sebabkan kompos

Cara sebabkan kompos

Kompos merupakan pupuk yang dibuat berasal dari sisa-sisa mahluk hidup baik hewan maupun tumbuhan yang dibusukkan oleh organisme pengurai. Organisme pengurai atau dekomposer sanggup berupa mikroorganisme ataupun makroorganisme. Kompos berfaedah sebagai sumber hara dan sarana tumbuh bagi tanaman.

Cara sebabkan kompos

Dilihat berasal dari proses pembuatannya terkandung dua macam langkah sebabkan kompos, yaitu lewat proses aerob (dengan udara) dan anaerob (tanpa udara). Kedua metode ini menghasilkan kompos yang serupa baiknya hanya saja bentuk fisiknya agak sedikit berbeda.

Cara sebabkan kompos metode aerob
Proses pembuatan kompos aerob sebaiknya dikerjakan di daerah terbuka dengan sirkulasi udara yang baik. Karakter dan style bahan baku yang sesuai untuk pengomposan aerob adalah material organik yang mempunyai perbandingan unsur karbon (C) dan nitrogen (N) kecil (dibawah 30:1), kandungan air 40-50% dan pH kurang lebih 6-8. Contohnya adalah hijauan leguminosa, jerami, gedebog pisang dan kotoran unggas.

Apabila kekurangan bahan yang megandung karbon, sanggup ditambahkan arang sekam padi ke dalam adonan pupuk.

Cara sebabkan kompos aerob memakan sementara 40-50 hari. Perlu ketelatenan lebih untuk sebabkan kompos dengan metode ini. Kita wajib mengontrol dengan seksama suhu dan kelembaban kompos sementara proses pengomposan berlangsung. Secara berkala, tumpukan kompos wajib dibalik untuk menyetabilkan suhu dan kelembabannya.

Berikut ini langkah sebabkan kompos aerob:

Siapkan lahan seluas 10 meter persegi untuk daerah pengomposan. Lebih baik bila daerah pengomposan diberi peneduh untuk jauhi hujan.
Buat bak atau kotak persegi empat berasal dari papan kayu dengan lebar 1 meter dan panjang 1,5 meter. Pilih papan kayu yang punya lebar 30-40 cm.
Siapkan material organik berasal dari sisa-sisa tanaman, sanggup termasuk dicampur dengan kotoran ternak. Cacah bahan organik selanjutnya hingga menjadi potongan-potongan kecil. Semakin kecil potongan bahan organik tambah baik. Namun jangan hingga terlampau halus, supaya aerasi sanggup berjalan prima sementara pengomposan berlangsung.
Masukan bahan organik yang telah dicacah ke dalam bak kayu, kemudidan padatkan. Isi seluruh bak kayu hingga penuh.

Siram bahan baku kompos yang telah tersusun dalam kotak kayu untuk menambahkan kelembaban. Untuk mempercepat proses pengomposan sanggup ditambahkan starter mikroorganisme pembusuk ke dalam tumpukan kompos tersebut. Setelah itu, naikkan bak papan ke atas sesudah itu tambahkan ulang bahan-bahan lain. Lakukan terus hingga ketinggian kompos kurang lebih 1,5 meter.
Setelah 24 jam, suhu tumpukan kompos akan naik hingga 65oC, biarkan situasi yang panas ini hingga 2-4 hari. Fungsinya untuk membunuh bakteri patogen, jamur dan gulma. Perlu diperhatikan, proses pembiaran jangan hingga lebih berasal dari 4 hari. Karena berpotensi membunuh mikroorganisme pengurai kompos. Apabila mikroorganisme dekomposer ikut mati, kompos akan lebih lama matangnya.
Setelah hari ke-4, menurunkan suhu untuk menghambat kematian mikroorganisme dekomposer. Jaga suhu optimum pengomposan pada kisaran 45-60oC dan kelembaban pada 40-50%. Cara melindungi suhu adalah dengan membolak-balik kompos, sedang untuk melindungi kelembaban siram kompos dengan air. Pada situasi ini penguapan relatif tinggi, untuk mencegahnya kami sanggup menutup tumpukan kompos dengan terpal plastik, sekaligus termasuk melindungi kompos berasal dari siraman air hujan.
Cara membalik kompos sebaiknya dikerjakan dengan metode berikut. Angkat bak kayu, lepaskan berasal dari tumpukan kompos. Lalu letakan persis disamping tumpukan kompos. Kemudian pindahkan anggota kompos yang paling atas kedalam bak kayu selanjutnya sambil diaduk. Lakukan layaknya isikan kompos di step awal. Lakukan terus hingga seluruh tumpuka kompos berubah kesampingnya. Dengan begitu, seluruh kompos dipastikan telah terbalik semua. Proses pembalikan sebaiknya dikerjakan tiap tiap 3 hari sekali hingga proses pengomposan selesai. Atau balik bila suhu dan kelembaban melebihi batas yang ditentukan.
Apabila suhu telah stabil di bawah 45oC, warna kompos hitam kecoklatan dan volume berkurang hingga 50% hentikan proses pembalikan. Selanjutnya adalah proses pematangan selama 14 hari.
Secara teoritis, proses pengomposan selesai setelah 40-50 hari. Namun kenyataannya sanggup lebih cepat atau lebih lambat tergantung berasal dari situasi dekomposer dan bahan baku kompos. Pupuk kompos yang telah matang dicirikan dengan warnanya yang hitam kecoklatan, teksturnya gembur, tidak berbau.
Untuk memperbaiki penampilan (apabila pupuk kompos hendak dijual) dan supaya sanggup disimpan lama, sebaiknya kompos diayak dan di kemas dalam karung. Simpan pupuk kompos di daerah kering dan teduh.

