3 Misteri Dibalik Nilai Anak Yang Hancur

3 Misteri Dibalik Nilai Anak Yang Hancur

Berikut ini adalah artikel yang berfokus pada pola dan persoalan studi anak. Banyak sekali pertanyaan mengenai hal ini yang terlihat di situs kami, perihal mengenai persoalan studi anak. Kita dapat mengetahui dan studi mengenai segi psikologis mengapa anak memiliki masalah dengan nilai di sekolah.

Sebelum kita lebih jauh berinteraksi, pahami bahwa nilai atau angka (simbol) bukan hanya satu penentu kesuksesan anak kelak di jaman depan. Semua yang dialami waktu dia sekolah dapat banyak yang tidak digunakan kelak, menjadi type pendidikan apa yang dapat digunakan seorang anak sampai dia dewasa dan bisa diwariskan? Ya, didiklah karakternya dan tanamkan kesuksesan sejak awal di ladang karakternya.

Mengapa seorang anak dikala studi di tempat tinggal bisa, diberi soal lebih susah daripada di sekolah termasuk bisa, lebih-lebih waktu di daerah les dia diberi latihan soal yang banyak termasuk bisa, walaupun soalnya lebih sulit termasuk bisa, tetapi dikala ulangan tiba-tiba nilainya jelek. Nah, apakah kamu pernah miliki persoalan seperti ini?

Anda yang miliki anak SD, tentu sering mengalami masalah-masalah seperti ini. Anda tentu jadi jengkel dikala mengetahui bahwa anak kamu yang tadi malam studi sudah bisa semua, tetapi dikala ulangan ternyata ulangannya bisa nilai jelek.

Jika ini berlangsung sekali dua kali bisa saja kamu bisa memakluminya, tetapi terkecuali ini berlangsung berulang kali, kamu tentu jadi jengkel pada anak anda. Bahkan bisa menjadi kamu frustasi dan kemudian malah mengeluarkan kata-kata negatif.

Nah apakah yang berlangsung dibalik persoalan ini. Seorang anak yang bisa sewaktu mengerjakan soal di tempat tinggal dan kemudian gagal waktu dia ulangan. Untuk hal-hal yang mirip dan itu berulang kali, maka ada tiga hal yang kudu kamu waspadai:

1. Anda kudu ragu bahwa anak ini mengalami kecemasan yang tersembunyi

Anda tentu bertanya tidak mungkin, Dia cemas berasal dari mana? Kenapa dia cemas? Kecemasan yang tersembunyi ini disebabkan oleh banyak faktor. Ya, bisa menjadi tuntutan yang terlalu tinggi berasal dari kita orangtua atau bisa saja lebih-lebih berasal dari gurunya. Tuntutan ini tidak bisa membuat si anak menunjukkan mutu optimalnya. Sehingga dikala ulangan, yang terbayang adalah kecemasan bahwa dia tidak bisa memenuhi tutuntan berasal dari si orangtua. Atau tuntutan berasal dari gurunya mungkin.

Nah kamu tahu, dikala cemas maka kita tidak bisa berpikir secara jernih. Anda tentu pernah mengalaminya bukan? Ketika kamu tengah cemas, tengah stres berat. Maka hal yang sepele sudah pasti bisa menjadi terlupakan. Nah ini yang berlangsung pada anak-anak kita. Mereka cemas dikarenakan tuntutan kita yang terlalu tinggi, atau keharusan untuk menguasai sesuatu.

Ketika mereka jadi tidak mampu, kecemasan itu menghantui pikirannya. Dan apa yang sudah mereka pelajari di awalnya tiba-tiba blank, pada waktu ulangan. Ini termasuk sering berlangsung pada kita. Ingatkah kamu pada waktu pernah kamu kuliah? Mungkin tetap SMA bahkan? Ketika kita ulangan tiba-tiba saja mendadak lupa dapat jawaban yang kudu kita tuliskan disana. Padahal tadi malam jelas-jelas kita sudah mempelajari hal tersebut.

