4 Hal yang Dapat Ditiru dari Pendidikan Luar

4 Hal yang Dapat Ditiru dari Pendidikan Luar

Salah satu prestasi yang sukses diraih oleh Iqbaal Ramadhan di dunia pendidikan adalah beasiswa untuk bisa bersekolah di Amerika Serikat, tepatnya di Armand Hammer United World College of the American West. Hebatnya lagi, tak sekedar sukses menimba ilmu di luar negeri dengan beasiswa, Iqbaal terhitung merupakan cuma satu perwakilan dari Indonesia di angkatannya, lho.

Pengalamannya bersekolah di luar negeri ini, membuatnya menyadari jika ternyata terkandung sebagian perbedaan antara pendidikan di Indonesia dan di luar negeri, lebih-lebih Amerika. Iqbaal lihat perbedaan yang paling signifikan adalah pendidikan di Indonesia tetap berfokus pada paper plus score oriented, selagi pendidikan di luar negeri udah lebih menyimak pengembangan minat dan bakat anak dibandingkan nilai mereka di sekolah.

“Di Indonesia itu, selagi anak meraih nilai tidak baik pasti bakal dianggap bodoh. Padahal ‘kan nggak, setiap anak itu pasti pintar di bidangnya masing-masing. Bedanya dengan sekolah di luar itu gue merasa mereka lebih holistic. Jadi, selagi anak meraih nilai tidak baik di satu mata pelajaran, mereka tidak di-push untuk jadi yang terbaik di pelajaran itu, namun bakal lebih difokuskan ke pengembangan minat dan bakatnya yang bakal bermanfaat di dunia kerja nantinya”, menyadari Brand Ambassador Ruangguru ini.

Kurangnya mutu pendidikan di Indonesia ini bukan jadi tanggung jawab satu pihak saja, yaitu guru atau badan pendidikan, melainkan beraneka pihak, merasa dari orang tua, pemerintah, dan lebih-lebih semua masyarakat. Hal inilah yang mendorong Iqbaal untuk turut turut serta dan do something demi pendidikan Indonesia.

Untuk melakukan perbaikan sistem, mutu dan segala hal perihal dengan pendidikan di Indonesia, tidak tersedia salahnya untuk membandingkan dan mengambil hal positif yang udah diterapkan di luar negeri. Apa saja ya yang bisa kita melaksanakan demi memajukan pendidikan Indonesia, Squad? Yuk, kita lihat sebagian hal yang bisa ditiru dari pendidikan luar negeri berikut.

1. Seminar dan kajian untuk kegiatan orientasi

Di Indonesia, MOS atau Ospek senantiasa diisi dengan aktivitas-aktivitas yang didominasi untuk mempermalukan para siswa baru, seperti mengenakan topi atau tas plastik, sampai memanfaatkan name tag dengan bentuk-bentuk yang aneh. Banyak panitia bakal mengatakan bahwa tujuannya adalah sehingga murid baru bakal kuat mental dan fisik sebelum akan sangat masuk ke suatu sekolah.

Hal ini tidak sama dengan Amerika Serikat yang justru melaksanakan kegiatan orientasi dengan langkah yang lebih positif. Para siswa bakal diajak berkeliling dan ikuti sebagian seminar serta kajian sehingga mereka lebih mengenal sekolah dan kampusnya.

2. Mementingkan sistem dibandingkan hasil akhir

Semua ujian yang dijalankan oleh siswa di Indonesia cuma bakal dinilai dari hasil akhirnya saja. Bahkan, tersedia pula standarisasi khusus yang sebabkan banyak siswa jadi stres dan depresi sebab perlu menggapai nilai minimal yang udah ditetapkan oleh pemerintah.

Di kebanyakan jenjang pendidikan di luar negeri, seperti Australia, hasil akhir bukanlah segalanya. Semua pendidik bakal lebih menitikberatkan pada sistem dibandingkan hasil akhir. Jika didalam prosesnya berantakan, maka udah bisa diketahui jika hasil akhirnya terhitung tidak bakal baik.

3. Semua anak setara

Kebanyakan negara di luar negeri tidak mengenal adanya sistem proporsi kelas yang berisikan anak-anak pintar saja, atau yang sering kita sebut dengan kelas unggulan dan kelas yang berisikan siswa biasa dengan grade standar. Rata-rata semua siswa bakal dikumpulkan didalam satu kelas yang cuma dibedakan berdasarkan jumlahnya saja. Pembagian kelas unggulan dan non-unggulan seperti di Indonesia bakal menciptakan tembok pembatas antara siswa pintar dan biasa.

Berbeda dengan negara luar seperti Finlandia dengan sokongan pemerintah yang sangat kuat untuk pendidikan, mereka bisa mewujudkan slogan “pendidikan untuk semua”. Segregasi sosial sukses dihindarkan berkat tidak adanya pengistimewaan pada anak di negara tersebut. Semua anak sama, tidak tersedia standar yang membedakan antara sekolah unggul dan buruk, anak pintar dan tidak pintar, kaya dan miskin. Semuanya berada di didalam satu kelas yang sama.

4. Tidak banyak menghabiskan selagi di sekolah

Di luar negeri, jam belajar untuk hal-hal yang berbau teori sangat terbatas dan selebihnya bakal diisi dengan praktik atau professional development. Hal ini tidak sama dengan pendidikan Indonesia yang tetap menganut sistem spoon feeding, sehingga guru bakal jadi sumber satu-satunya. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler sampai bimbingan belajar terhitung menambah panjang jam belajar siswa di sekolah. Berbeda dengan di Finlandia yang cuma mengajar sepanjang 4 jam per hari. Kemudian, sepanjang 2 jam mereka bakal mengembangkan kurikulum dan penilaian untuk kemajuan belajar siswa.

Baca Juga :