Disiplin Aja

Table of Contents

Disiplin Aja

Kekaguman seluruh orang, lebih-lebih civitas akademik di sekolah kami, tertuju kepada keliru seorang peserta didik yang baru-baru ini berhasil raih juara 1 lomba bridge tingkat propinsi 2015. Ada perihal menarik yang dilakukannya sepanjang mengejar tujuan juara, ‘tak tersedia yang dapat mengalahkan manusia-manusia yang disiplin’. Begitulah sepenggal komitmen sang juara bridge tersebut. Nampak dalam kesehariannya memegang teguh komitmen disiplin tersebut, baik disiplin sekolah maupun disiplin berlatih bridge.

Disiplin Aja

Kata disiplin disini bukan artinya sempit seperti halnya ideologi militerisme, yang berasumsi cuma militer saja yang punyai kedisiplinan, integritas, tanggung jawab, berseragam lengkap, singgah tepat waktu, dll. Disiplin disini lebih artinya terhadap sebuah komitmen. Ketika peserta didik kami mengambil keputusan untuk mengejar tujuan juara propinsi, maka beliau berkomitmen bersama berdisiplin diri lakukan hal-hal yang menopang dirinya dapat menjadi juara.

Tipe kedisiplinan yang diterapkan oleh sang juara selanjutnya juga terhadap forced disiplin berkombinasi bersama self discipline. Sejatinya tersedia tiga jenis disiplin yang kami kenal, peserta didik maupun guru yang dambakan menjadi juara dalam segala bidang, maka kudu secara menyadari pandai pilih dan memakai tiga jenis disiplin. Forced discipline, Self discipline, Indisiplin.

Forced discipline dimunculkan atau terjalin dalam sebuah proses yang digerakkan berasal dari luar oleh instansi tempat kami belajar atau bekerja, orang tua, guru, pelatih. Jenis disiplin ini bakal mengharuskan kami menjadi teristimewa yang punyai nilai-nilai ketaatan, kesetiaan, keteraturan, dan ketertiban. Hasil berasal dari situasi yang tercipta selanjutnya adalah bentuk komitmen diri terhadap apa yang dambakan dicapai, seperti halnya memperoleh juara bridge yang tidaklah ada problem untuk didapatkan dikala forced disiplin ini udah terbentuk bersama baik.

Self discipline adalah jenis disiplin yang kedua. Disiplin ini berasal berasal dari diri tiap-tiap yang dibentuk secara konsisten dan melawan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan diri. Ketika kawan sebaya nikmati hari-harinya bersama bermain game dan lain-lain, seseorang yang punyai self discipline, untuk raih prestasi maka bakal lewat masa-masa ketidaknyamanan dan pemberontakan diri dan dikala ditunaikan bersama konsisten serta tetap berkembang, maka hasil yang dikehendaki tinggal menunggu selagi saja.

Jenis disiplin yang ketiga yaitu indisiplin. Adalah pilihan yang paling disukai oleh sifat basic manusia, yaitu malas. Human being is a lazy organism, manusia adalah makhluk yang malas. Masyarakat Indonesia lebih suka pilih jenis disiplin yang ketiga ini, dalam berbagai bidang udah menjadi tradisi penduduk lakukan hal-hal yang berbau indisiplin. Tidak bakal tersedia prestasi seumpama konsisten indisiplin, yang tersedia adalah manusia-manusia konsumtif yang tanpa prestasi apapun.

SBY, Jokowi, hingga Nurbeti yang ahli membuat kerajinan tangan, dikala ditanya bagaimana kunci suksesnya, pasti keliru satunya adalah kepandaian mereka pilih jenis kedisiplinan dan menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari. Seperti budaya bushido yang tersedia di negeri Matahari Terbit yaitu kerja keras, disiplin tingggi, dan pantang menyerah, bakal membuahkan prestasi-prestasi yang luar biasa. Pilihannya tersedia dua yaitu berdisiplin diri atau didisiplinkan oleh orang lain.

Sang juara bridge pasti setuju bersama yang dikatakan Michael angelo bahwa terkecuali kamu menyadari berapa kerasnya saya bekerja untuk memperoleh keahlian saya maka sesungguhnya tidak tersedia yang kudu mereka kagumi. Semua orang sesungguhnya tidak bakal mengagumi sang juara bridge seumpama menyadari bahwa perjuangan menjadi juara yang dilandasi oleh disiplin tidaklah menganggumkan. Sehingga pribadi-pribadi yang biasa-biasa saja pun bakal dapat berprestasi dan menjadi juara bilamana pandai pilih dan memakai jenis disiplin yang dipakai oleh para sang juara.