Kelas Unggulan sebagai Model Bimbingan bagi Murid Cerdas dan Berbakat

Penyelenggaraan Kelas Unggulan sebagai Model Bimbingan bagi Murid Cerdas dan Berbakat

Model Bimbingan bagi Murid Cerdas dan Berbakat

Model Bimbingan bagi Murid Cerdas dan Berbakat

Pengertian Kelas Unggulan

Kelas unggulan adalah kelas yang terdiri atas sejumlah siswa yang karena prestasinya menonjol dikelompokkan di kelas tertentu pada SD Inti (Depdikbud,1996).Program pengajaran pada kelas unggulan adalah program pengajaran yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku ditambah dengan pendalaman materi Matematika/Berhitung dan IPA serta pelajaran Bahasa Inggris.

Pengelompokan ini dimaksudkan untuk memudahkan membina siswa oleh guru dalam mengembangkan kemampuan dan potensi yang ada pada siswa seoptimum mungkin sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Tujuan pendidikan kelas unggulan di SD secara rinci mencakup :

  1. Mempersiapkan peserta didik yang cerdas, beriman dan bertakwa pada Tuhan YME, memiliki budi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta sehat jasmani dan rohani.
  2. Memberikan kesempatan kepada siswa yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata normal untuk mendapat pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan potensi yang dimiliki siswa.
  3. Memberikan kesempatan kepada siswa yang lebih cepat mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan sesuai dengan perkembangan pembangunan.
  4. Memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi baik.
  5. Mempersiapkan lulusan kelas unggulan menjadi siswa unggul dalam bidang pengetahuan dan teknologi sesuai dengan perkembangan mentaln anak.

Siswa yang direkrut adalah siswa kelas IV dengan pertimbangan bahwa siswa kelas IV telah mulai dapat berpikir rasional baik pada SD Inti maupun pada SD Imbas. Cara mendapatkan siswa kelas unggulan dengan cara merekrut semua siswa yang memenuhi persyaratan yang berada di lingkungan gugus tempat diselenggarakan kelas unggulan.

 

Persyaratan kandidat siswa kelas unggulan antara lain :

  1. Siswa peserta kelas unggulan harus bersekolah pada SD Inti/Imbas pada gugusnya.
  2. Merupakan murid pada jenjang kelas tinggi dimulai kelas IV pada tahun ajaran baru.
  3. Memiliki bakat dan minat serta prestasi yang konsisten mulai dari kelas I s.d III melalui rekaman pengamatan dan tes psikologi.
  4. Merupakan murid berprestasi di sekolahnya dan memiliki rangking 1 s.d 10.
  5. Lulus seleksi Tes Kemampuan Akademik dan Kesehatan.
  6. Mendapat rekomendasi dari kKepala Sekolah tempa asal siswa bersekolah.
  7. Mendapat ijin tertulis dari orangtua/wali murid yang isinya bersedia patuh mengikuti tata tertib penyelenggarakan kelas unggulan.
  8. Apabila pada setiap akhir tahun pelajaran tidak mampu menunjukan keberhasilan prestasi belajarnya, ditempatkan pada kelas biasa di SD yang bersangkutan.
  9. PMB di kelas unggulan

 

PMB di kelas unggulan diupayakan memiliki keunggulan daripada kelas biasa

Oleh karena itu seluruh komponen pendidikan seperti, guru, materi ajar, bahan sarana belajar-mengajar dan waktu belajar di kelas unggulan harus lebih baik dari kelas biasa. Mengingat tuntutan prestasi belajar bagi siswa kelas unggulan sangat tinggi, diperlukan adanya guru pembimbing yang tugas khususnya mengawasi/ memantau, membimbing serta mengarahkan siswa di kelas unggulan agar dapat berprestasi dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar siswa unggulan lebih mendapatkan pelayanan pengembangan minat dan bakat yang dimilikinya.

Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum yang berlaku secara nasional (termasuk di dalamnya muatan lokal) dan kurikulum plus yang terdiri atas mata pelajaran Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris selama  4 jam. Dengan demikian diperlukan penambahan waktu belajar di sekolah. Metode mengajar diharapkan dapat lebih mengaktifkan siswa dengan merangsang siswa untuk berpikir mengembangkan berbagai pertanyaan. Variasi pembelajaran cukup beragam (individu dan kelompok). Tugas-tugas PR lebih disesuaikan dengan kehendak siswa untuk mengingat prestasinya. Umpan balik terhadap PMB harus sering dilakukan. Evaluasi hendaknya mendorong siswa untuk belajar. Baik dari segi alat evaluasi proses maupun tindak lanjut dari hasil evaluasi.

 

Model-model Penyelenggaraan Kelas unggulan di SD

Berdasarkan pengamatan di kodya Bandung, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Bekasi, serta Kabupaten Tasikmalaya, ternyata bentuk penyelenggaraan kelas unggulan di berbagai daerah bermacam- macam disesuaikan dengan kondisi masing-masing

  1. Penyelenggaran Kelas Unggulan di SD Inti dalam Satu Kompleks Sekolah

Model penyelenggaran kelas unggulan yang paing banyak adalah diselenggarakan di SD Inti tetapi hanya melibatkan SD-SD dalam satu kompleks, SD-SD di luar kompleks SD tersebut meskipun ada dalam satu gugus keberatan untuk mengikutsertakan peserta didiknya dalam dalam kelas unggulan apalagi bagi SD swasta. Contoh model ini diselenggarakan oleh SD Merdeka Bandung dan SD Gentra Masekdas Bekasi.

