Mengenal Tentang Gurun Taklamakan

Mengenal Tentang Gurun Taklamakan

Mengenal Tentang Gurun Taklamakan

Mengenal Tentang Gurun Taklamakan

Gurun Taklamakan

(Takelamagan Shamo, 塔克拉玛干沙漠), juga disebut Taklimakan, adalah gurun yang terletak di Asia Tengah, tepatnya di daerah otonom Xinjiang Uyghur,  Republik Rakyat Cina. Gurun ini berbatasan dengan Pegunungan Kunlun di selatan dan Pegunungan Pamir, di barat dan Tian Shan (Gunung Imeon kuno), di utara.

Nama Uyghurmemijam dari istilah Arab, yang berarti “ditinggal sendiri”. Tetapi istilah umum yang lebih seram dariTakla Makanberarti “masuk dan tidak akan pernah keluar lagi”.

Luas

Taklamakan adalah salah satu gurun  pasir terluas di dunia dan menempati urutan ke 15 dalam hal luasnya, diantara gurun-gurun non polar. Gurun ini menutupi area lembah Tarim seluas 270000 km persegi (104247 mil persegi), dengan panjang 1000 km (621 mil) dan luas 400 km (249 mil) Di bagian utara dan di bagian selatan bersimpangan dengan dua jalur dari jalan sutra, sehingga orang-orang yang melakukan perjalanan melewati gurun ini dapat menghindari daratan luas ,yang kering ini. Beberepa tahun yang lalu pemerintah Republik Rakyat China telah membangun jalan bebas hambatan melintasi gurun, yang menghubungkan kota Hotan (di sisi selatan) dan kota Luntai di sisi utara)

Iklim

Taklamakan merupakan gurun yang beriklim dingin, Di Siberia massa udara di gurun ini berada antara dingin dan dingin sekali. Dan suhu terendah yang paling ekstrim, tercatat pada setiap musim dingin, bahkan kadang-kadang bisa mencapai -20 derajat celcius (- 4 derajat Fahrenheit). Pada tahun 2008, ketika China terserang badai musim dingin, untuk pertama kalinya Taklamakan tertutup oleh salju setebal 4 cm (2 inch) dengan temperatur -26,1 derajat Celcius (-15 derajat F), seperti yang tercatat pada beberapa tempat observatorium.

Oasis

Di gurun ini tidak terdapat air, dan ini sangat beresiko unutk melewatinya.Karavan-karavan milik saudagar-saudagar yang berada di jalan sutra (Silk Road),  akan berhenti untuk melepaskan dahaga di kota-kota oasis, yang sedang berkembang.

Air-yang ada di kota-kota oasis ini berasal dari air hujan, yang turun dari gunung-gunung disekitarnya seperti gunung Kashgar, Marin, Niya, Yarkand, dan Khotan (Hetian), di selatan , Kuqa dan Turpan, di utara serta Loulan dan Dunhuang, di timur. Kota-kota kecil seperti Marin dan Gaochang adalah area di wilayah autonom Xinjiang, China

Para ahli arkeologi  menemukan adanya jejak peninggalan kuno di Tocarian, yang terpengaruh oleh budaya Indian dan Budha di awal masa Hellenistic. Jejak ini dan bahayanya telah diterangkan secara jelas oleh Aurel Stein, Sven Hedin, Albert von Le Coq, dan Paul Pelliot.

Mummi-mummi yang berusia lebih dari 4000 tahun, juga telah ditemukan  di area ini.  Mereka menunjukkan secara jelas adanya orang-orang yang berusaha menjelajahi atau berjalan melewati gurun ini. Beberapa dari mummi ini tampaknya berasal dari bangsa Celtic, di Eropa, selanjutnya Taklamakan menjadi tempat pemukiman dari orang-orang Turki.