Cara sebabkan kompos metode anaerob
Cara sebabkan kompos dengan metode anaerob umumnya perlu inokulan mikroorganisme (starter) untuk mempercepat proses pengomposannya. Inokulan terdiri berasal dari mikroorganisme pilihan yang sanggup menguraikan bahan organik dengan cepat, layaknya efektif mikroorganime (EM4).

Di pasaran terkandung termasuk style inokulan berasal dari beraneka brand layaknya superbio, probio, dll. Apabila tidak ada dana yang cukup, kami termasuk sanggup sebabkan sendiri inokulan efektif mikroorganisme. www.budidayaternak.com

Bahan baku yang digunakan sebaiknya material organik yang mempunyai perbandingan C dan N tinggi (lebih berasal dari 30:1). Beberapa diantaranya adalah serbuk gergaji, sekam padi dan kotoran kambing. Waktu yang diperlukan untuk sebabkan kompos dengan metode anaerob sanggup 10-80 hari, tergantung pada efektifitas dekomposer dan bahan baku yang digunakan. Suhu optimal selama proses pengomposan berkisar 35-45oC dengan tingkat kelembaban 30-40%.

Cara membawa dampak arang sekam padi

Cara membawa dampak arang sekam padi

Arang sekam punyai banyak kegunaan baik di dunia pertanian maupun keperluan industri. Para petani memanfaatkan arang sekam sebagai penggembur tanah, bahan pembuatan kompos, bokashi, takakura, sarana tanam dan sarana persemaian.

Cara membawa dampak arang sekam padi

Arang sekam dibikin dari pembakaran tak prima atau pembakaran parsial sekam padi. Bahan baku arang sekam dapat didapatkan dengan gampang di tempat-tempat penggilingan beras. Bahkan di sebagian tempat, sekam padi diakui sebagai limbah. Sebanyak 20-30% dari proses penggilingan padi dapat dibuang dalam bentuk sekam padi.

Cara membawa dampak arang sekam
Ada berbagai langkah membawa dampak arang sekam padi. Berikut ini dapat diuraikan langkah simple dan efektif untuk membawa dampak arang sekam sendiri. Terdapat dua tahapan, yakni bagian penyiapan alat pembakaran dan bagian proses pembakaran sekam padi.