  1. Penyelenggraan Kelas Unggulan Kecamatan

Penyelenggaraan kelas unggulan di SD inti di Kota Kecamatan dengan menampung siswa tebaik dari SD-SD di seluruh Kecamatan. Contoh model ini diselenggarakan di Kecamatan Buahdua Kabupaten Sumedang dan di Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat.

  1. Penyelenggaraan Kelas Unggulan dalam Satu Kompleks secara Bergiliran

Pada model penyelenggaraan kelas unggulan diselenggarakan di SD dalam satu kompleks secara bergiliran. Sebagai contoh di SD Sukaraja Kabupaten Sumedang. Penyelenggaraan kelas unggulan tahun ajaran 1996/ 1997 dilaksanakan oleh SD Sukaraja I, sedangkan pada tahun ajaran 1997/1998 diselenggarakan oleh SD Sukaraja II (khusus untuk kelas baru)

  1. Penyelenggaraan Kelas Unggulan pada Seluruh Jenjang Kelas.

Model ini menyelenggarakan kelas unggulan pada seluruh jenjang kelas dengan menambah waktu belajar selama 2 jam pelajaran. Model ini diselenggarakan oleh SD Marga Mukti Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang. Penambahan waktu yang lebih lama lagi diselenggarakan oleh SD Salman Al Farizi yang lebih dikenal dengan full day school.

 

Kelebihan dan Kekurangan Model Kelas Unggulan

Mencermati  penyelenggaraan kelas unggulan di SD inti, pada hakekatnya adalah model pengelompokan berdasarkan kemampuan ( ability grouping). Model ini akan mempermudah bagi guru dalam mengembangkan kemampuan atau potensi siswa optimum mungkin. Model kelas unggulan memungkinkan guru mengembangkan suasana belajar kompetitif sehingga terjadi persaingan sehat antar siswa dalam memperoleh prestasi terbaik. Menurut hasil penelitian Mulyono (Mimbar  Pendidikan No. 4 Tahun XI Desember 1992 :22) suasana belajar kompetitif unggul atas suasana belajar kooperatif. Jika kemampuan dan kecerdasan peserta didik homogen.

Studi Halinan dan Sorensen (dalam Sunaryo Kartadinata 1993-45) menunjukkan bahwa pengelompokan kecakapan ini memiliki keunggulan dan kelemahan dalam perkembangan sosial peserta didik. Keunggulannya ialah bahwa model ini bisa memperkuat ikatan sosial sesama anggota kelompok, tetapi dipihak lain jika tingkat kecakapan itu berkaitan dengan status sosial ekonomi, etnis atau kelompok berlatar belakang sama maka model ini akan menumbuhkan klik-klik yang tidak sehat.

 

Bimbingan bagi Siswa Kelas Unggulan

Bertolak dari antisipasi terjadinya dampak negatif penyelenggaraan kelas unggulan maka penulis mengajukan gagasan agar siswakelas unggulan tetap merupakan siswa dari kelas biasa di sekolah masing-masing atau lazim dikenal dengan pull out enrichment (Conny Semiawan, 1997:256). Alternatif pertama, siswa unggul bergabung dalam kelas unggulan hanya dalam kurikulum plus yaitu: mata pelajaran Matematika, IPA, dan Bahas Inggris. Alternatif kedua, siswa unggul bergabung dalam kelas unggulan pada setiap mata pelajaran Matematika, IPA, dan Bahas Inggris baik dalam pelaksanaan kurikulum biasa maupun kurikulum plus.

Keunggulan metode ini dalah siswa unggul tetap berbaur dengan siswa biasa, siswa tidak merasa elit dan perkembangan sosial anak tidak terganggu. Secara administratif SD Imbas tidak merasa ditinggalkan oleh siswa-siswa terbaiknya.

Tujuan bimbingan dan konseling anak berbakat  adalah membantu perkembangan pribadi mereka dalam menyingkirkan halangan emosional lingkungan, serta membantu agar mampu menggunakan kemampuannya seoptimal mungkin (Conny R Semiawan. 1992:68). Anak berbakat tidak saja diidentifikasikan karena kemampuannya yang luar biasa dalam segi intelektual akademis, tetapi juga dalam bidang berpikir kreatif. Milgram (1991) berpendapat bahwa kebutuhan bimbingan dan konseling dari anak berbakat meliputi tiga kategori : kognitif-akademik, personal-sosial, dan pengalaman luar sekolah ( experimental needs ).

Menurut Conny Semiawan (1992:73) berpendapat bahwa konselor harus mampu bertindak berdasarkan pendekatan perkembangan. Oleh karena itu model bimbingan yang dikembangkan adalah model bimbingan dan konseling perkembangan ( development counseling ). Faktor lain yang dipertimbangkan dengan penyelenggaraan kelas unggulan adalah tidak adanya reward bagi siswa unggulan. Mereka sepertinya dijejali dengan kurikulum plus, tugas-tugas tambahan tetapi tidak dari peluang untuk naik kelas lebih cepat seperti jaman keemasan SD PPSP atau seperti yang dilakukan di Sekolah Adik Irma Jakarta. Program penyelenggaraan kelas unggulan di SD tanpa peluang untuk percepatan kenaikan kelas, dikhawatirkan menjadi beban siswa unggul.

 

Sumber : https://penzu.com/public/dffb634b?fbclid