Berawal dari dinasti Tang, China secara periodik memperluas pengaruhnya terhadap kota-kota Oasis di Taklamakan, dalam usaha untuk mengontrol jalur sutra (Silk Road) yang melewati Asia Tengah ini

Peraturan-peraturan atau hukum-hukum China secara periodik juga disisipkan pada peraturan-peraturan orang-orang Turki, Mongol dan Tibet. Saat ini populasi terbesar yang mendiami area ini masih merupakan rakyat Uygur Turki.

Mumi-mumi dari Celtic di Gurun Taklamakan

Pada tahun 1978, di gurun Taklamakan yang sunyi ini, ditemukan lima mummi yang terawetkan dengan sangat baik. Yang aneh adalah mumi tersebut berkebangsaan Celtic dari Eropa, yang jaraknya ribuan mil dari Taklamakan.

Mumi-mumi ini dikenal dengan sebutan “Cherchen Man and Family”. Total mumi yang ditemukan ada lima. Seorang pria, tiga perempuan dan seorang bayi. Menurut para peneliti, mummi-mummi ini adalah anggota suku Caledonia kuno di Skotlandia tengah dan telah dikubur di tempat itu selama 3.000 – 4.000 tahun yang lalu

Lokasi penemuan para mummi ini tepatnya adalah di gurun Taklamakan di wilayah Xinjiang, barat daya Cina. Wilayah ini dulunya merupakan bagian dari jalan sutra, yang merupakan jalur perdagangan yang ramai yang dilalui oleh bangsa-bangsa asing yang datang ke China. Jadi sebenarnya tidak terlalu heran apabila mummi-mummi Celtic ini ditemukan di wilayah itu.

Mummi pria memiliki rambut merah kecoklatan, tulang pipi yang tinggi, hidung mancung dan jenggot. Tingginya sekitar enam kaki dan dikubur dengan baju tunik berwarna merah. Pemeriksaan DNA juga turut memperkuat bukti bahwa ia adalah seorang Celtic.

Mummi perempuan yang dikubur bersamanya memiliki rambut coklat tebal, yang masih kelihatan mengkilap, bahkan setelah dikubur selama lebih dari 3.000 tahun. Disampingnya ditemukan sebuah sisir kayu yang tidak asing lagi bagi para mahasiswa peradaban Celtic kuno.

Mummi bayi di kuburan itu, dibungkus dengan kain coklat yang indah dengan hiasan merah dan biru dan sebuah batu berwarna biru ditaruh di kedua matanya. Disamping bayi tersebut ditemukan sebuah botol susu yang terbuat dari kulit domba. Yang luar biasa dari mummi-mummi ini, adalah tubuh mereka terawetkan jauh lebih baik dibanding mumi Mesir.

Victor Mair, seorang ahli mengenai mayat-mayat purba dan pengarang pendamping buku “Mummies of the Tarim Basin” mengatakan : “DNA Modern dan Kuno menunjukkan bahwa suku Uighurs, Kazaks, Kyrgyzdan penduduk-penduduk Asia tengah adalah percampuran antara Kaukasian dan Asia Timur.”

Jadi kemungkinan besar, mereka adalah para pedagang yang kemudian tinggal di wilayah itu dan melahirkan suku-suku di wilayah itu.

Sebenarnya kisah ini tidaklah terlalu misterius. Namun bukankah suatu hal yang sangat menarik, bahwa di gurun Taklamakan yang sunyi, 3.000 tahun yang lalu, masa dimana kebudayaan Eropa dianggap masih barbardan terbelakang, hidup sekumpulan dengan orang asing dalam keadaan damai, di tanah yang asing pula. Siapakah mereka ? Bagaimana cara mereka hidup ? Seberapa majukah kebudayaan dan pengetahuan mereka ? Bagaimana mereka sampai di Taklamakan ? Apakah mereka satu keluarga ?

Mayat wanita dengan sisir disampingnya dan mayat bayi dengan botol susu disampingnya. Bukankah mengharukan?

 

(Sumber: https://pengajar.co.id/)