Nah, dikala kita menghadapi ulangan tiba-tiba saja hilang jawabannya. Apalagi dikala sang guru atau dosen mengatakan 5 menit lagi kamu kudu mengumpulkan lembar jawaban, dan waktunya habis. Oke, makin kita paksa kelanjutannya kita stress dan kelanjutannya kita lupa.

Dan anehnya dikala kita sudah mengumpulkan lembar jawaban, terlihat berasal dari area ujian tiba-tiba jawabannya terlihat didalam anggapan kita “Ahh..” kenapa tidak berasal dari tadi munculnya, kamu tentu menggerutu pada diri kamu sendiri. Anda pernah mengalami hal itu bukan?

Nah ini yang berlangsung pada anak-anak kita. Jadi dikala mereka ulangan,maka sebaiknya jangan sampai mereka itu cemas. Tuntutan – tuntutan kita membuat mereka cemas. dikarenakan itu kita kudu instropeksi diri, apakah sepanjang ini kita sudah terima mereka apa adanya. Ya, umumnya berasal dari kita menghendaki agar nilai mereka bagus. Tetapi begitu nilai mereka jelek, kita jadi menuntut mereka.

“Kenapa sih nilai kamu jelek?” Jarang sekali ada orangtua yang mengatakan, “Mama bisa mengetahui kamu nak, apa yang mama bisa bantu agar lain kali nilaimu lebih bagus lagi?” Jadi dikala seorang anak mempunyai nilai jelek, hal yang kita kudu laksanakan adalah mengetahui pernah perasaannya. Saya yakin anak itupun tidak ingin nilainya jelek, bukan cuma kita. Diapun termasuk tidak ingin nilainya buruk tentunya. Tetapi kenyataan yang dihadapi lain.

Ketika nilainya sudah jelek, dia sedih tetapi kita malah memarahi dia. Dia dapat jadi bahwa dirinya tidak dipahami dan tidak dimengerti. Di lain hari kecemasan itu terlihat didalam dirinya. Dia dapat merasa, “Aduh terkecuali nilai aku buruk lagi aku tentu dimarahi, aku tentu mengecewakan mama”.

Pernah ada satu persoalan di mana seorang anak tidak sudi berangkat sekolah dikarenakan hari itu ada ulangan. Dia mengatakan taku kepada mamanya, “Kenapa takut?” Tanya mamanya. “Saya kuatir mengecewakan mama terkecuali nilai aku jelek.” Dan ini dilontarkan oleh seorang anak kelas 2 SD.

Nah, berasal dari perihal selanjutnya sang mama studi bahwa sepanjang ini, dia sering berkata “Mama tidak persoalan dengan nilaimu.” Tetapi kenyataannya dia membuat anaknya cemas. Jadi kadang waktu kita sebagai orangtua cuma mengatakan, “Tidak, nilai berapapun tidak persoalan kok.” Tetapi ternyata itu cuma di mulut saja, kenyataannya si anak merasakan hal yang berbeda, dia merasakan tuntutan orangtua yang terlalu tinggi.

Nah, untuk persoalan ini sebaiknya kita kudu koreksi diri bagaimana caranya kita terima seorang anak apa adanya, tidak terkait berasal dari nilainya. Ingat sesungguhnya nilai itu cuma mengindikasikan dia sudah bisa atau belum.

Berbahagialah dikala nilai anak kamu jelek. Karena apa? Sekarang kamu mengetahui mana yang dia itu belum bisa. Pembelajaran yang baik mestinya dimaksudkan untuk meningkatkan seorang anak agar ia bisa kompeten di didalam bidangnya. Bukan untuk melabel dia pintar atau bodoh.