Membuat alat pembakaran
Cari tong silinder atau drum yang terbuat dari besi, seng, alumunium atau logam yang tahan api lainnya. Sebaiknya berukuran tidak cukup lebih 20 liter. Kemudian buang keliru satu dari alas atau atap silinder tersebut.
Pada anggota alas atau atap silinder yang tidak dibuang, membuat lubang berupa lingkaran dengan diameter 10 cm. Usahakan lubang terkandung pas ditengah-tengah lingkaran atau berada di titik pusat diameter silinder.
Kemudian membuat lubang-lubang dengan paku atau pahat pada dinding silinder (diamater tidak cukup lebih 0,5 cm) dengan jarak antar lubang kurang lebih 2-3 cm. Lubang ini berfaedah untuk membuang panas dari bahan bakar ke tumpukan sekam padi, tanpa mesti membakar sekam secara langsung.
Cari atau membuat pipa seng selama 1 cm dengan diamater 10 cm. Masukkan pipa seng selanjutnya kedalam lubang yang sudah dibikin pada alas atau atap silinder, agar berfaedah sebagai cerobong asap bagi kamar pembakaran yang tersedia di silinder utama.
Rekatkan pipa dengan langkah dilas agar pipa berdiri tegak lurus di atas silinder. Atau tempatkan pipa cerobong pada lubang yang tersedia di silinder, ganjal dengan paku dan ikat dengan kawat besi agar pipa cerobong dapat berdiri tegak dan tidak melesak ke basic silinder.

Proses pembakaran arang sekam
Pilih wilayah pembakaran yang jauh dari perumahan atau jalan, sebab proses pembakaran sekam padi dapat mengakibatkan asap yang tebal. Sebaiknya alas tempat pembakaran terbuat dari lantai keras yang tahan panas, atau alasi anggota bawah dengan plat seng sebelum saat melakukan pembakaran. Hal ini untuk memudahkan pengambilan arang sekam.
Buat api unggun seukuran silinder yang sudah kita membuat sebelumnya. Bahan bakarnya dapat memanfaatkan kertas koran, kayu bakar atau daun-daun kering. Kemudian nyalakan api, lantas tutup api selanjutnya dengan silinder yang sudah diberi cerobong asap tadi.
Timbun ruang pembakaran silinder yang didalamnya sudah tersedia nyala api dengan sebagian karung sekam padi. Penimbunan dilakukan menggunung ke atas setinggi tidak cukup lebih 1 meter dengan puncak timbunan cerobong asap yang menyembul keluar.
Setelah 20-30 menit atau pas puncak timbunan sekam padi keluar menghitam, naikkan sekam yang masih berwarna coklat di bawah ke arah puncak. Lakukan konsisten sampai semua sekam padi menghitam sempurna.
Setelah semua sekam beralih jadi hitam, siram dengan air sampai merata. Penyiraman dilakukan untuk menghentikan proses pembakaran. Apabila proses pembakaran tidak dihentikan maka arang sekam dapat beralih jadi abu.
Setelah disiram dan suhunya menurun, bongkar gunungan arang sekam dan keringkan. Kemudian masukkan ke dalam karung dan simpan di tempat kering.

Manfaat arang sekam padi
Di dalam tanah, arang sekam bekerja dengan langkah memperbaiki susunan fisik, kimia dan biologi tanah. Arang sekam dapat meningkatkan porositas tanah agar tanah jadi gembur sekaligus termasuk meningkatkan kapabilitas tanah menyerap air.

Secara biologis, tanah yang gembur merupakan sarana yang baik bagi tumbuh dan berkembangnya organisme hidup. Baik yang berupa mikroorganisme layaknya bakteri akar maupun makroorganisme layaknya cacing tanah. Kelebihan lainnya, arang sekam tidak mempunyai mikroorganisme patogen. Karena proses pembuatannya yang melalui pembakaran agar relatif steril.

Secara kimia, arang sekam punyai kadar unsur hara mutlak layaknya nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg). Keasamannya netral sampai alkalis dengan kisaran pH 6,5 sampai 7. Arang dari sekam padi tidak punya kandungan garam-garam yang merugikan tanaman.

Arang sekam kaya dapat kadar karbon, di mana unsur karbon benar-benar diperlukan dalam membawa dampak kompos. Dari sebagian penelitian diketahui termasuk kapabilitas arang sekam sebagai absorban yang dapat menekan jumlah mikroba patogen dan logam beresiko dalam pembuatan kompos. Sehingga kompos yang dihasilkan bebas dari penyakit dan zat kimia berbahaya.

Diperkotaan, arang sekam banyak diperlukan untu sarana tanam tanaman hias. Kelebihan sarana ini adalah bobotnya yang gampang dan gampang dibersihkan dari akar tanaman. Sifat layaknya ini diperlukan untuk tanaman-tanaman yang dapat didistribusikan.