2. Sebab yang lain adalah dikarenakan perlakuan-perlakuan negatif yang pernah diterima anak

Misalnya, dikala seorang anak nilainya jelek, kemudian kita sebagai orangtua marah-marah, dan lebih-lebih bisa saja menghukumnya. Harus berdiri di pojok, tidak boleh makan. Atau apa-pun yang kita bisa laksanakan untuk itu.

Nah dikala dia terima perlakuan itu, maka perlakuan itu dapat membekas di ingatannya. Berikutnya dikala dia ulangan lagi di lain kesempatan, yang dia lihat di lembar soalnya bukan soal ujian, tetapi muka orangtuanya yang tengah marah. Wajah ini tiba-tiba saja terlihat terbayang di didalam pikirannya.

Anda bisa bayangkan terkecuali kita berhadapan dengan soal ujian dan kemudian yang terlihat adalah kecemasan berkhayal muka orangtua yang tengah marah, dikarenakan kita tidak bisa. Atau bisa saja muka guru yang mempermalukan kita di depan teman-teman kita. Maka seluruh yang kita pelajari tiba-tiba saja menjadi hilang dan kelanjutannya ulangannya jelek.

Baiklah, terkecuali ini berlangsung sebaiknya kamu kudu langsung minta maaf pada anak anda. Anda cukup mengatakan, “Beberapa hari yang selanjutnya waktu ulangan kamu jelek, dan kemudian mama marah, bagaimana perasaanmu?” Apapun yang dijawab oleh anak kamu terima apa adanya.

Misalkan dia menjawab, kuatir atau jadi ini itu, apa-pun itu kamu cuma kudu menjawab “Oke maaf, bisa saja waktu itu mama terlalu berlebihan.Atau bisa saja waktu itu mama lepas pengecekan agar memarahi kamu terlalu dalam. Tetapi sebenernya maksud mama terlalu baik. Apakah kamu sudi memaafkan mama? Mama lain kali janji dapat menolong kamu terkecuali nilai kamu jelek, kita dapat cari solusinya bersama-sama. Kamu tentu ingin nilai kamu baik termasuk kan?”

Nah, itu sudah pasti jauh lebih baik bagi si anak. Daripada kita cuma hanyalah memarahinya, memintanya belajar, memaksanya studi tanpa mirip sekali mengakui perasaannya untuk diberi kasih saying dan untuk di terima apa adanya.

3. Sebab yang lain adalah kurangnya perhatian berkualitas.

Mungkin kamu bertanya, “Ah mana bisa saja aku tidak menyimak anak saya”. Betul, aku yakin dan yakin bahwa tiap tiap orangtua tentu menyimak anaknya. Tetapi kadang waktu perhatian yang kita berikan itu tidak cocok dengan apa yang di idamkan oleh si anak, yang aku maksud dengan perhatian di sini adalah perhatian yang berkualitas.

Dalam makna kita menyimak termasuk perasaan-perasaan si anak. Bukan cuma menyimak tugas-tugas yang kudu dia selesaikan. Kebanyakan berasal dari kita cuma menyimak tugas–tugas yang kudu diselesaikan oleh seorang anak.

Kita cuma menyimak sudah mengerjakan PR atau belum? Sudah studi atau belum? Besok terkecuali ulangan sudah menyiapkan alat tulisnya? Buku sudah disiapkan belum? Kita cuma menyimak aspek-aspek fisik. Kita tidak menyimak aspek-aspek perasaan berasal dari si anak. Padahal yang jauh lebih dibutuhkan seorang anak adalah perhatian dapat perasaan-perasaannya agar dia terlalu diterima secara utuh oleh orangtuanya.

Anda bisa beri tambahan perhatian memiliki kwalitas ini dengan lebih baik, dengan langkah membaca artikel aku yang berjudul Pentingnya Memahami Kebutuhan Emosional Anak. Itu adalah tidak benar satu langkah terbaik untuk beri tambahan perhatian memiliki kwalitas pada anak anda.

Semoga bermanfaat.

Baca juga :